Daftar 9 Negara dengan Jam Kerja Terpendek pada 2025: Fakta & Data Terbaru

Beberapa negara di dunia pada tahun 2025 tercatat memiliki jam kerja mingguan yang jauh lebih pendek dibandingkan rata-rata global, tanpa mengorbankan produktivitas dan kesejahteraan pekerjanya. Berdasarkan data yang dirilis oleh Autonomy Institute pada 2021 dan diperkirakan tetap relevan pada 2025, terdapat sembilan negara dengan jam kerja terpendek yang menjadi contoh ideal dalam mengelola keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Yaman: Negara dengan Jam Kerja Terpendek

Di urutan pertama adalah Yaman, dengan rata-rata jam kerja mingguan hanya 25,9 jam. Sebagian besar pekerjaan di negara ini berakar pada sektor pertanian dan ekonomi informal, yang juga dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi di kawasan tersebut. Meskipun jam kerjanya terpendek, fokus utama Yaman tetap pada kesejahteraan dan keseimbangan kehidupan kerja masyarakatnya.

Negara-negara Eropa dengan Kebijakan Kerja Fleksibel

Belanda menempati posisi kedua dengan rata-rata 26,8 jam kerja per minggu. Negara ini dikenal unggul dalam memberikan fleksibilitas kerja dan mempromosikan pekerjaan paruh waktu terutama bagi perempuan, yang berkontribusi pada kebahagiaan dan produktivitas tenaga kerjanya.

Norwegia dan Austria juga masuk dalam daftar dengan rata-rata jam kerja mingguan masing-masing 27,1 jam dan 28,4 jam. Di kedua negara tersebut, kebijakan ketenagakerjaan yang progresif dan sistem jaminan sosial yang kuat mendukung kesejahteraan pekerja dan menyediakan waktu cukup untuk kehidupan pribadi.

Denmark dan Finlandia: Contoh Keseimbangan Kerja dan Keluarga

Denmark dan Finlandia memiliki rata-rata jam kerja mingguan 28,8 jam, menempatkan keduanya di peringkat kelima dan keenam. Budaya kerja di Denmark menekankan kepercayaan dan fleksibilitas, yang diperkaya dengan kebijakan pembagian kerja serta dukungan untuk keluarga. Finlandia dikenal dengan perlindungan pekerjanya serta penekanan pada kesetaraan gender dalam dunia kerja, memastikan bahwa pria dan wanita memiliki jam kerja yang seimbang.

Vanuatu dan Mozambik: Jam Kerja Singkat di Negara Berkembang

Negara-negara berkembang seperti Vanuatu dan Mozambik juga tercatat memiliki jam kerja yang relatif pendek, yakni sekitar 29 jam per minggu. Di kedua negara ini, sektor pertanian dan pariwisata menjadi sumber utama pekerjaan. Selain itu, keterlibatan komunitas dan keluarga dalam aktivitas sosial turut memengaruhi pola kerja yang lebih santai namun tetap produktif sesuai kebutuhan ekonomi yang ada.

Swedia: Model Ketenagakerjaan Progresif

Swedia menjadi negara terakhir dalam daftar ini dengan rata-rata jam kerja mingguan 29,3 jam. Negara Skandinavia ini dikenal luas dengan dukungan kuat terhadap cuti orang tua, kebijakan liburan yang fleksibel, serta orientasi kuat pada kesetaraan gender dalam lingkungan kerja. Hal ini membuat Swedia menjadi contoh penting dalam mengadopsi standar kerja berkelanjutan yang mengutamakan keseimbangan hidup.

Faktor-faktor Pendukung Jam Kerja Pendek

Kesuksesan negara-negara ini dalam menerapkan jam kerja yang singkat tidak terlepas dari beberapa faktor kunci. Kebijakan pemerintah yang mendukung fleksibilitas kerja, izin liburan yang memadai, serta sistem tunjangan sosial yang menyeluruh menjadi pondasi utama. Di Eropa, undang-undang ketenagakerjaan secara ketat mengatur durasi kerja sehingga mendorong waktu bagi keluarga dan aktivitas pribadi.

Sementara itu, pendekatan yang berbeda terlihat pada Yaman, di mana kondisi ekonomi dan sosial turut menentukan pola kerja yang unik. Keberagaman ini mencerminkan betapa budaya kerja dan kebutuhan nasional memiliki peranan penting dalam menentukan jam kerja ideal suatu negara.

Menarik untuk dicermati bahwa jam kerja yang lebih singkat bukan hanya soal mengurangi durasi kerja, tetapi juga bagaimana negara-negara tersebut mampu menjaga produktivitas dan kesejahteraan penduduknya secara seimbang. Tren ini memberikan gambaran baru dalam dunia ketenagakerjaan modern yang dapat menjadi inspirasi bagi negara lain dalam merancang sistem kerja yang lebih manusiawi dan efisien di masa depan.

Exit mobile version