Belajar Soal Consent dari Memoar Broken Strings Aurelie Moeremans: Diam Bukan Berarti Setuju

Memoar "Broken Strings" karya Aurelie Moeremans membuka diskusi penting mengenai consent dalam sebuah hubungan. Buku ini menceritakan kisah pribadi Aurelie yang menghadapi kekerasan, bullying, grooming, dan manipulasi dari hubungan tidak sehat. Pengalaman tersebut memberikan gambaran konkret bagaimana perilaku kasar dan kontrol dapat tersembunyi di balik perhatian dan cinta yang tampak.

Dalam memoirnya, Aurelie mengungkap pengalaman traumatis saat menjalin hubungan dengan pria bernama Bobby, yang lebih tua 14 tahun darinya. Awalnya, Bobby menunjukkan sikap manis dan perhatian, tetapi kemudian berubah menjadi pengendalian yang ketat dan paksaan tanpa persetujuan. Ini menyoroti bagaimana pentingnya memahami arti sebenarnya dari consent dalam konteks hubungan.

Pengertian Consent dan Pentingnya Dalam Hubungan

Consent adalah persetujuan yang diberikan secara sadar dan sukarela antara kedua pihak sebelum melakukan suatu hal bersama. Dalam hubungan, consent tidak hanya membatasi aktivitas fisik, tetapi juga mencakup batasan pribadi, seperti penggunaan ponsel, unggahan media sosial, dan pengambilan keputusan bersama. Menurut Very Well Mind, consent adalah kesepakatan berkelanjutan yang menghargai keinginan dan batasan masing-masing.

Keberadaan consent menjadi kunci dalam membangun kepercayaan. Pasangan yang saling menghormati persetujuan menciptakan ruang aman di mana keduanya merasa dihargai dan setara. Selain itu, komunikasi yang jelas dan terus-menerus mengenai batasan mencegah asumsi keliru yang dapat memicu konflik.

Syarat-syarat Consent yang Harus Dipenuhi

Menurut sumber terpercaya, terdapat beberapa syarat wajib dalam pemberian consent, yaitu:

  1. Consent diberikan secara sukarela tanpa tekanan atau paksaan.
  2. Consent bersifat spesifik, tidak mengandung asumsi untuk aktivitas lain di luar konteks.
  3. Consent dapat dibatalkan kapan saja jika salah satu pihak berubah pikiran.
  4. Consent harus berdasarkan informasi lengkap mengenai apa yang disetujui.
  5. Consent harus disampaikan dengan tegas dan yakin, bukan melalui tanda-tanda ragu atau pasrah.

Ketidakpatuhan terhadap syarat-syarat ini dapat menimbulkan pelanggaran batas dan pelecehan yang berbahaya.

Diam Bukan Berarti Setuju

Memoar Broken Strings juga menegaskan bahwa diam atau sikap pasif bukan tandanya persetujuan. Consent harus diekspresikan secara aktif dan eksplisit melalui kata-kata atau bahasa tubuh positif. Pasangan tidak boleh menganggap anggukan ragu atau senyuman samar sebagai tanda setuju. Justru, komunikasi yang transparan dan jujur adalah fondasi membangun hubungan yang sehat dan aman.

Hak individu untuk menentukan apa yang terjadi pada dirinya harus dihormati, baik dalam lingkup keluarga, pertemanan, maupun pasangan. Hal ini mengingatkan pentingnya kesadaran bahwa setiap orang berhak menolak atau memberi batas tanpa harus merasa terintimidasi atau tertekan.

Pengalaman Aurelie Moeremans dalam memoirnya mengajarkan pembaca untuk memahami bahwa consent bukan hanya formalitas, melainkan bentuk penghormatan terhadap kebebasan dan integritas pribadi. Hubungan yang sehat harus menempatkan persetujuan sebagai pondasi utama agar tidak terjebak dalam pola kekerasan dan manipulasi.

Melalui cerita nyata ini, masyarakat diharapkan semakin lebih sadar dan peduli tentang konsep consent agar dapat membangun relasi yang saling menghargai dan menjaga kesejahteraan emosional maupun fisik masing-masing pihak.

Terkait