3,6 Juta Anak Indonesia Alami Mata Rabun, Skrining Awal Wajib Dilakukan

Sebanyak 3,6 juta anak di Indonesia diperkirakan mengalami gangguan penglihatan berupa mata rabun jauh maupun rabun dekat, yang termasuk kelainan refraksi. Ironisnya, sebanyak 75 persen dari mereka tidak mendapatkan koreksi kacamata yang dibutuhkan. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena tidak hanya berdampak pada kualitas penglihatan, tetapi juga berpengaruh pada kesehatan mental anak.

Data tersebut berasal dari hasil studi yang dilakukan oleh Health Collaborative Center (HCC) dan didukung oleh penelitian dari Cermata, sebuah inovasi skrining kesehatan mata dan jiwa berbasis digital yang diadaptasi dari platform WHOyes secara lokal. Dari penelitian ini juga ditemukan bahwa anak dengan gangguan penglihatan seringkali mengalami gangguan kecemasan akibat stigma negatif ketika menggunakan kacamata di lingkungan sekolah.

Pentingnya Skrining Dini Penglihatan dan Kesehatan Jiwa Anak

Kianti Raisa Darusman, Project Leader sekaligus Peneliti Utama dari Cermata, menjelaskan bahwa gangguan penglihatan tidak bisa dipisahkan dari kondisi kesehatan jiwa anak. Anak yang mengalami rabun cenderung menunjukkan gangguan emosi, perilaku, dan hiperaktivitas. "Anak yang mengalami gangguan matalah yang rentan mengalami masalah mental, dan sebaliknya, anak dengan gangguan emosional juga kerap memiliki gangguan penglihatan tanpa menyadarinya," ujarnya.

Karena itu, skrining kesehatan penglihatan sejak dini menjadi sangat penting. Namun, pelaksanaan skrining pada anak selama ini memiliki kendala, karena harus dilakukan oleh tenaga ahli menggunakan alat khusus di ruangan dengan jarak tertentu. Melalui Cermata, skrining ini bisa dilakukan lebih mudah dan luas cakupannya, bahkan oleh guru atau orang tua di sekolah.

Cermata: Inovasi Skrining Penglihatan dan Kesehatan Jiwa Anak

Inovasi digital Cermata telah diuji coba di lebih dari 1.200 anak sekolah dasar di Jakarta dan membuktikan efektivitasnya dalam mendeteksi dini masalah penglihatan dan gangguan kesehatan jiwa pada anak. Platform ini tidak hanya mengukur kondisi mata, tetapi juga menilai aspek psikososial menggunakan kuesioner PedEyeQ. Kuesioner tersebut mengukur fungsi visual, keterbatasan aktivitas akibat kondisi mata, fungsi sosial, serta kekhawatiran anak terkait penglihatannya.

Salah satu keunggulan Cermata adalah kemampuannya untuk dioperasikan secara mandiri atau dengan bantuan guru dan orang tua, sehingga skrining dapat dilakukan secara masif dan inklusif tanpa memerlukan fasilitas dan alat medis khusus. Hal ini sangat membantu proses belajar mengajar di sekolah, dimana guru juga dapat mengidentifikasi anak yang berisiko mengalami gangguan penglihatan dan kesehatan jiwa.

Dukungan dari Tokoh Kesehatan

Mantan Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019, Nila F Moeloek, memberikan pandangan positif terhadap program ini. Ia menilai Cermata menjadi alat yang strategis untuk meningkatkan kualitas kesehatan publik di Indonesia. "Hasil skrining ini dapat menjadi pintu masuk untuk jaringan rujukan dari sekolah ke puskesmas pembina dan fasilitas kesehatan lanjutan," jelas Nila.

Tantangan dan Stigma Penggunaan Kacamata

Salah satu tantangan utama adalah stigma sosial yang dialami anak-anak ketika memakai kacamata. Hal ini dapat memicu kecemasan dan mengurangi kepercayaan diri anak selama masa perkembangan. Oleh karena itu, edukasi mengenai pentingnya kesehatan mata dan pengelolaan stigma di lingkungan sekolah sangat krusial.


Dengan adanya inovasi seperti Cermata dan peningkatan kesadaran akan pentingnya skrining dini gangguan penglihatan, diharapkan angka anak yang hidup dengan rabun dan kelainan penglihatan lainnya dapat dikurangi secara signifikan. Skrining awal tidak hanya menolong proses deteksi rabun jauh atau dekat tapi juga membuka ruang untuk intervensi kesehatan mental, sekaligus mendukung perkembangan sumber daya manusia yang lebih berkualitas di Indonesia. Kepedulian bersama dari orang tua, guru, dan sektor kesehatan menjadi kunci dalam menjaga kesehatan mata anak sejak dini.

Source: lifestyle.bisnis.com

Exit mobile version