Pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) menjadi masalah kesehatan yang umum dialami pria khususnya pada usia lanjut. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tapi juga dapat mengganggu aktivitas harian serta menurunkan kualitas hidup. Berbagai pilihan pengobatan konvensional seperti penggunaan obat-obatan jangka panjang atau operasi terbuka memang tersedia, namun masing-masing memiliki keterbatasan dan risiko efek samping, terutama gangguan fungsi seksual.
Kini, hadir sebuah inovasi terapi yang minim invasif bernama Rezum Water Vapor Therapy, menggunakan energi uap air untuk mengatasi pembesaran prostat tanpa perlu operasi besar. Terapi ini menawarkan solusi yang relatif lebih aman, cepat, dan efektif bagi pasien BPH.
Gejala BPH dan Dampaknya
Pria yang mengalami BPH umumnya merasakan gejala seperti sering buang air kecil, aliran urine yang melemah, serta sensasi tidak tuntas setelah berkemih. Gejala-gejala ini sering kali dianggap sepele, padahal secara bertahap dapat menimbulkan ketidaknyamanan serius dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Prof. dr. Chaidir Arif Mochtar, Sp.U(K), Ph.D dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), beban penyakit ini terus meningkat seiring bertambahnya usia populasi pria di Indonesia.
Keterbatasan Terapi Konvensional
Pengobatan tradisional untuk BPH biasanya mengandalkan obat yang harus diminum dalam jangka panjang atau prosedur operasi transurethral resection of the prostate (TURP). Walaupun setiap metode ini dapat membantu mengecilkan pembesaran prostat, keduanya mempunyai beberapa kekurangan. Operasi besar kerap disertai risiko komplikasi dan efek samping, terutama terkait fungsi seksual pasca tindakan. Alhasil, banyak pasien mencari alternatif yang lebih nyaman dan minim risiko.
Rezum Sebagai Terapi Minim Invasif
Rezum Water Vapor Therapy bekerja dengan memanfaatkan energi uap air yang disuntikkan ke jaringan prostat, menyebabkan jaringan tersebut menyusut tanpa perlu sayatan. Proses prosedur ini cepat dan pasien dapat kembali menjalani aktivitas normal dalam waktu singkat. Hasil terapi biasanya baru tampak secara optimal dalam waktu tiga bulan setelah tindakan.
Keunggulan utama terapi ini adalah minimnya risiko efek samping, termasuk tidak terganggunya fungsi seksual, sehingga kualitas hidup pasien tetap terjaga. Karena sifatnya yang minim invasif, terapi Rezum menjadi harapan baru yang inovatif di bidang urologi.
Pusat Pelatihan Rezum di Indonesia
Menyadari pentingnya teknologi ini, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta telah meresmikan Rezum Water Vapor Therapy Training Center, pusat pelatihan pertama di Indonesia. Hal ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas tenaga medis di bidang urologi agar semakin banyak dokter yang terampil dalam menerapkan teknologi terkini ini.
Prof. Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U(K), menjelaskan bahwa pusat pelatihan ini tidak hanya memberikan manfaat langsung untuk pasien, tetapi juga berdampak positif dalam pengembangan pendidikan kedokteran urologi di Tanah Air.
Harapan Baru bagi Pasien dan Dunia Medis
Dengan semakin banyaknya dokter yang terlatih menggunakan Rezum, diharapkan layanan pengobatan BPH di berbagai rumah sakit Indonesia semakin berkembang dan merata. Prof. dr. Agus Rizal A.H. Hamid, Sp.U(K), FICRS, Ph.D menambahkan bahwa terobosan ini menandai peningkatan standar layanan kesehatan yang mengikuti praktik global.
Rezum menjadi simbol kemajuan pengobatan prostat yang tidak hanya efektif tetapi juga ramah terhadap tubuh pasien. Terapi ini menawarkan alternatif pengobatan yang dapat meningkatkan kualitas hidup pria lanjut usia tanpa harus menghadapi risiko operasi besar.
Pembesaran prostat yang sering dipandang sebagai konsekuensi penuaan ternyata bisa diatasi dengan teknologi modern. Dengan hadirnya Rezum Water Vapor Therapy, pria kini memiliki pilihan pengobatan yang lebih nyaman, minim efek samping, dan mampu menjaga kualitas hidup secara optimal. Inovasi ini diharap dapat membuka jalan bagi perawatan urologi yang semakin maju di Indonesia dan memberikan manfaat nyata bagi pasien BPH di masa mendatang.
Source: www.suara.com
