Mikroplastik Sudah Masuk Darah dan Otak, Ini yang Ilmuwan Ketahui

Mikroplastik kini bukan lagi sekadar persoalan sampah di laut atau tanah. Sejumlah penelitian menunjukkan partikel plastik berukuran sangat kecil itu sudah ditemukan di darah manusia dan sejumlah jaringan tubuh lain.

Temuan ini membuat perhatian ilmuwan bergeser dari pencemaran lingkungan ke risiko kesehatan yang mungkin muncul di dalam tubuh. Meski begitu, dampak jangka panjangnya masih terus diteliti dan belum sepenuhnya dipahami.

Partikel plastik ditemukan di banyak bagian tubuh

Studi yang dipublikasikan peneliti Belanda pada 2022 menjadi penelitian pertama yang berhasil mengukur keberadaan mikroplastik dalam darah manusia. Hasilnya menunjukkan sebagian besar sampel darah mengandung partikel plastik, terutama polyethylene terephthalate atau PET, polyethylene, dan polystyrene.

Sejak itu, laporan serupa juga muncul pada plasenta, air susu ibu atau ASI, cairan serebrospinal yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang, cairan semen, hingga plak pembuluh darah. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa partikel plastik tidak hanya berhenti di saluran pencernaan atau paru-paru.

Bagaimana plastik bisa masuk ke tubuh

Ukuran mikroplastik bahkan lebih kecil daripada sel darah merah, sehingga partikel ini dapat menembus dinding usus setelah tertelan lewat makanan dan minuman. Partikel itu juga bisa masuk melalui paru-paru saat manusia menghirup udara yang mengandung debu plastik.

Setelah berada di aliran darah, partikel tersebut dapat terbawa ke berbagai organ tubuh. Paparan sehari-hari juga datang dari botol plastik yang terkena panas, wadah makanan plastik, dan air minum dalam kemasan yang menurut studi Columbia University pada 2024 mengandung sekitar 240 ribu partikel plastik per liter, sebagian besar nanoplastik.

Sumber PaparanJenis Plastik yang Sering MunculKeterangan
Botol plastik terkena panasPETMelepaskan lebih banyak partikel
Wadah makanan plastik panasPolypropylene dan polystyreneDapat melepaskan partikel saat bersentuhan dengan makanan panas
Air minum dalam kemasanNanoplastikStudi Columbia University menemukan sekitar 240 ribu partikel per liter

Apa yang sudah diketahui soal dampaknya

Para ilmuwan menegaskan bahwa penelitian tentang dampak mikroplastik pada manusia masih berjalan. Namun, sejumlah temuan awal mulai menunjukkan kaitan yang perlu diwaspadai, terutama pada kesehatan pembuluh darah.

Salah satunya datang dari penelitian di Italia pada pasien operasi penyumbatan arteri karotis. Mikroplastik ditemukan pada plak pembuluh darah, dan pasien yang memiliki partikel plastik tersebut tercatat lebih berisiko mengalami serangan jantung, stroke, atau meninggal dibandingkan pasien yang tidak memilikinya.

Meski begitu, peneliti menegaskan temuan itu belum membuktikan mikroplastik sebagai penyebab langsung. www.suara.com juga mencatat bahwa bukti terkuat pada manusia saat ini masih terbatas pada kaitan dengan penyakit kardiovaskular.

Di luar itu, penelitian pada hewan dan kultur sel menunjukkan mikroplastik dapat memicu peradangan kronis, stres oksidatif, gangguan fungsi mitokondria, serta membawa bahan kimia tambahan seperti ftalat, bisfenol, dan PFAS. Zat-zat tersebut diketahui dapat mengganggu sistem hormon manusia.

Adapun dugaan hubungan mikroplastik dengan Alzheimer, Parkinson, gangguan kesuburan, dan gangguan perkembangan anak masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Karena itu, para peneliti kini juga berupaya menyusun metode pengukuran yang lebih seragam sekaligus mencari cara mengurangi paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.

Isu ini membuat plastik tak lagi hanya dibahas sebagai masalah lingkungan. Partikel kecil yang sulit dilihat itu kini masuk ke dalam perbincangan yang lebih besar, yaitu bagaimana tubuh manusia merespons paparan yang terus-menerus terjadi dari makanan, minuman, dan udara.

Source: www.suara.com
Terkait