BPA pada Galon Guna Ulang Bahaya bagi Balita, Waspada Risiko Kesehatan Ini Orangtua!

Bahaya Bisphenol A (BPA) yang terkandung dalam galon air minum guna ulang menjadi perhatian serius terutama bagi kesehatan balita. Para ahli kesehatan kembali mengingatkan orang tua agar lebih waspada terhadap paparan bahan kimia ini, yang dapat berdampak buruk pada pertumbuhan dan sistem kekebalan tubuh anak.

BPA merupakan bahan kimia yang umum digunakan dalam pembuatan plastik keras, termasuk galon guna ulang, serta di lapisan dalam kaleng makanan. Senyawa ini mudah berpindah ke makanan atau minuman, terutama ketika kemasan plastik tersebut mengalami pemanasan. Dalam kehidupan sehari-hari, BPA juga dapat ditemukan pada berbagai produk plastik seperti wadah makanan dan mainan anak.

Peringatan akan risiko BPA bagi balita telah diakui secara internasional melalui rancangan perjanjian global yang digagas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Busan, Korea Selatan. Rancangan ini menekankan pentingnya melindungi anak-anak dari paparan BPA, mengingat dampaknya yang signifikan pada kesehatan balita.

Menurut dr. Basrah Amru, seorang ahli kesehatan masyarakat, tubuh bayi dan balita belum mampu memproses dan membuang BPA secara efisien. Akibatnya, racun ini dapat bertahan lebih lama dalam tubuh mereka, berpotensi merusak perkembangan otak sejak masa kandungan. “Anak yang terpapar BPA memiliki risiko gangguan perkembangan otak dan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Mereka jadi lebih rentan terhadap penyakit,” jelas dr. Basrah.

Hal yang sama ditegaskan oleh Dr. Irfan Dzakir Nugroho dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ia menambahkan bahwa paparan BPA berhubungan dengan gangguan perilaku seperti hiperaktif, kecemasan, kesulitan konsentrasi, bahkan depresi pada anak-anak. Selain itu, berdampak jangka panjang BPA bisa meningkatkan risiko obesitas dan diabetes di kemudian hari.

Data dari European Food Safety Authority (EFSA) memperkuat kekhawatiran ini. Tahun lalu, EFSA memperketat batas aman paparan BPA sampai 20.000 kali lebih rendah. Uni Eropa juga akan melarang penggunaan BPA dalam kemasan makanan mulai Januari 2025. Sementara di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mewajibkan pencantuman label peringatan bahaya BPA pada galon polikarbonat.

Untuk mengurangi risiko paparan BPA pada balita, para ahli menyarankan beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan oleh orang tua:

1. Pilih botol susu dan wadah makanan yang berlabel “BPA Free” untuk memastikan produk bebas dari bahan kimia berbahaya ini.
2. Hindari memanaskan makanan atau minuman dalam wadah plastik karena panas meningkatkan perpindahan BPA ke dalam makanan.
3. Segera ganti galon air minum guna ulang yang sudah lama, kusam, retak, atau berusia lebih dari satu tahun.
4. Selalu membaca label pada kemasan produk anak sebelum membelinya agar terhindar dari bahan berbahaya.

Dr. Basrah menegaskan bahwa dampak paparan BPA mungkin tidak langsung terlihat, namun konsekuensinya dapat berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu, perlindungan pada tahap awal kehidupan, khususnya 1000 hari pertama, sangat penting untuk memastikan masa depan kesehatan anak.

Menyikapi semakin banyaknya bukti ilmiah dan regulasi ketat di berbagai negara terhadap penggunaan BPA, diharapkan orang tua di Indonesia dapat lebih cermat dalam memilih produk untuk kesehatan anak. Kesadaran yang lebih tinggi terkait bahaya BPA pada galon guna ulang akan membantu meminimalkan risiko kesehatan dan menjaga tumbuh kembang balita secara optimal.

Source: www.suara.com

Exit mobile version