Ahli Gizi Imbau Waspadai Penyebab Keracunan MBG untuk Kesehatan Aman

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan di sejumlah sekolah saat ini tengah menjadi sorotan setelah dilaporkan ribuan anak mengalami keracunan makanan. Data terbaru menunjukkan ada ribuan siswa yang terdampak, seiring munculnya kekhawatiran terkait faktor penyebab keracunan tersebut.

Menurut data yang dirilis Kantor Staf Presiden, hingga 17 September tercatat 46 kasus keracunan dengan total 5.080 orang terdampak. Data Kementerian Kesehatan pun melaporkan 60 kasus dengan 5.207 penderita per 16 September, sementara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat 55 kasus dengan 5.320 penderita per 10 September. Perbedaan angka menunjukkan kompleksitas penanganan dan pengawasan pelaksanaan program ini.

Menu MBG Sudah Sesuai Acuan Gizi Seimbang

Prof. Ali Khomsan, Guru Besar Bidang Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, menyampaikan bahwa sejatinya menu dalam program MBG sudah mengacu pada prinsip gizi seimbang. “Makan sehat harus beragam yang di dalamnya mencakup nasi, sayur, lauk, dan buah. Penambahan susu boleh, tapi minimal keempat komponen tersebut terpenuhi,” ujarnya.

Selain itu, pola menu dengan siklus 20 hari yang diterapkan pada MBG dimaksudkan untuk menghindari kebosanan anak dalam menyantap makanan. Dengan begitu, upaya pemenuhan kebutuhan gizi bisa berjalan efektif secara berkelanjutan. Poin penting dalam menu ini telah diatur oleh para ahli gizi agar sesuai dengan kebutuhan anak-anak di berbagai jenjang pendidikan.

Faktor Penyebab Keracunan yang Perlu Diperhatikan

Meski menu sudah memenuhi standar gizi, Prof. Ali menekankan ada faktor lain yang bisa memicu keracunan dan harus menjadi perhatian pemerintah, terutama dalam operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Faktor utama antara lain:

  1. Sanitasi dan Sumber Air
    Kualitas sanitasi dan sumber air yang digunakan dalam proses masak perlu diawasi dengan ketat, apakah berasal dari air PAM atau sumber lain yang berpotensi tercemar.

  2. Penyimpanan dan Kondisi Makanan
    Karakter penyajian makanan dengan porsi besar berisiko menimbulkan makanan basi. Biasanya, proses memasak mulai sejak dini hari, sekitar pukul 03.00, lalu didistribusikan di jam 10 atau 11. Jika SPPG tidak memiliki fasilitas penyimpanan yang memadai seperti hot storage atau cool storage, makanan berpotensi rusak sebelum disajikan.

  3. Teknik Memasak dan Suhu Masak
    Proses memasak yang tidak memperhatikan suhu dan waktu yang tepat dapat menyebabkan makanan kurang matang dan beresiko menimbulkan keracunan.

Makanan basi dan kurang matang berpotensi mengandung mikroorganisme berbahaya yang memicu penyakit. “Keracunan bisa timbul dari makanan dan dari faktor lain, seperti ketidakhigienisan pekerja di dapur yang menyentuh proses memasak dan pengemasan,” tambah Prof. Ali.

Upaya Pengawasan dan Pelatihan Petugas Dapur

Untuk mencegah kejadian serupa, pengawasan yang tidak hanya dilakukan oleh ahli gizi sangat dibutuhkan. Kepala koki atau petugas dapur di SPPG harus memiliki sertifikat pelatihan terkait keamanan pangan agar bisa menjalankan prosedur memasak dan pengelolaan makanan dengan benar.

“Pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan standar keamanan pangan ditaati, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi,” tegasnya. Dengan rutinitas pemeriksaan yang lebih ketat dan pelatihan berkelanjutan, kualitas dan keamanan penyajian menu MBG dapat lebih terjaga.

Harapan dari Hasil Laboratorium

BPOM bersama Kemenkes kini sedang melakukan analisis laboratorium untuk mengidentifikasi bakteri atau mikroba penyebab keracunan. Penemuan titik kritis munculnya mikroorganisme tersebut akan menjadi kunci untuk mengambil tindakan yang lebih efektif dalam pencegahan.

Program MBG yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak usia dini, pelajar, ibu hamil, dan menyusui memiliki peranan penting dalam mendukung kesehatan masyarakat. Karenanya, memastikan proses distribusi makanan yang aman dan higienis menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya dari sisi gizi namun juga dari segi teknis pengelolaan makanan di lapangan.

Src: https://lifestyle.bisnis.com/read/20250930/106/1915622/ahli-gizi-imbau-perhatikan-penyebab-keracunan-mbg/All

Exit mobile version