Lansia Diprediksi Capai 65 Juta pada 2045, Risiko Kasus Jantung dan Kanker Naik

Indonesia diperkirakan akan menghadapi lonjakan kebutuhan penanganan penyakit kronis pada 2045. Kementerian Kesehatan memprediksi kasus kanker dan penyakit jantung dapat meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia.

Perubahan komposisi penduduk menjadi perhatian karena kelompok lansia memiliki risiko lebih besar mengalami sejumlah penyakit yang bersifat kronis. Kanker, penyakit jantung, osteoartritis, kanker prostat, dan kanker kolorektal termasuk kondisi yang disorot dalam proyeksi tersebut.

Proporsi Lansia Diproyeksikan Meningkat

Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, dr Yanti Herman, menyebut proporsi penduduk usia lanjut akan meningkat dari 12 persen saat ini menjadi 20 persen pada 2045. Angka tersebut setara dengan sekitar 65 juta penduduk yang didominasi kelompok usia lanjut.

IndikatorSaat IniProyeksi 2045
Proporsi penduduk usia lanjut12 persen20 persen
Jumlah penduduk usia lanjutSekitar 65 juta orang

Menurut dr Yanti, kenaikan jumlah lansia akan berjalan beriringan dengan potensi peningkatan penyakit yang banyak muncul pada usia lanjut. Ia secara khusus menyinggung kanker prostat serta osteoartritis sebagai kondisi yang perlu diantisipasi.

“Berarti sekitar 65 juta penduduk kita di tahun 2045 itu kebanyakan usia lanjut. Bisa diprediksi nggak, penyakit-penyakit kronis salah satunya tadi osteoartrosis, terus cancer-cancer prostat yang ke usia lanjut itu pasti akan meningkat juga,” kata dr Yanti di Jakarta Pusat, Sabtu (18/7/2026).

Ia juga memasukkan kanker kolorektal dan penyakit jantung dalam kelompok penyakit kronis yang berpotensi meningkat. Risiko kanker cenderung bertambah seiring usia karena proses penuaan merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan munculnya berbagai jenis kanker.

Teknologi Bedah Jadi Perhatian Kemenkes

Menghadapi proyeksi tersebut, Kementerian Kesehatan akan terus mendorong dan mendukung rumah sakit di berbagai daerah untuk meningkatkan teknologi alat kesehatan. Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah sistem robotik untuk tindakan bedah.

Teknologi ini dipertimbangkan untuk membantu kebutuhan operasi pada pasien berusia lanjut. Dr Yanti menilai tindakan bedah perlu menggunakan pendekatan yang dapat meminimalkan rasa sakit bagi pasien.

“Salah satunya pakai alat kesehatan yang teknologinya, yang kita pikirkan kan banyak bedah itu ya, yang teknologinya tidak menimbulkan sakit. Kebayang nggak udah usia segitu?” ujarnya.

Selain kenyamanan pasien, presisi tindakan menjadi pertimbangan dalam penggunaan teknologi tersebut. Dr Yanti menjelaskan teknologi robotik memungkinkan sayatan yang lebih kecil dalam prosedur bedah.

Sayatan yang kecil juga dipandang dapat menekan kemungkinan infeksi setelah operasi. Risiko infeksi menjadi perhatian terutama pada pasien yang menjalani bedah terbuka dan kemudian harus kembali mendapatkan penanganan.

“Kemudian yang presisi banget, sayatannya kecil. Terus yang kedua, kemungkinan infeksi kan kadang-kadang pasien kalau sudah dioperasi apalagi bedah terbuka seperti itu, balik lagi karena infeksi,” kata dr Yanti.

Health.detik.com melaporkan, Kemenkes menempatkan penguatan teknologi alat kesehatan sebagai salah satu respons terhadap perubahan kebutuhan layanan seiring meningkatnya populasi lansia. Fokusnya mencakup tindakan yang presisi, dengan luka sayatan kecil dan kemungkinan infeksi yang lebih rendah.

Proyeksi menuju 2045 tersebut menegaskan bahwa peningkatan jumlah lansia akan menjadi faktor penting dalam kebutuhan penanganan kanker dan penyakit jantung. Rumah sakit di seluruh Indonesia didorong untuk terus meningkatkan kesiapan teknologinya dalam menghadapi kebutuhan itu.

Terkait