3 Tanda Awal Demensia yang Sering Tak Disadari: Sulit Mendeteksi Sarkasme, Sering Jatuh, Abaikan Norma Sosial

Author: Qoo Media

Demensia merupakan gangguan yang menurunkan fungsi otak secara bertahap. Kondisi ini memengaruhi memori, kemampuan berpikir, serta fungsi sosial dan pekerjaan sehari-hari.

Gejala awal demensia sering kali sulit dikenali karena berlangsung perlahan. Namun, ada beberapa tanda yang sering terlewatkan dan penting untuk diwaspadai sejak dini.

Sulit Mendeteksi Sarkasme dan Sindiran

Orang dengan demensia, khususnya yang mengalami Frontotemporal Dementia (FTD) atau Alzheimer, biasanya mulai kesulitan memahami sarkasme. Studi mengungkapkan bahwa penderita FTD dan Alzheimer cenderung kehilangan kemampuan mengenali intonasi dan nuansa bahasa.

Selain itu, penderita FTD juga mengalami hambatan dalam mendeteksi kebohongan. Hal ini terjadi karena kerusakan di lobus frontal otak yang bertugas mengatur emosi dan perilaku sosial. Sebaliknya, penderita Alzheimer masih mampu mendeteksi kebohongan karena area otak yang rusak lebih terkait dengan memori dan bahasa daripada fungsi sosial.

Kesulitan memahami sindiran dan hubungan sosial ini sering tidak disadari oleh keluarga maupun lingkungan sekitar hingga gejala semakin memburuk.

Lebih Sering Terjatuh sebagai Indikator Awal

Jatuh yang terjadi berulang kali dapat menjadi tanda awal penyakit Alzheimer. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Neuroscience pada Oktober 2021 menunjukkan bahwa lansia yang kemudian didiagnosis Alzheimer cenderung mengalami risiko jatuh lebih tinggi beberapa tahun sebelumnya.

Masalah keseimbangan dan koordinasi tubuh ini muncul sebelum gangguan kognitif yang lebih serius. Oleh karena itu, latihan keseimbangan dinilai penting untuk mencegah jatuh dan kecelakaan akibat gangguan otak ini.

Melakukan aktivitas fisik yang rutin dapat membantu menjaga kestabilan tubuh dan memperlambat perkembangan gejala penyakit Alzheimer.

Mengabaikan Norma Sosial dan Perilaku Tidak Lazim

Salah satu gejala demensia yang mengejutkan adalah perubahan perilaku sosial yang ekstrem. Penderita bisa kehilangan pemahaman mengenai norma dan aturan sosial yang ada. Tinjauan dalam jurnal Cortex pada Oktober 2020 menjelaskan bahwa beberapa penderitanya menunjukkan perilaku seperti mencuri di toko atau tindakan tidak pantas lainnya.

Demensia onset dini hingga usia 30-an atau 40-an sering disalahartikan sebagai gangguan kejiwaan atau penyalahgunaan narkoba. Hal ini menyebabkan keterlambatan diagnosis karena gejala tersebut dianggap sebagai perilaku muda yang tidak biasa, bukan penyakit neurologis.

Kehilangan pemahaman norma sosial ini dapat menimbulkan masalah hukum dan sosial bagi penderitanya, sehingga perlu penanganan khusus dari ahli.

Mengenali Tanda Awal untuk Penanganan Lebih Baik

Mendeteksi gejala awal demensia berperan penting untuk penanganan yang lebih efektif. Gangguan memahami sarkasme, sering terjatuh tanpa sebab jelas, dan perubahan perilaku sosial merupakan indikasi yang perlu mendapat perhatian.

Bagi keluarga atau pengasuh, waspadai tanda-tanda ini dan segera konsultasikan ke dokter spesialis saraf atau psikiatri untuk evaluasi menyeluruh. Penanganan dini dapat membantu memperlambat perkembangan demensia dan memperbaiki kualitas hidup penderita.

Menjaga kesehatan otak melalui pola hidup sehat, stimulasi kognitif, dan aktivitas fisik rutin juga dapat menjadi upaya pencegahan penting. Memahami gejala-gejala tersembunyi ini merupakan langkah awal dalam melawan dampak serius dari demensia.

Terbaru