Banyak orang mengalami lonjakan nafsu makan ketika sedang stres, fenomena yang dikenal sebagai emotional eating. Kondisi ini terjadi saat tekanan emosional memengaruhi pola makan seseorang, sehingga mereka terdorong untuk makan berlebihan sebagai respons terhadap stres yang dirasa. Psikolog Klinis Naomi Tobing dari LIGHThouse Clinic menjelaskan dua kemungkinan perilaku seseorang ketika menghadapi stres, yaitu makan dalam jumlah banyak atau justru kehilangan nafsu makan sama sekali.
Menurut Naomi, reaksi terhadap stres ini bergantung pada tingkat stres yang dialami dan kepribadian individu. “Ada yang stres larinya ke makan, ada yang stres larinya nggak makan. Itu bisa terjadi dua-duanya, tergantung kepribadian orang tersebut,” ujarnya dalam acara peluncuran Kompetisi LIGHTweight Challenge (LWC) di Jakarta. Pada kondisi stres ringan, misalnya tekanan dalam aktivitas sehari-hari di kantor, seseorang cenderung mengalami lonjakan nafsu makan sebagai cara menenangkan diri. Sedangkan stres berat yang disertai depresi justru dapat membuat seseorang kehilangan minat makan.
Emotional eating terjadi karena tubuh berusaha mengembalikan keseimbangan secara cepat. Saat stres, otak melepas hormon endorfin dalam jumlah berlebihan yang memacu keinginan makan berlebihan dengan harapan bisa mengalihkan perasaan sedih, marah, atau cemas. Menurut Naomi, aktivitas makan berperan sebagai distraksi guna menstabilkan emosi. “Tanpa sadar misalnya sambil kerja ngemil, atau kalau dimarahin bos larinya ke makan supaya kita bisa stabil lagi dengan cepat,” tambahnya.
Meski menawarkan rasa nyaman sementara, emotional eating jika terus dibiarkan berpotensi berbahaya bagi kesehatan. Kebiasaan ini sering berujung pada peningkatan berat badan terutama jika makanan yang dikonsumsi kaya lemak dan kalori tinggi. Selain itu, emotional eating menunjukkan kurangnya kemampuan seseorang dalam mengelola emosi secara sehat. Hal ini berkonsekuensi pada rendahnya emotional intelligence yang berperan penting dalam mengenali, memahami, dan mengendalikan emosi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu hambatan dalam upaya menurunkan berat badan. Banyak pasien yang sulit mencapai hasil diet yang diinginkan karena tidak mengatasi akar masalah emosionalnya. Oleh sebab itu, program-program diet dari LIGHThouse Clinic di desain dengan pendampingan psikolog klinis. “Dokter gizi kerap berkonsultasi dengan psikolog untuk mencari pengaruh emosi atau mental pasien yang menghambat penurunan berat badan,” ungkap Naomi.
Dukungan pendampingan psikologis ini penting mengingat hasil survei menunjukkan 95 persen masyarakat Indonesia pernah gagal melakukan diet akibat strategi yang salah dan kurangnya bimbingan. Chief Marketing Officer LIGHT Group, Anna Yesito Wibowo, menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap makanan. Menurutnya, makanan bukan musuh yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang perlu dikelola dengan pengetahuan yang tepat. “Ending-nya tetap bisa makan sambil hangout. Jangan dikit-dikit stres makan, itu yang dikonsultasikan,” jelas Anna.
Secara keseluruhan, emotional eating adalah mekanisme tubuh untuk menghadapi stres dengan cara yang instan namun kurang sehat. Menyadari perilaku ini dan mencari cara mengelola emosi secara efektif menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko dampak negatif bagi fisik dan mental. Pendampingan dari psikolog klinis dan tenaga ahli gizi dapat menjadi solusi dalam membantu individu mengontrol pola makan sekaligus mengelola tekanan emosional dengan lebih baik.
Source: www.suara.com
