Seorang wanita mengalami tawa tak terkendali selama puluhan tahun, yang awalnya dianggap sebagai masalah psikologis. Namun, setelah pemeriksaan mendalam, terungkap bahwa tawa tersebut disebabkan oleh sebuah tumor langka di otaknya. Kondisi ini dikenal dalam dunia medis sebagai gelastic seizures, yaitu kejang yang mengakibatkan tawa spontan tanpa disertai rasa bahagia.
Fenomena gelastic seizures terjadi akibat adanya lesi atau kelainan pada area hipotalamus di otak, yang berperan mengatur emosi dan fungsi dasar tubuh. Pada kasus ini, wanita tersebut mengalami tawa yang muncul tiba-tiba dalam hitungan detik dan bisa sering berulang dalam sehari. Tawa yang timbul bukanlah ekspresi kegembiraan, melainkan hasil dari aktivitas listrik abnormal dalam otak.
Menurut laporan medis yang dilansir oleh Live Science dan dirujuk oleh para ahli saraf, tawa pada gejala ini adalah refleks yang tidak dipicu oleh perasaan lucu atau senang. Karena ketidakpahaman terhadap penyebab sebenarnya, kondisi ini kerap disalahartikan sebagai masalah psikis. Padahal, sumber gangguan adalah neurologis yang memerlukan penanganan khusus.
Selain gelastic seizures, terdapat kondisi lain yang juga menyebabkan tawa berlebihan tanpa kontrol emosional, yaitu Pseudobulbar Affect (PBA). PBA sering muncul setelah cedera otak, stroke, atau penyakit neurodegeneratif seperti Sklerosis Multipel (MS) dan Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Gejala ini juga sering salah didiagnosis sebagai gangguan mental.
Diagnosis gelastic seizures dan gangguan serupa dilakukan dengan pemeriksaan EEG (Electroencephalogram) untuk memantau aktivitas listrik otak dan MRI guna mendeteksi lesi atau tumor. Pada kasus wanita tersebut, MRI menunjukkan adanya tumor jinak berupa hypothalamic hamartoma di hipotalamus yang menjadi pemicu gejala tawa tanpa sukacita.
Penanganan medis meliputi pemberian obat antikejang untuk mengendalikan aktivitas listrik abnormal, terapi perilaku untuk membantu pasien mengendalikan respon emosionalnya, serta operasi otak jika diperlukan untuk mengangkat tumor atau lesi yang ditemukan. Terapi yang tepat mampu mengurangi frekuensi episode tawa dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pemahaman tentang hubungan kompleks antara otak dan emosi manusia. Tawa, yang selama ini dipandang sebagai tanda kebahagiaan, ternyata bisa menjadi gejala dari gangguan neurologis serius. Pemisahan antara kondisi psikologis dan neurologis sangat diperlukan agar pasien mendapat penanganan yang akurat dan efektif.
Informasi lebih lanjut mengenai fenomena gelastic seizures dan Pseudobulbar Affect bisa menjadi referensi penting bagi tenaga medis dan masyarakat umum dalam mengenali gejala tawa tak terkendali yang tidak biasa. Dengan demikian, diagnosis dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah kesalahan diagnosis dan stigma negatif yang sering dialami oleh penderita.
Source: lifestyle.bisnis.com
