MSG kerap langsung dicurigai ketika seseorang merasa pusing atau sakit kepala setelah menyantap makanan gurih. Namun, bukti ilmiah yang ada belum menunjukkan hubungan yang konsisten antara konsumsi MSG dalam jumlah normal dan keluhan tersebut pada kebanyakan orang.
Penyedap rasa ini tetap digunakan luas karena mampu memperkuat rasa umami tanpa harus menambahkan banyak garam. Meski demikian, sebagian kecil orang memang dilaporkan dapat merasakan keluhan ringan setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG.
MSG bukan zat asing dalam makanan
Monosodium glutamate atau MSG adalah garam natrium dari asam glutamat, yaitu asam amino yang juga ditemukan secara alami dalam tomat, jamur, keju parmesan, rumput laut, dan daging. Glutamat memberikan rasa umami, yakni sensasi gurih yang membuat cita rasa makanan terasa lebih kuat.
Cleveland Clinic menjelaskan MSG diproduksi melalui fermentasi bahan seperti tebu, bit gula, atau molase. Hasil proses tersebut kemudian digunakan sebagai penyedap dalam berbagai masakan dan produk pangan.
Anggapan bahwa MSG selalu memicu pusing berkaitan dengan istilah Chinese Restaurant Syndrome yang muncul pada akhir 1960-an. Istilah itu berawal dari laporan sejumlah orang yang mengalami keluhan setelah makan di restoran China, lalu memicu banyak penelitian mengenai kemungkinan peran MSG.
Menurut Mayo Clinic, peneliti belum menemukan bukti yang konsisten bahwa MSG menyebabkan sakit kepala, wajah memerah, kesemutan, mual, atau rasa lemas pada sebagian besar orang. Bila reaksi muncul, keluhannya umumnya ringan dan hanya dialami oleh kelompok kecil individu.
| Situasi | Hal yang Diketahui | Langkah yang Dapat Dilakukan |
|---|---|---|
| Konsumsi MSG dalam jumlah normal | Belum ada bukti kuat bahwa kondisi ini memicu pusing pada kebanyakan orang. | Gunakan secukupnya sebagai bagian dari pola makan seimbang. |
| Keluhan setelah makan makanan ber-MSG | Gejala yang dilaporkan dapat berupa sakit kepala, mual, wajah memerah, berkeringat, mati rasa, atau lelah. | Minum air putih, beristirahat, dan amati apakah keluhan membaik. |
| Gejala yang lebih berat | Sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar, atau pembengkakan wajah dan tenggorokan perlu diperhatikan. | Segera mencari pertolongan medis untuk evaluasi lebih lanjut. |
Keluhan hanya dilaporkan pada sebagian kecil orang
Harvard Health Publishing menyebut MSG kemungkinan tidak layak menyandang reputasi sebagai bahan yang berbahaya bagi kebanyakan orang. Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi dalam jumlah kecil sebagai bagian dari makanan tidak menimbulkan dampak negatif bagi mayoritas populasi.
Namun, ada kondisi yang disebut MSG symptom complex pada orang yang sensitif. Kelompok ini diperkirakan kurang dari 1% populasi, dengan keluhan yang biasanya muncul dalam dua jam setelah mengonsumsi makanan mengandung MSG.
Keluhan yang dapat terjadi meliputi sakit kepala, wajah memerah, berkeringat, mual, mati rasa, hingga kelelahan. Gejala tersebut umumnya bersifat sementara dan dapat mereda tanpa penanganan khusus.
health.detik.com juga mengutip ahli saraf Fred Cohen yang menilai bukti ilmiah saat ini belum cukup untuk menyimpulkan MSG sebagai penyebab sakit kepala dalam konsumsi sehari-hari. Dalam beberapa penelitian, keluhan lebih sering terlihat ketika MSG diberikan pada dosis jauh lebih tinggi daripada penggunaan lazim dalam makanan.
Jangan buru-buru menyalahkan MSG
Seseorang yang mengalami pusing setelah makan tidak selalu dapat memastikan MSG sebagai pemicunya. Bila keluhan terjadi berulang setelah menyantap jenis makanan tertentu, mencatat makanan yang dikonsumsi dapat membantu dokter menilai kemungkinan penyebabnya.
Selama gejala ringan berlangsung, menjaga asupan cairan dan beristirahat dapat menjadi langkah awal. Pemeriksaan medis diperlukan bila keluhan tidak membaik, terus berulang, atau disertai tanda yang lebih serius seperti sesak napas dan pembengkakan pada wajah atau tenggorokan.
Tak perlu dihindari, tetapi tetap gunakan sewajarnya
MedlinePlus menyebut MSG sebagai bahan pangan yang secara umum dianggap aman atau generally recognized as safe bila digunakan sesuai kebutuhan. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan batas konsumsi MSG hingga 120 miligram per kilogram berat badan per hari.
Federation of American Societies for Experimental Biology atau FASEB juga menyebut konsumsi hingga sekitar 3 gram per hari masih tergolong aman bagi kebanyakan orang. Jumlah MSG yang digunakan dalam masakan sehari-hari umumnya berada jauh di bawah dosis yang dalam penelitian pernah dikaitkan dengan keluhan pada sebagian kecil individu.
MSG mengandung natrium sekitar sepertiga lebih rendah dibandingkan garam dapur, menurut Harvard Health Publishing. Karena itu, pemakaian MSG yang tepat dapat membantu mempertahankan rasa gurih sambil mengurangi tambahan garam dalam masakan.
Mengolah nasi goreng tetap bisa lebih seimbang
Prinsip penggunaan bumbu secukupnya juga dapat diterapkan saat membuat nasi goreng sehat. Rasa gurih dapat dibangun dengan MSG dalam jumlah wajar tanpa menambahkan garam secara berlebihan.
Pilih nasi merah, nasi cokelat, atau nasi multigrain untuk menambah asupan serat. Jika memakai nasi putih, nasi yang sudah didinginkan dapat digunakan agar teksturnya lebih pulen saat dimasak.
Tambahkan sayuran seperti wortel, buncis, brokoli, jagung, paprika, atau kacang polong agar kandungan serat, vitamin, dan mineral lebih beragam. Sumber protein seperti telur, ayam tanpa kulit, ikan, udang, tahu, atau tempe juga dapat melengkapi menu.
Minyak digunakan secukupnya saat menumis, misalnya minyak kanola atau minyak zaitun, serta tidak dipanaskan hingga berasap. Memilih bahan segar, memperbanyak sayuran, dan mengatur bumbu menjadi cara sederhana untuk menjaga nasi goreng tetap lezat sekaligus lebih seimbang.







