Donor darah merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam penyelamatan nyawa, namun manfaatnya masih kurang maksimal terutama jika dilakukan tanpa didukung oleh peralatan yang memadai. Kegiatan sosial yang diselenggarakan oleh PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK) dalam rangka memperingati Hari Palang Merah Indonesia (PMI) memberikan gambaran nyata bahwa keberhasilan donor darah sangat tergantung pada sarana dan edukasi yang tepat.
Peran Peralatan Pendukung dalam Donor Darah
CHEK sebagai perusahaan yang bergerak di bidang produksi alat kesehatan, terutama untuk laboratorium dan unit transfusi darah, menyediakan berbagai peralatan penting seperti centrifuge, refrigerator, freezer blood bank, dan alat skrining infeksi. Peralatan ini merupakan komponen krusial yang menjamin kualitas dan keamanan darah yang didonorkan. Tanpa alat-alat tersebut, manfaat dari kegiatan donor darah menjadi kurang maksimal karena darah yang diperoleh tidak dapat disimpan dan diproses dengan standar yang sesuai.
Menurut Ketua PMI DKI Jakarta, Beky Mardani, kebutuhan darah di wilayah Jakarta mencapai sekitar 1.200 kantong setiap hari. Ketersediaan darah yang cukup dan berkualitas hanya dapat terwujud jika ada dukungan teknologi memadai. Kegiatan donor darah yang hanya mengandalkan proses manual tanpa peralatan terbaik pada akhirnya akan menghambat pemenuhan kebutuhan tersebut dan berpotensi menurunkan mutu darah yang diterima rumah sakit dan pasien.
Pentingnya Edukasi Berkelanjutan dan Pemahaman Manfaat Donor Darah
Selain peralatan, edukasi berulang kepada masyarakat juga menjadi kunci untuk meningkatkan jumlah pendonor darah. Ketua Umum Persatuan Dokter Transfusi Darah Indonesia (PDTDI), Dr. Robby Nur Aditya, M.Si, menekankan bahwa masyarakat harus paham secara jelas manfaat dari donor darah. Ketidaktahuan dan tersebarnya informasi yang keliru kerap menjadi penghambat utama bagi peningkatan jumlah pendonor. Saat ini, kebutuhan nasional untuk pendonor darah masih sekitar 2% dari populasi, dengan distribusi donor darah yang sangat terpusat di Pulau Jawa, yakni sekitar 60%. Hal ini menunjukkan perlunya perluasan jangkauan edukasi dan donor darah ke daerah-daerah lain.
Efisiensi dan Manfaat Kegiatan Donor Darah di Tempat Kerja
Salah satu inovasi yang dianggap berhasil adalah pelaksanaan donor darah di tempat kerja. Kepala Unit Transfusi Darah RS Cipto Mangunkusumo, Dr. Elida Marpaung, M. Biomed, menyatakan bahwa metode ini sangat efisien karena memungkinkan karyawan melakukan donor darah tanpa mengganggu aktivitas pekerjaan mereka. Dengan sistem yang terorganisir, proses ini dapat mempercepat peningkatan stok darah sekaligus menanamkan budaya donor darah secara berkelanjutan.
Dukungan Pemerintah dan Regulasi Pendukung
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia turut memberikan dukungan melalui berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023, yang fokus pada pengembangan pelayanan darah dan menuju transformasi kesehatan nasional berbasis plasma darah. Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes, Dr. Yanti Herman, MH.Kes, menilai peran PT Diastika sangat penting dalam membantu mendukung pengembangan alat kesehatan ber-Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang berkualitas, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pelayanan darah di tanah air.
Kesadaran dan Kesediaan sebagai Kunci Utama
Pemahaman bahwa darah bukan obat melainkan zat vital yang didonorkan secara sukarela berdasarkan prinsip kemanusiaan, menjadi pesan utama yang selalu diingatkan oleh para ahli kesehatan. Dr. Hj. Iin Dewi Astuty, MKK, Analis Kebijakan Ahli Madya dari Kemenkes, menegaskan bahwa tanpa kesadaran dan kerelaan masyarakat, ketersediaan darah tidak akan tercapai secara optimal. Oleh karena itu, upaya edukasi yang konsisten dan dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan.
Model Pendekatan yang Efektif untuk Meningkatkan Donor Darah
Kegiatan donor darah yang diinisiasi oleh PT Diastika secara rutin dan berkelanjutan mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk dari Kepala Unit Donor Darah PMI Provinsi Jakarta, Dr. Ni Ken Ritchie, M. Biomed. Ia menganggap aktivitas ini sebaiknya menjadi budaya yang terus diterapkan, dengan pendekatan sistem Multi-Level Marketing (MLM) yang mana seorang pendonor dapat mengajak orang lain sehingga jumlah pendonor meningkat secara signifikan dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, manfaat donor darah tidak akan mencapai potensi optimal tanpa adanya dukungan alat kesehatan berkualitas dan edukasi masyarakat yang kontinu. Penyediaan peralatan yang sesuai mampu menjamin darah yang aman dan berkualitas, sementara edukasi meningkatkan kesadaran dan kelangsungan donor darah demi memenuhi kebutuhan nasional yang mendesak.
