Diet keto tengah populer sebagai metode menurunkan berat badan dengan cepat dan meningkatkan energi. Metode ini secara khusus memangkas asupan karbohidrat hingga kurang dari 50 gram per hari, menggantikannya dengan konsumsi lemak tinggi. Akibatnya, tubuh beradaptasi menyerah sumber energi dari glukosa ke lemak melalui proses ketosis, yakni pembentukan badan keton sebagai bahan bakar alternatif.
Namun, terlepas dari hasil positif yang diperoleh banyak orang, muncul kekhawatiran mengenai risiko kesehatan jika diet keto dijalani dalam jangka panjang. Riset terbaru yang dipublikasikan di Science News mengungkapkan potensi gangguan metabolik akibat diet ini bila dilakukan terus-menerus selama bertahun-tahun.
Efek Jangka Panjang Diet Keto pada Penelitian Hewan
Dalam studi delapan bulan yang dilakukan pada tikus — durasi ini setara dengan beberapa dekade pada manusia — ditemukan sejumlah tanda gangguan metabolisme. Tikus dengan diet keto jangka panjang menunjukkan kesulitan mengatur kadar gula darah akibat penurunan kemampuan produksi insulin. Mengingat insulin berperan penting dalam memasukkan glukosa ke sel, kondisi ini menjadi indikator gangguan metabolik serius.
Selain itu, penelitian menemukan peningkatan kadar lemak darah yang berisiko memicu penyakit kardiovaskular. Pada tikus jantan, bahkan terdeteksi kondisi hati berlemak yang menandai gangguan fungsi organ vital. Meski begitu, tikus dengan diet keto memiliki berat badan lebih rendah dibanding yang makan pola Western diet tinggi karbohidrat.
Sisi positifnya, efek gangguan metabolik ini ternyata tidak permanen. Setelah tikus berhenti menjalani diet keto, sejumlah masalah, khususnya dalam pengolahan glukosa, berangsur membaik.
Implikasi bagi Manusia dan Kebutuhan Studi Lanjutan
Meski hasil dari hewan memberikan gambaran potensi risiko, dampak serupa pada manusia masih belum dapat dipastikan karena keterbatasan riset jangka panjang yang memadai. Para ahli pun menyatakan perlu adanya penelitian lebih komprehensif pada manusia untuk memastikan efek samping diet keto secara permanen.
Sementara itu, manfaat jangka pendek diet keto tetap tercatat efektif dalam menurunkan berat badan dan membantu pengendalian gula darah. Namun, jika dilakukan terus-menerus, risiko gangguan metabolisme, kerusakan fungsi hati, dan peningkatan kemungkinan penyakit jantung tetap mengintai.
Rekomendasi Menggunakan Diet Keto secara Bijak
Pakarnya menyarankan agar diet keto tidak diterapkan sebagai pola makan permanen. Jika berminat mencoba, disarankan untuk membatasi durasi, mengombinasikannya dengan asupan gizi seimbang, dan selalu konsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Hal ini penting untuk memantau kesehatan metabolik serta menghindari komplikasi yang mungkin timbul.
Penting untuk mengingat bahwa keberlanjutan pola makan yang sehat dan seimbang jauh lebih krusial dalam menjaga kesehatan jangka panjang daripada metode diet yang hanya berfokus pada penurunan berat badan cepat.
Diet keto memang menawarkan jalan cepat menuju berat badan ideal, tetapi risiko potensial bagi kesehatan metabolik tak boleh diabaikan. Mengelola asupan makronutrien secara proporsional dan menjaga pola hidup sehat secara menyeluruh tetap menjadi kunci utama mencegah penyakit dan mempertahankan kebugaran tubuh dalam jangka panjang.
