Hyrox dan CrossFit sama-sama memadukan kekuatan, daya tahan, serta gerakan fungsional berintensitas tinggi. Namun, keduanya menuntut persiapan yang berbeda karena format kompetisi, kebutuhan energi, hingga strategi nutrisi tidak sama.
Hyrox menjadi perhatian setelah kompetisi kebugaran ini digelar di Indonesia dan menarik minat pencinta olahraga. Banyak yang menganggapnya serupa dengan CrossFit, padahal Hyrox lebih dekat dengan balap kebugaran yang rutenya sudah dapat diprediksi.
Dalam Hyrox, peserta menyelesaikan rangkaian lari dan latihan fungsional secepat mungkin. CrossFit, sebaliknya, menguji kebugaran melalui tantangan yang sangat beragam dan dapat berubah dari satu kompetisi ke kompetisi lain.
| Aspek | Hyrox | CrossFit |
|---|---|---|
| Konsep kompetisi | Balap kebugaran dengan rangkaian yang telah ditentukan | Olahraga kebugaran dengan tantangan beragam |
| Fokus fisik | Pengondisian fisik dan daya tahan aerobik | Kekuatan, keterampilan, dan daya tahan berintensitas tinggi |
| Pola latihan | Lebih spesifik pada kebutuhan lomba | Lebih bervariasi untuk menghadapi tantangan tak terduga |
| Nutrisi saat lomba | Karbohidrat dapat dikonsumsi selama perlombaan | Lebih berfokus pada asupan sebelum dan setelah sesi |
1. Sistem energi yang digunakan
Perbedaan paling mendasar terlihat dari cara tubuh menghasilkan energi saat berlatih atau bertanding. Menurut ilmuwan olahraga Gommaar D’Hulst yang dikutip health.detik.com, CrossFit lebih sering melibatkan aktivitas singkat dengan intensitas sangat tinggi.
Gerakan seperti muscle-up dan deadlift satu repetisi maksimal mengandalkan sistem kreatin fosfat. Latihan berdurasi sekitar 10 menit juga lebih banyak menggunakan jalur glikolisis yang berkaitan dengan kerja anaerob.
Hyrox lebih menekankan conditioning atau pengondisian fisik dalam durasi yang lebih panjang. Tubuh lebih banyak memanfaatkan kombinasi oksidasi lemak dan glukosa melalui sistem aerobik.
D’Hulst menjelaskan bahwa atlet CrossFit elite tidak selalu memiliki kapasitas aerobik yang sangat tinggi. Kondisi ini dapat membuat tubuh lebih cepat beralih ke sistem anaerob, meningkatkan produksi laktat, lalu mempercepat kelelahan.
Atlet Hyrox dengan kondisi fisik yang ideal dapat bertahan lebih lama menggunakan sistem aerobik. Mereka cenderung menghasilkan laktat lebih sedikit sebelum kelelahan muncul.
2. Karakteristik fisik atlet
Postur tubuh juga dapat memberi keuntungan berbeda pada masing-masing olahraga. Dalam penelitian terhadap 60 atlet CrossFit elite, rata-rata tinggi badan atlet berada di sekitar 176 sentimeter.
Panjang lengan, paha, serta tubuh bagian inti dilaporkan memiliki kaitan dengan performa mereka. D’Hulst menyebut panjang tubuh bagian inti dan lengan berkontribusi sekitar 28 persen terhadap performa dalam kompetisi CrossFit Open.
Di Hyrox, atlet papan atas cenderung memiliki postur lebih tinggi, sekitar 5,5 sentimeter dibandingkan atlet CrossFit elite. Postur tersebut dinilai memberi keuntungan biomekanik pada sled push, wall balls, walking lunges, rowing, dan lari.
3. Program latihan
Format Hyrox yang sudah diketahui membuat program latihan lebih mudah diarahkan. Peserta dapat berlatih dengan gerakan yang memang muncul di perlombaan, kemudian menyusunnya dalam interval, EMOM, atau AMRAP berdurasi lebih panjang.
Atlet Hyrox juga umumnya menghabiskan lebih banyak waktu pada latihan zona 2. Intensitas rendah hingga sedang dalam durasi panjang ini digunakan untuk membangun daya tahan aerobik.
Program CrossFit lebih kompleks karena atlet perlu siap menghadapi unsur yang dikenal maupun tidak terduga. Latihan kekuatan dan daya tahan sering saling tumpang tindih, sementara latihan lebih sering berada pada zona intensitas tinggi, yakni zona 4 dan 5.
4. Strategi nutrisi
Durasi perlombaan Hyrox sekitar 60 hingga 90 menit membuat cadangan glikogen menjadi sangat penting. Glikogen adalah bentuk simpanan glukosa di hati dan otot yang dipakai tubuh sebagai bahan bakar.
D’Hulst menyarankan konsumsi karbohidrat selama Hyrox bagi peserta yang sistem pencernaannya telah terbiasa. Asupannya dapat mencapai 60 hingga 90 gram kombinasi glukosa dan fruktosa, bergantung pada toleransi pencernaan masing-masing.
Kompetisi atau sesi CrossFit umumnya lebih singkat sehingga atlet tidak memungkinkan makan di tengah latihan. Karena itu, strategi nutrisi lebih berfokus pada asupan sebelum latihan untuk mendukung energi dan sesudah latihan untuk membantu pemulihan.
Bagi yang ingin mencoba Hyrox, persiapan dapat dipusatkan pada rangkaian lari, latihan fungsional, daya tahan aerobik, serta pemenuhan karbohidrat. Sementara calon atlet CrossFit perlu membangun kemampuan yang lebih luas agar siap menghadapi variasi tantangan yang berubah-ubah.
