Dengue Menguras Hampir Rp9 Triliun pada 2026, 3M Plus Dinilai Tak Lagi Cukup

Dengue diperkirakan menimbulkan beban ekonomi hampir Rp9 triliun di Indonesia sepanjang 2024. Angka ini tidak hanya mencakup ongkos pengobatan, tetapi juga pengeluaran keluarga dan hilangnya waktu produktif.

Besarnya dampak tersebut membuat pendekatan pencegahan dinilai perlu diperluas. Pengendalian sarang nyamuk melalui 3M Plus tetap penting, namun para ahli mendorong langkah yang lebih komprehensif.

Beban Tidak Berhenti di Rumah Sakit

Studi Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan FK-KMK Universitas Gadjah Mada memperkirakan total beban ekonomi akibat dengue mencapai USD550,9 juta pada 2024. Nilai itu setara hampir Rp9 triliun dan terjadi ketika jumlah rawat inap akibat dengue diperkirakan melampaui 2 juta kasus.

Data yang dikutip www.suara.com menunjukkan kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional belum sepenuhnya menghapus beban pengeluaran pasien. Biaya nonmedis, seperti transportasi dan akomodasi pendamping, tetap harus ditanggung oleh banyak keluarga.

Kelompok pasienBiaya mandiri rata-rataKomponen utama
Peserta JKNRp1,1 juta–Rp1,3 jutaKebutuhan nonmedis, termasuk transportasi dan akomodasi pendamping
Tanpa asuransiRp4,3 juta–Rp5,6 jutaBiaya pengobatan yang dibayar sendiri

Peneliti UGM Dr. Diah Ayu Puspandari, M.Kes., MBA., Apt., menyebut pasien peserta JKN masih menghadapi biaya mandiri untuk kebutuhan di luar layanan medis. Pada pasien tanpa asuransi, pengeluaran lebih tinggi karena biaya pengobatan harus ditanggung secara pribadi.

Produktivitas Keluarga Ikut Terganggu

Kerugian dengue juga muncul ketika pasien dan anggota keluarga harus berhenti bekerja selama perawatan serta pemulihan. Studi UGM memperkirakan kehilangan produktivitas pada kelompok peserta JKN mencapai sekitar Rp1,81 triliun sepanjang 2024, sedangkan kelompok non-JKN sekitar Rp755 miliar.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), menilai dampak ini kerap tidak terlihat dalam hitungan biaya perawatan. Anak yang dirawat membuat orang tua perlu mendampingi, sementara sakitnya orang tua dapat memindahkan tanggung jawab rumah tangga kepada anggota keluarga lain.

“Selain biaya perawatan dan pengobatan, dampak lain yang tidak tampak adalah terganggunya produktivitas, apalagi pemulihan dari infeksi dengue membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu,” ujar Prof. Sri. Kondisi tersebut dapat membuat dampak penyakit terasa lebih panjang daripada masa rawat inap.

Pencegahan Dinilai Perlu Lebih Menyeluruh

Prof. Sri menyatakan pengendalian dengue tidak dapat hanya bergantung pada satu atau dua langkah pencegahan konvensional. Upaya yang diperlukan mencakup pengendalian vektor nyamuk, penguatan diagnosis dini di fasilitas kesehatan, serta intervensi medis inovatif seperti vaksinasi.

“Menghadapi ancaman penyakit dengue yang begitu berat dan meluas, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan satu atau dua upaya pencegahan konvensional seperti 3M Plus,” kata Prof. Sri. Ia menekankan perlunya pendekatan komprehensif untuk menghadapi penularan yang dapat berlangsung sepanjang tahun di negara beriklim tropis.

Salah satu pendekatan yang dikaji adalah vaksinasi dengue melalui pemodelan ekonomi kesehatan. Prof. Dr. Jarir At Thobari, D.Pharm., Ph.D., dari FK-KMK UGM memaparkan kajian itu pada 9th Asia Dengue Summit 2026 di Singapura.

Proyeksi vaksinasi selama 20 tahunPotensi dampak
Beban penyakitBerkurang 1,1–1,3 juta DALY
Biaya masyarakatPenghematan USD329–731 juta atau sekitar Rp5,2–11,5 triliun
Indikator kesehatanPenurunan kasus bergejala, rawat inap, dan kematian akibat dengue

Menurut Prof. Jarir, manfaat ekonomi dari vaksinasi dengue dalam pemodelan tersebut turut memperhitungkan biaya yang ditanggung keluarga, kehilangan produktivitas, dan dampak ekonomi lain. Proyeksi ini menggambarkan potensi manfaat dari perspektif masyarakat dalam periode 20 tahun.

Temuan mengenai beban penyakit dan opsi pencegahan itu dibahas dalam Jakarta Dengue Forum yang digelar PT Takeda Innovative Medicines bersama IDAI Cabang DKI Jakarta. Forum tersebut dihadiri lebih dari 300 tenaga kesehatan dan menjadi ruang pembaruan pengetahuan serta penguatan kolaborasi pencegahan dengue.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines Andreas Gutknecht mengatakan pencegahan membutuhkan keterlibatan pemerintah, organisasi profesi, tenaga kesehatan, pendidikan, media, dan masyarakat. Perusahaan menyatakan komitmennya dilakukan melalui edukasi berkelanjutan serta dukungan untuk memperluas akses pencegahan dengue yang inovatif.

Source: www.suara.com
Terkait