Vaksin HPV dinilai paling efektif diberikan sejak usia 9 hingga 12 tahun, saat seseorang belum berisiko terpapar virus penyebab kanker serviks. Perlindungan tetap dapat diperoleh pada usia dewasa, tetapi efektivitasnya cenderung lebih rendah dibandingkan ketika vaksin diberikan lebih dini.
Pesan ini penting di tengah tingginya beban kanker serviks di Indonesia. Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 mencatat 36.964 kasus baru kanker serviks di Indonesia, menjadikannya kanker terbanyak kedua pada perempuan setelah kanker payudara.
Perlindungan Terbaik Sebelum Terpapar HPV
Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre Singapura, Dr. See Hui Ti, menyebut vaksinasi sebagai langkah pencegahan paling efektif untuk menurunkan risiko kanker serviks. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa vaksin HPV sebaiknya tidak ditunda sampai seseorang memasuki usia dewasa.
“Untuk kanker serviks, cukup lakukan vaksinasi saja, sesederhana itu. Tidak ada cara lain yang efektif. Hanya vaksinasi saja,” kata Dr. See dalam Exclusive Media Roundtable & Interview di Jakarta pada Kamis (16/07).
Menurut Dr. See, usia muda memberi keuntungan karena sistem kekebalan tubuh mampu membentuk memori imun yang lebih kuat dan bertahan lebih lama. Ketika tubuh kelak terpapar HPV, sel-sel darah putih dapat merespons virus lebih cepat karena telah menyimpan memori terhadapnya.
Perlindungan tersebut menjadi alasan vaksin HPV dianjurkan sejak anak-anak, terutama sebelum ada kemungkinan paparan virus. Cakupan vaksinasi yang tinggi pada anak perempuan juga disebut dapat mengurangi kebutuhan skrining pada masa depan.
Target Eliminasi Kanker Serviks
Upaya pencegahan tidak berhenti pada pemberian vaksin HPV kepada anak perempuan. World Health Organization atau WHO menetapkan strategi 90-70-90 untuk mendorong eliminasi kanker serviks melalui vaksinasi, skrining, dan penanganan yang tepat.
| Target | Sasaran | Waktu atau Cakupan |
|---|---|---|
| 90% | Anak perempuan menerima vaksin HPV | Sebelum usia 15 tahun |
| 70% | Perempuan menjalani skrining | Pada usia 35 dan 45 tahun |
| 90% | Perempuan dengan lesi pra-kanker atau kanker mendapat penanganan | Sesuai kebutuhan |
Strategi WHO 90-70-90 menunjukkan bahwa vaksinasi dan skrining memiliki peran yang saling melengkapi. Vaksin membantu mencegah infeksi HPV, sedangkan skrining bertujuan menemukan perubahan pra-kanker atau kanker agar dapat ditangani secara tepat.
Dr. See juga menyoroti bahwa vaksin HPV tidak hanya relevan bagi anak perempuan. Anak laki-laki juga dapat memperoleh manfaat karena HPV berkaitan dengan penyakit lain, termasuk kanker anus pada laki-laki.
Vaksinasi pada anak laki-laki turut membantu menekan penyebaran HPV di masyarakat. Dengan demikian, perlindungan yang terbentuk tidak hanya bersifat individual, tetapi juga dapat ikut mengurangi risiko paparan virus pada perempuan.
Orang Dewasa Masih Bisa Mempertimbangkan Vaksin
Orang dewasa yang belum pernah menerima vaksin HPV masih dapat memperoleh manfaat, meski hasil perlindungannya tidak setinggi pada kelompok usia muda. Dr. See menyatakan vaksin masih dapat dipertimbangkan hingga usia 45 tahun, bahkan pada usia 50 atau 60 tahun dalam kondisi tertentu.
Contohnya, perempuan berusia 60 tahun yang belum pernah berhubungan seksual dan akan menikah tetap dapat mempertimbangkan vaksinasi. Namun, keputusan tersebut perlu dipahami dalam konteks bahwa respons vaksin pada usia lebih tua cenderung lebih rendah.
Risiko infeksi HPV juga tidak otomatis hilang saat seseorang memasuki usia lanjut. Seiring pertambahan usia, kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk membersihkan infeksi HPV dapat menurun.
Kondisi itu membuat kanker ginekologi yang berkaitan dengan HPV, seperti kanker vulva, kanker vagina, dan kanker serviks, tetap dapat terjadi bahkan setelah usia 70 tahun. health.kompas.com melaporkan adanya contoh laporan dari Amerika Serikat yang menemukan sedikit peningkatan kasus kanker terkait HPV pada perempuan berusia 70 hingga 80 tahun.
Salah satu faktor yang disebutkan adalah kemungkinan sebagian perempuan tetap aktif secara seksual dengan pasangan baru pada usia lanjut. Situasi tersebut berarti peluang terpapar HPV tetap ada, sehingga pembahasan vaksinasi dan skrining tidak hanya relevan bagi kelompok usia muda.
