Alergi Makanan Anak: Kapan Harus Khawatir? Panduan Lengkap dari Dokter Ahli

Alergi makanan pada anak sering kali menjadi kekhawatiran orang tua, terutama ketika muncul gejala bentol atau urtikaria di kulit. Namun, dokter spesialis anak Dr. Endah Citraresmi, Sp.A, Subsp.A.Im (K) menegaskan bahwa tidak semua bentol pada anak disebabkan oleh alergi makanan. Menurutnya, bentol yang muncul akibat alergi makanan biasanya terjadi kurang dari satu jam setelah mengonsumsi makanan tertentu, dan gejala akan hilang jika paparan makanan pemicu dihentikan.

Gejala Alergi Makanan pada Anak

Urtikaria atau bentol-bentol yang muncul secara tiba-tiba dalam waktu singkat setelah makan bisa menjadi tanda alergi makanan. Namun, jika bentol tersebut berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, kemungkinan besar bukan disebabkan oleh alergi makanan. Dr. Endah menjelaskan, "Kalau bentolnya sudah berhari-hari, berminggu-minggu, jangan pikirkan alergi makanan."

Selain bentol, reaksi alergi makanan bisa beragam mulai dari gatal-gatal ringan hingga reaksi serius seperti anafilaksis. Oleh karena itu, penting sekali mengenali pola kemunculan gejala agar penanganan bisa tepat.

Diagnosis Alergi Makanan

Proses diagnosis alergi makanan harus melalui langkah-langkah yang hati-hati. Dr. Endah menyatakan bahwa hal pertama yang diperhatikan adalah riwayat reaksi anak setelah mengonsumsi makanan tertentu. Selanjutnya, alergi makanan diklasifikasikan menjadi dua tipe:

  1. Tipe cepat (IgE-mediasi): Reaksi yang muncul dalam hitungan menit hingga jam setelah mengonsumsi makanan. Diagnosis dapat dilakukan dengan tes skin prick test atau pemeriksaan darah IgE spesifik makanan.

  2. Tipe lambat (non-IgE atau SLT-mediasi): Reaksi yang muncul setelah jangka waktu lebih lama dan tidak bisa dideteksi dengan tes IgE atau skin prick test. Pada tipe ini, dokter akan melakukan tes provokasi makanan secara terstruktur dan diawasi ketat.

Penggunaan tes alergi yang sesuai sangat penting untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan menghindari penanganan tidak tepat.

Tata Laksana dan Pencegahan

Setelah diagnosis alergi makanan ditegakkan, penanganan dibagi menjadi dua tahap utama:

  1. Mengatasi reaksi akut jika anak terpapar allergen.
  2. Menghindari makanan penyebab alergi agar reaksi tidak berulang.

Selain itu, mengganti zat gizi adalah hal yang sangat penting agar asupan nutrisi anak tidak terganggu meski harus menghindari makanan tertentu. Dr. Endah mengingatkan pentingnya konsultasi dengan ahli gizi dan membaca label makanan dengan cermat. Karena di Indonesia, regulasi pelabelan makanan yang mengandung alergen masih belum ketat, orang tua harus ekstra hati-hati.

Risiko kontaminasi silang juga perlu diperhatikan terutama ketika makan di luar rumah. Makanan yang tampak aman bisa saja terpapar alergen lain saat proses pengolahan.

Pemantauan Pertumbuhan Anak

Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak yang memiliki alergi makanan merupakan bagian penting dalam tata laksana. Gangguan pertumbuhan bisa terjadi akibat dua faktor utama:

  1. Reaksi alergi yang memengaruhi kondisi kesehatan anak secara umum.
  2. Asupan gizi tidak mencukupi karena penghindaran makanan tanpa pengganti yang tepat.

Dengan dukungan pengobatan yang sesuai dan pemahaman orang tua, anak dengan alergi makanan tetap dapat tumbuh dengan optimal dan menjalani kehidupan yang sehat.

Alergi makanan pada anak memerlukan perhatian khusus agar tidak terjadi komplikasi serius. Oleh sebab itu, konsultasi ke dokter anak atau alergi dan pemantauan teratur sangat dianjurkan untuk memastikan anak mendapatkan penanganan yang tepat dan nutrisi cukup. Informasi dan edukasi bagi orang tua juga sangat penting dalam mencegah risiko alergi makanan dan menjaga kesehatan anak secara menyeluruh.

Exit mobile version