Obesitas menjadi masalah kesehatan yang semakin meningkat di Indonesia, dengan prevalensi hampir satu dari empat orang dewasa (23,4%) yang terdampak. Namun, penyebab obesitas tidak semata-mata hanya karena makan berlebihan dan kurangnya aktivitas fisik seperti yang kerap dipersepsikan masyarakat. Menurut para ahli, obesitas adalah kondisi kronis yang melibatkan berbagai faktor kompleks, mulai dari genetik hingga lingkungan sosial.
Faktor Penyebab Obesitas yang Beragam
Dr. Farid Kurniawan dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (Hisobi) menegaskan bahwa obesitas tidak hanya disebabkan oleh gaya hidup yang buruk. "Ada faktor genetik, hormonal, maupun lingkungan, bahkan kondisi sosial ekonomi yang turut berperan," ujarnya. Dengan demikian, obesitas harus dipandang sebagai penyakit kronis yang memerlukan penanganan menyeluruh.
Indeks Massa Tubuh (IMT) sering digunakan untuk menentukan apakah seseorang mengalami obesitas atau hanya kelebihan berat badan. IMT dihitung dengan membagi berat badan (kilogram) dengan kuadrat tinggi badan (meter). Kelebihan berat badan memiliki nilai IMT antara 23-25, sementara obesitas adalah nilai IMT di atas 25. Namun, pengukuran ini tidak cukup untuk menentukan risiko kesehatan secara akurat.
Selain IMT, pemeriksaan harus mencakup pengukuran massa lemak, massa otot, dan massa lemak visceral — lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam dan sangat berkaitan dengan risiko penyakit metabolik seperti diabetes dan penyakit jantung. Lingkar pinggang juga menjadi indikator penting, dengan batas risiko pada pria lebih dari 90 cm dan wanita lebih dari 80 cm.
Peran Metabolisme dan Faktor Lingkungan
Masalah metabolisme juga menjadi penyebab obesitas yang sering diabaikan. Farid menjelaskan, "Tidak sesederhana makan 500 kalori lebih banyak diimbangi dengan olahraga membakar 500 kalori. Tingkat metabolisme setiap orang berbeda." Dalam beberapa kasus, masalah metabolik dapat memperlambat proses pembakaran kalori, sehingga tubuh cenderung menyimpan lemak lebih banyak.
Lingkungan juga memengaruhi tren obesitas yang terus meningkat, termasuk di daerah yang sebelumnya relatif rendah insidennya. Keberadaan lingkungan obesogenik, seperti mudahnya akses makanan cepat saji dan rendahnya edukasi mengenai pola makan sehat dan pentingnya aktivitas fisik, menjadi salah satu faktor utama. "Belum banyak kampanye efektif yang menjangkau masyarakat luas mengenai hal ini," tambah Farid.
Faktor Psikologis dan Stres
Selain faktor fisik, aspek psikologis pun memiliki peran signifikan. Kondisi stres berkelanjutan dapat menyebabkan "emotional eating" atau makan berlebihan sebagai respon terhadap tekanan emosional. Hal ini akhirnya memicu kenaikan berat badan yang sulit dikendalikan. Dr. Farid menyebutkan bahwa pendekatan penanganan obesitas juga harus mempertimbangkan kondisi psikologis pasien agar lebih efektif.
Langkah Penanganan dan Pencegahan
Dr. Wismandari dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia menyarankan masyarakat agar secara rutin memonitor lingkar pinggang dan melakukan pemeriksaan kesehatan meskipun belum merasakan keluhan. Pemeriksaan dini sangat penting untuk mengidentifikasi penyebab obesitas dan mencegah komplikasi penyakit metabolik.
Sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kementerian Kesehatan Indonesia telah merespons dengan menyusun Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Obesitas. Pedoman ini memberikan standar diagnosis, pengobatan, dan tindak lanjut yang berbasis bukti. PNPK menegaskan tiga pilar utama penanganan obesitas:
- Pola makan sehat dan peningkatan aktivitas fisik serta perubahan gaya hidup.
- Terapi farmakologis sesuai kebutuhan pasien.
- Pembedahan bariatrik untuk kasus obesitas berat yang tidak merespon terapi konservatif.
Pendekatan komprehensif ini bertujuan agar perawatan diberikan secara individual dan sistematis, sehingga mengatasi obesitas secara efektif bukan hanya dari aspek pola makan dan olahraga saja, namun juga melibatkan intervensi medis ketika diperlukan.
Informasi Tambahan
Peningkatan kesadaran mengenai kompleksitas penyebab obesitas sangat penting untuk menghilangkan stigma yang selama ini menempel pada penderita. Membuka diskusi yang lebih luas tentang faktor genetik, hormonal, dan lingkungan akan mendorong cara pandang yang lebih empatik dan strategi pencegahan yang lebih tepat sasaran. Kunci utama pencegahan adalah edukasi berkelanjutan dan dukungan sistem kesehatan untuk memfasilitasi penanganan obesitas sejak dini.
