Mata merah merupakan keluhan umum yang sering dialami, namun kondisi ini tidak boleh dianggap enteng apabila disebabkan oleh uveitis, yaitu peradangan pada lapisan tengah mata yang berisiko menyebabkan gangguan penglihatan serius hingga kebutaan. Uveitis kerap luput dari perhatian karena gejalanya mirip dengan infeksi mata biasa, sehingga memerlukan kewaspadaan khusus dan pemeriksaan medis segera.
Definisi dan Jenis Uveitis
Uveitis adalah inflamasi pada uvea, lapisan tengah mata yang meliputi iris, badan siliaris, dan koroid. Lapisan ini berperan penting dalam proses penglihatan karena berhubungan langsung dengan retina dan memengaruhi transmisi sinyal cahaya ke otak. Gangguan pada uvea berisiko mengganggu fungsi mata secara keseluruhan.
Uveitis terbagi menjadi empat jenis berdasarkan lokasi peradangan:
- Anterior: peradangan pada bagian depan uvea.
- Intermediate: peradangan pada bagian tengah uvea.
- Posterior: peradangan pada bagian belakang uvea.
- Panuveitis: peradangan menyeluruh di bagian depan dan belakang uvea.
Gejala Uveitis yang Harus Diwaspadai
Beberapa gejala uveitis yang umum dijumpai antara lain mata merah disertai nyeri, penglihatan kabur atau berbayang, munculnya floaters berupa bintik atau bayangan yang melayang di lapang pandang, serta fotofobia atau sensitivitas berlebihan terhadap cahaya. Gejala ini merupakan tanda alarm yang menuntut penanganan medis segera untuk mencegah kerusakan mata yang lebih parah.
Menurut Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, dokter spesialis infeksi dan imunologi mata dari JEC Eye Hospitals, uveitis bukan peradangan biasa dan sering kali tidak menunjukkan gejala awal yang mencolok. Akibatnya, pasien terlambat mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat, sehingga risiko komplikasi meningkat.
Dampak dan Risiko Uveitis
Uveitis dapat menyerang semua kelompok usia, tetapi lebih sering dialami oleh usia produktif antara 20 hingga 60 tahun. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, peradangan ini dapat memicu komplikasi serius seperti katarak, glaukoma, dan kerusakan permanen pada retina. Di negara berkembang, uveitis diperkirakan menyumbang sekitar 25% dari total kasus kebutaan.
Penyebab utama uveitis bervariasi, mulai dari infeksi virus dan bakteri, trauma fisik pada mata, hingga reaksi autoimun. Di Indonesia, dua faktor penyebab dominan adalah infeksi sistemik seperti tuberkulosis dan toksoplasma serta gangguan autoimun seperti lupus dan sindrom Sjogren. Studi menunjukkan bahwa sekitar 48-70% kasus uveitis termasuk idiopatik, artinya penyebab pastinya belum diketahui.
Prosedur Diagnosis dan Pilihan Pengobatan
Pemeriksaan uveitis diawali dengan evaluasi oftalmologi lengkap menggunakan alat slit-lamp yang mendeteksi peradangan di berbagai bagian mata. Tes tambahan seperti imaging mata dan tes darah diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab spesifik, apakah infeksi, autoimun, atau trauma.
Penanganan uveitis dipilih berdasarkan tingkat keparahan dan penyebabnya, meliputi:
- Tetes mata kortikosteroid sebagai terapi lini pertama untuk mengurangi peradangan secara cepat.
- Cycloplegics atau tetes mata pelebar pupil, berfungsi mengurangi nyeri dan mencegah jaringan parut.
- Kortikosteroid oral atau injeksi untuk kasus uveitis berat, terutama jika melibatkan peradangan sistemik.
- Imunosupresan seperti methotrexate atau obat biologis pada kasus kronis atau disebabkan gangguan autoimun.
- Antibiotik, antivirus, dan antijamur diberikan jika infeksi menjadi penyebab peradangan.
Dr. Eka menekankan pentingnya diagnosis yang akurat dan pendekatan terapi multidisiplin agar peradangan dapat dikendalikan jangka panjang dan komplikasi dapat dihindari.
Pengawasan dan Pencegahan
Penting bagi masyarakat untuk tidak mengabaikan keluhan mata merah yang disertai nyeri atau gangguan penglihatan, dan segera mencari konsultasi ke dokter mata. Pengawasan medis yang rutin diperlukan terutama bagi penderita penyakit sistemik yang berisiko tinggi mengalami uveitis.
Deteksi dini serta pengobatan yang tepat menjadi kunci utama untuk melindungi fungsi penglihatan dan mencegah kebutaan akibat uveitis. Edukasi publik tentang gejala dan risiko uveitis juga perlu digencarkan agar kondisi ini tidak terdiagnosis terlambat dan terus menjadi ancaman bagi kesehatan mata di Indonesia.
