Alergi gluten merupakan reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap gluten, yaitu protein yang ditemukan dalam bahan makanan seperti gandum, jelai, dan rye. Kondisi ini dapat memicu berbagai gejala yang mengganggu kesehatan, terutama pada saluran pencernaan. Penting bagi masyarakat untuk mengenali gejala yang timbul agar dapat mengantisipasi dan mengelola alergi gluten dengan tepat.
Menurut Luthfianti Diana Mauludiyah, seorang dietisien dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, konsumsi gluten oleh orang yang alergi dapat menimbulkan keluhan nyeri perut, kembung, kolik, mual, hingga konstipasi. Dalam jangka panjang, alergi gluten berisiko menyebabkan penurunan berat badan, gangguan tumbuh kembang pada anak, serta anemia. Ia menjelaskan, "Bisa menyebabkan nyeri perut, kembung, kolik, mual, atau terjadi konstipasi, untuk jangka panjang dapat menyebabkan penurunan berat badan, gangguan tumbuh kembang pada anak, dan anemia," seperti dikutip dari Antara pada Minggu (12/11/2025).
Gejala yang Biasa Muncul Akibat Alergi Gluten
Gejala alergi gluten tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan, tetapi juga dapat menyerang kulit dan kondisi fisik umum. Beberapa tanda yang bisa diperhatikan antara lain:
- Perut kembung dan nyeri perut
- Diare atau konstipasi
- Ruam merah dan gatal pada kulit
- Berat badan yang susah naik atau justru turun drastis
- Mudah merasa lelah
- Wajah tampak pucat
Gejala ini dapat muncul baik beberapa jam setelah mengonsumsi makanan mengandung gluten maupun beberapa hari kemudian. Hal ini menunjukkan bahwa reaksi tubuh terhadap gluten bisa bervariasi dalam jangka waktu munculnya gejala.
Sumber Gluten dalam Makanan
Gluten banyak ditemukan dalam bahan-bahan makanan seperti gandum, jelai, dan rye. Umumnya, bahan makanan berbasis tersebut diproses menjadi berbagai produk, seperti roti, biskuit, mie, pasta, kue, dan sereal. Selain itu, produk yang mengandung tepung terigu atau zat pengental dari gandum juga mengandung gluten.
Luthfianti menambahkan, "Gluten ditemukan dalam bahan makanan seperti jelai, gandum, dan rye, biasanya digunakan untuk membuat roti, biskuit, mi, pasta, kue, dan sereal. Juga dalam makanan yang menggunakan bahan pengental dari gandum."
Kaitan dengan Penyakit Celiac
Selain alergi gluten, terdapat kondisi lain bernama penyakit celiac yang juga berhubungan dengan intoleransi gluten. Penyakit ini merupakan gangguan autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang lapisan usus halus ketika gluten dikonsumsi. Akibatnya, penyerapan nutrisi terganggu, memicu gejala seperti diare, kembung, kelelahan, dan penurunan berat badan.
Penderita penyakit celiac sangat dianjurkan menjalani diet bebas gluten untuk mencegah kerusakan usus dan komplikasi lebih lanjut.
Pilihan Diet Bebas Gluten
Untuk menghindari reaksi alergi, diet bebas gluten dianjurkan terutama bagi penderita alergi dan penyakit celiac. Beberapa bahan pangan yang dianggap aman dan bebas gluten antara lain beras, ubi, jagung, singkong, tepung beras, tepung tapioka, dan tepung jagung (maizena). Protein hewani seperti telur, ayam, dan daging juga aman asalkan tidak diolah menggunakan tepung terigu.
Isu Keamanan Makanan dan Label Gluten-Free
Isu alergi gluten semakin mendapat perhatian setelah adanya keluhan konsumen terkait toko roti daring yang mengklaim produknya bebas gluten. Beberapa konsumen melaporkan mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsi produk tersebut. Kasus ini menjadi sorotan luas setelah unggahan dari chef Yohanes Adhijaya alias Koko Ragi yang mengungkap praktik penipuan terkait label gluten-free pada 7 Oktober 2025 viral di media sosial.
Kejadian ini menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap klaim bebas gluten pada kemasan makanan agar konsumen yang rentan alergi tidak dirugikan.
Dengan memahami gejala dan sumber gluten serta menerapkan pola makan yang tepat, masyarakat dapat lebih waspada terhadap risiko alergi gluten. Penanganan dini dan konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat penting untuk mencegah komplikasi yang mungkin timbul dari alergi ini. Selain itu, kesadaran konsumen juga harus ditingkatkan terkait keaslian label bebas gluten demi keamanan dan kesehatan.
Source: www.beritasatu.com
