Belajar dari Kasus Ameena: Apakah Permen Bisa Picu Anak Sering Tantrum?

Kasus Ameena, anak pertama Aurel Hermansyah dan Atta Halilintar, yang sempat kecanduan permen dan mengalami tantrum, membuka diskusi mengenai apakah konsumsi permen bisa menjadi pemicu perilaku tantrum pada anak. Dalam pengalaman keluarga tersebut, konsumsi permen yang berlebihan menyebabkan Ameena sulit makan dan menunjukkan perilaku emosional yang menuntut perhatian orang tua untuk segera melakukan pembatasan.

Pengaruh Gula pada Perilaku Anak

Permen mengandung banyak gula sederhana yang cepat diserap tubuh, menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang tiba-tiba. Fenomena ini bisa membuat anak mengalami perubahan mood secara tiba-tiba, termasuk rasa cemas atau marah. Setelah lonjakan energi sementara itu, kadar gula darah turun drastis dan tubuh menjadi lesu atau iritabel. Dalam kondisi tertentu, perubahan ini dapat memicu tantrum pada anak. Hal ini didukung oleh literatur psikologi dan kesehatan anak yang menjelaskan kaitan antara fluktuasi gula darah dan gangguan perilaku sementara pada anak-anak.

Ketergantungan Psikologis terhadap Permen

Selain faktor fisiologis, ketergantungan psikologis juga berperan penting. Anak yang terbiasa menerima permen sebagai hadiah atau bentuk kenyamanan mungkin mengembangkan ekspektasi tinggi untuk mendapatkannya kapan saja. Apabila permintaan ini tidak terpenuhi, anak rentan menunjukkan reaksi frustrasi berupa menangis maupun tantrum sebagai strategi mendapatkan yang diinginkan. Dalam kasus Ameena, orang tua bahkan perlu menegur anggota keluarga lain, seperti mertua, yang secara tidak sengaja terus memberikan permen tanpa kontrol.

Peran Pola Pengasuhan dan Kebiasaan

Pola pengasuhan yang tidak konsisten dalam memberikan batasan juga memengaruhi perilaku anak. Jika pemberian permen dilakukan terlalu sering tanpa aturan jelas, anak akan terbiasa meminta permen pada waktu dan tempat yang tidak tepat. Kurangnya disiplin dan penegakan aturan yang konsisten membuat anak kesulitan memahami batasan yang berlaku, sehingga sering mengalami konflik emosional akibat keinginan yang tidak terpenuhi.

Dampak Nutrisi dan Penggantian Makanan Sehat

Penting juga diperhatikan bahwa jika permen menggantikan makanan utama atau camilan bergizi, anak tidak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh kembang optimal. Ketidakcukupan nutrisi dan rasa lapar bisa memicu reaksi negatif, termasuk tantrum sebagai tanda ketidaknyamanan fisik dan emosional.

Bahan Tambahan dalam Permen yang Berpotensi Memicu Hiperaktifitas

Selain gula, beberapa permen mengandung bahan tambahan seperti pewarna dan zat perangsang ringan yang dapat meningkatkan hiperaktivitas pada anak. Kondisi hiperaktif ini dapat memperbesar kemungkinan terjadinya tantrum akibat kelebihan rangsangan dari zat-zat tersebut.

Rekomendasi untuk Mengurangi Dampak Negatif Permen

Agar konsumsi permen tidak menjadi sumber masalah, beberapa langkah dapat diambil oleh orang tua dan pengasuh:

  1. Tetapkan batasan pemberian permen, contohnya hanya sesekali dan setelah makan.
  2. Hindari menggunakan permen sebagai alat "pelipur lara" anak.
  3. Berikan alternatif camilan sehat dan menarik agar anak tidak terlalu fokus pada rasa manis.
  4. Edukasi anak dengan bahasa yang sesuai usia tentang efek negatif permen bagi kesehatan.
  5. Konsisten terhadap aturan yang dibuat agar anak belajar menghargai batasan.
  6. Kurangi kesempatan anak untuk mendapatkan permen di luar pengawasan.

Kasus yang dialami Ameena menunjukkan bahwa permen tidak secara langsung menyebabkan tantrum, tetapi sebagai pemicu dalam kondisi konsumsi berlebihan dan tanpa aturan yang jelas. Dengan pengawasan dan pengasuhan yang tepat, permen dapat tetap menjadi bagian dari kesenangan anak tanpa menjadi sumber konflik atau gangguan perilaku.

Source: www.suara.com

Exit mobile version