Seorang remaja perempuan berusia 18 tahun asal Republik Demokratik Kongo menjalani operasi rekonstruksi kompleks setelah terlahir tanpa serviks dan saluran vagina. Tim dokter di Max Hospital, Gurugram, India, berupaya membangun kembali jalur reproduksi sekaligus mempertahankan fungsi rahim pasien.
Kondisi bawaan ini membuat pasien tidak pernah mengalami menstruasi, meski ovarium dan rahimnya berfungsi normal. Darah menstruasi yang tidak memiliki jalan keluar menumpuk di dalam rahim dan memicu nyeri panggul kronis setiap bulan.
Diagnosis Datang Setelah Sejumlah Operasi Gagal
Sebelum mendapat penanganan di India, pasien sempat menjalani empat operasi perut di negara asalnya. Prosedur tersebut dilakukan karena diagnosis yang keliru, termasuk operasi usus buntu dan hernia.
Operasi-operasi sebelumnya tidak menyelesaikan sumber keluhan nyeri yang dialaminya. Pasien juga memiliki sejumlah bekas luka keloid pada perut akibat tindakan bedah tersebut.
Keluarganya kemudian membawa pasien ke India untuk mencari penjelasan atas keluhan yang terus berulang. Di sana, tim medis memastikan pasien mengalami agenesia servikovaginal, yaitu kelainan bawaan ketika serviks dan vagina tidak terbentuk.
| Tahap Penanganan | Waktu | Temuan atau Hasil |
|---|---|---|
| Pulang setelah operasi | Hari ke-8 | Pasien diizinkan pulang dengan pemantauan medis |
| Pemeriksaan lanjutan | Hari ke-18 | Ditemukan infeksi ringan dan sedikit cairan di dekat area operasi |
| Pemulihan anatomi | Tiga minggu setelah operasi | Bentuk anatomi organ reproduksi dilaporkan pulih sangat baik |
Membangun Jalur Baru untuk Darah Menstruasi
Dokter melakukan prosedur serviko-vaginoplasti untuk membuat vagina baru atau neovagina serta merekonstruksi leher rahim. Rekonstruksi ini bertujuan menyambungkan kembali saluran yang diperlukan antara rahim bagian atas dengan jalur vagina.
Kasus tersebut dinilai rumit karena pasien memiliki rahim dan ovarium yang tetap berfungsi, tetapi tidak memiliki serviks dan vagina sejak lahir. Penanganan tidak hanya diarahkan untuk meredakan rasa sakit, melainkan juga menjaga fungsi rahim yang ada.
Direktur Senior sekaligus Kepala Unit Obstetri dan Ginekologi Max Hospital, dr Suman Lal, menjelaskan tantangan utama dalam prosedur tersebut. “Ini adalah kasus yang sangat menantang karena pasien memiliki rahim dan ovarium yang berfungsi normal tetapi dilahirkan tanpa serviks dan vagina,” ujar dr Lal, seperti dikutip health.detik.com dari Times of India.
Menurut dr Lal, tujuan operasi mencakup rekonstruksi saluran reproduksi tanpa mengabaikan kondisi rahim pasien. “Tujuan kami bukan hanya mengurangi rasa sakitnya, tetapi juga merekonstruksi saluran reproduksi sambil mempertahankan fungsi rahim,” sambungnya.
Infeksi Ringan Ditangani Cepat
Pemantauan pascaoperasi dilakukan secara ketat setelah pasien meninggalkan rumah sakit pada hari kedelapan. Ia kembali menjalani pemeriksaan terencana dengan anestesi pada hari ke-18 setelah operasi.
Pemeriksaan itu menemukan infeksi ringan dan sedikit cairan di dekat lokasi tindakan. Tim medis segera memberikan antibiotik yang sesuai, dan pasien dinyatakan pulih dari komplikasi tersebut pada hari berikutnya.
Dalam tiga minggu setelah operasi, anatomi organ reproduksi pasien dilaporkan telah pulih dengan sangat baik. Hasil ini menjadi bagian penting dari pemulihan pasien setelah bertahun-tahun menghadapi nyeri bulanan tanpa menstruasi.
Nyeri Bulanan Tanpa Menstruasi Perlu Diperiksa
dr Lal mengingatkan orang tua untuk tidak mengabaikan kondisi anak perempuan yang sudah memasuki pubertas, tetapi belum mengalami menstruasi saat perkembangan seksual fisiknya berlangsung normal. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mencari kemungkinan adanya kelainan bawaan pada saluran reproduksi.
Nyeri perut atau panggul yang muncul setiap bulan tanpa disertai menstruasi juga perlu mendapat perhatian. Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan hambatan aliran darah menstruasi akibat anomali saluran reproduksi bawaan.
