Perempuan Usai Career Break: Tantangan dan Peluang Kembali Bekerja di Pasar Kerja Saat Ini

Banyak perempuan di Indonesia ingin kembali bekerja setelah jeda karier, tetapi peluangnya masih sangat terbatas. Meski memiliki kemampuan, stigma soal celah di CV dan minimnya program dukungan membuat mereka kesulitan reintegrasi ke dunia kerja.

Data dari Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) menunjukkan hampir 40% perempuan pernah mengambil career break, dan 98% di antaranya berkeinginan kembali aktif bekerja. Namun, realita di lapangan berbeda karena dunia kerja belum sepenuhnya siap menerima perempuan returnees.

Berdasarkan data BPS 2024, partisipasi kerja perempuan Indonesia hanya 56,42%, jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki yang mencapai 84,66%. Dari perempuan yang bekerja, hanya sekitar sepertiga yang berkontribusi di sektor formal. Hal ini menunjukkan kesempatan kerja bagi perempuan masih sangat terbatas, terutama setelah jeda karier.

Pandangan sosial dan beban ganda menjadi faktor utama perempuan sulit kembali bekerja. Perempuan seringkali dianggap sebagai caregiver utama, sehingga posisi strategis jarang dibuka untuk mereka. Selain itu, tanggung jawab domestik yang tidak seimbang memaksa banyak perempuan mundur dari jalur karier.

Jalan Kembali yang Tidak Mudah

Wita Krisanti, Executive Director IBCWE, menegaskan bahwa karier perempuan tidak berjalan linier. “Ketika tanggung jawab rumah membesar, perempuan ambil career break. Namun, jembatan untuk kembali bekerja belum tersedia,” ungkap Wita.

Menjawab kebutuhan ini, L’Oréal Indonesia bekerja sama dengan IBCWE meluncurkan L’Oréal Career Reconnect Program. Program returnship berbayar selama enam bulan ini dirancang khusus untuk mendukung perempuan kembali ke dunia kerja.

Program tersebut menyediakan mentoring, coaching, serta program upskilling dan reskilling. Selain itu, peserta mendapat penempatan kerja nyata di tim strategis perusahaan. Tujuan utama adalah membantu perempuan merasa layak dan percaya diri kembali membangun karier.

Victoria Aswien, Chief Human Resources Officer L’Oréal Indonesia, menjelaskan banyak perempuan kompeten tapi kehilangan kepercayaan diri setelah jeda. “Program ini sebagai ruang aman untuk belajar ulang dan memulai karier berkelanjutan,” katanya.

Pengalaman Perempuan Returnees

Berbagai cerita dari peserta program ini menunjukkan dampak besar dari career break. Adhisty Esther yang berhenti kerja setelah melahirkan merasa pengalaman kerjanya seperti hilang. “Program ini membantu saya merasa mampu kembali,” ujarnya.

Alif Laila yang jeda karier selama enam tahun merasa ragu apakah masih diterima perusahaan. “Lewat Career Reconnect, kepercayaan diri saya pulih kembali,” katanya.

Yunita Muliadi yang cuti karena alasan kesehatan menegaskan pentingnya lingkungan kerja yang mendukung. “Tidak semua perusahaan beri kesempatan kedua. Program ini buat saya merasa tersambung lagi baik sebagai pekerja maupun perempuan,” terangnya.

Mendorong Lingkungan Kerja Inklusif

Selain returnship, L’Oréal juga memperkuat kebijakan kerja inklusif bagi perempuan. Kebijakan tersebut mencakup hybrid working, fleksibilitas jam kerja, cuti melahirkan dan pengasuhan, hingga perlindungan dari kekerasan domestik.

Harapannya, inisiatif ini menjadi contoh bagi perusahaan lain untuk membuka peluang lebih luas bagi perempuan. Karena banyak perempuan yang berhenti bekerja bukan karena tak mampu, melainkan belum menemukan pintu yang terbuka kembali.

Seiring bertambahnya program dan kebijakan inklusif, harapannya peluang wanita usai career break kembali bekerja dapat meningkat. Peran perusahaan dan masyarakat sangat krusial dalam menciptakan ekosistem kerja yang mendukung perempuan bangkit dan berkontribusi optimal.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button