Viral Guyonan Lelaki Manja Saat Sakit, Dokter Saraf Ungkap Fakta Toleransi Nyeri

Viralnya video dan meme tentang lelaki yang cenderung lebih manja saat sakit dibanding perempuan tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Berbeda dengan persepsi umum yang menyatakan perempuan lebih tahan banting dan tetap menjalani aktivitas meskipun sedang tidak enak badan, lelaki justru digambarkan lebih dramatis dan sering kali memerlukan perhatian lebih ketika merasakan sakit. Namun, benarkah toleransi nyeri antara laki-laki dan perempuan berbeda secara signifikan?

Prof. Yusak Mangara Tua Siahaan, Dokter Spesialis Saraf sekaligus Chairman Siloam Neuroscience Summit (SNS), memberikan pandangannya terkait hal ini. Dalam acara SNS 2025 yang diselenggarakan oleh Siloam International Hospitals, Prof. Yusak menegaskan bahwa rasa sakit sebenarnya tidak terkait langsung dengan jenis kelamin seseorang, melainkan lebih dipengaruhi oleh faktor emosi dan bagaimana individu mengekspresikan rasa sakitnya.

Prof. Yusak menjelaskan bahwa skala nyeri yang dialami pasien lebih mencerminkan berat atau derajat penyakit yang mereka alami. Saat melakukan pemeriksaan, dokter biasanya akan memperhatikan ekspresi wajah pasien sebagai indikator nyeri. “Kalau orang sakit tapi mukanya datar, itu biasanya bukan cerminan nyeri yang sebenarnya,” ujarnya. Menurutnya, ekspresi cemberut atau tampak kesakitan umumnya menunjukkan tingkat nyeri yang tinggi dan bukan hasil dari tindakan berlebihan atau drama semata.

Penilaian Nyeri Melalui Visual Analog Scale

Untuk mengukur tingkat nyeri secara objektif, profesi medis menggunakan alat yang disebut visual analog scale (VAS). Alat ini digunakan sebagai referensi dengan cara menyesuaikan ekspresi pasien dengan gambar yang menunjukkan berbagai tingkat rasa sakit. Pasien kemudian menunjuk gambar yang paling sesuai dengan kondisi mereka, sehingga dokter bisa menilai seberapa besar dampak nyeri terhadap kualitas hidup pasien.

Selain itu, dokter juga kerap mengajukan pertanyaan sederhana yang meminta pasien memberikan skor nyeri dari angka 1 (tidak sakit) hingga 10 (sakit sekali). Metode ini membantu dokter memahami intensitas nyeri yang dialami dan menentukan langkah penanganan yang tepat.

Apakah Perempuan Lebih Tahan Nyeri?

Beberapa orang beranggapan bahwa perempuan mempunyai toleransi nyeri yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Prof. Yusak sendiri mengakui ada dugaan bahwa perempuan cenderung lebih tahan menghadapi kerasnya kehidupan secara umum, namun secara ilmiah hingga kini belum ada penelitian yang mengonfirmasi perbedaan toleransi nyeri berdasarkan jenis kelamin.

“Kalau tahan menghadapi kehidupan, mungkin iya. Tapi soal nyeri, belum ada data yang membuktikan perempuan lebih tahan dibandingkan laki-laki,” tambahnya dengan senyum ramah. Pernyataan ini memberi gambaran bahwa persepsi tentang lelaki yang manja saat sakit lebih merupakan stereotip sosial daripada fakta medis.

Penggunaan Parasetamol dalam Manajemen Nyeri

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Yusak juga menyinggung mengenai penanganan nyeri ringan di masyarakat. Parasetamol disebutnya sebagai obat pertama yang cukup efektif untuk meredakan nyeri. Keunggulan parasetamol adalah mudah didapat dan relatif aman karena tidak menimbulkan efek samping serius pada ginjal maupun lambung.

Untuk dosis, parasetamol dianjurkan digunakan maksimal sebanyak 1.000 mg per hari. “Dosis tersebut sudah cukup untuk mengatasi rasa sakit ringan sampai sedang dan sangat aman untuk penggunaan sehari-hari,” jelas Prof. Yusak.

Dengan pemahaman ini, masyarakat diharapkan lebih bijak menilai dan menghadapi rasa sakit secara objektif tanpa terjebak pada stereotip gender. Nyeri memang subjektif dan ekspresi yang dirasakan masing-masing individu sangat dipengaruhi oleh emosi dan kondisi klinis yang dialami.

Penggunaan metode pengukuran nyeri seperti visual analog scale dan pendekatan medis yang tepat akan membantu diagnosa dan penanganan yang akurat, sehingga kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan tanpa prasangka mengenai perbedaan jenis kelamin dalam menanggung rasa sakit.

Exit mobile version