Industri kecantikan Indonesia mendapat tambahan pemain global yang datang dengan pesan yang tegas: kecantikan tidak perlu diseragamkan. Laka, merek makeup asal Korea, resmi debut di Indonesia lewat kemitraan eksklusif dengan Sociolla dan langsung membawa pendekatan yang menonjolkan inklusivitas, ekspresi diri, serta keberagaman.
Bagi pasar beauty yang makin personal, kehadiran Laka terasa relevan. Merek ini tidak hanya menjual produk, tetapi juga menawarkan cara pandang baru bahwa makeup bisa menjadi medium untuk menunjukkan identitas dan cerita tiap individu.
Filosofi yang menempatkan semua orang di pusat
Laka berdiri sejak 2018 dengan nilai Love, Kind, Artistry sebagai fondasi utama. Dari nilai itu, merek ini mengusung pesan bahwa kecantikan milik semua orang tanpa batasan standar tertentu.
Yeojin Son, Director of Laka Global Business Division, menegaskan filosofi tersebut dalam acara peluncuran di Central Park Mall, Jakarta. Ia menyebut bahwa setiap orang bebas mengekspresikan versinya masing-masing karena kecantikan tidak terbatas.
Pendekatan itu juga tercermin dari ketersediaan lebih dari 100 pilihan shade. Ragam warna tersebut disiapkan agar konsumen bisa menemukan warna yang sesuai dengan tone dan karakteristik kulitnya.
Produk yang mengikuti gaya hidup modern
Sebagai merek dengan DNA kuat di kategori lip product, Laka menempatkan lini bibir sebagai fokus utama. Dua hero product yang dibawa ke Indonesia adalah Fruity Glam Tint dan Devil Lip.
Keduanya hadir dengan tekstur ringan, warna ekspresif, dan hasil akhir yang modern. Laka juga menghadirkan lip tint mini size untuk menjawab kebutuhan konsumen yang menginginkan produk praktis dan mudah dibawa.
Yeojin Son mengatakan bahwa inovasi akan terus berjalan. Ia menyebut perusahaan ingin menciptakan tren, bukan sekadar mengikuti, sambil tetap fokus pada kebutuhan konsumen.
Makeup sebagai identitas, bukan sekadar pelengkap
Pergeseran perilaku konsumen ikut membentuk arah industri kecantikan saat ini. Setelah pandemi, makeup semakin dipahami sebagai alat ekspresi diri yang personal, bukan hanya pelengkap penampilan.
Chrisanti Indiana, Co-Founder & CMO Social Bella Indonesia, menilai konsumen Indonesia menggunakan makeup sebagai ekspresi diri dan identitas. Pandangan itu selaras dengan pertumbuhan kategori lip product yang makin pesat, terutama lip tint dan lip stain yang lebih ringan untuk penggunaan harian.
Tren tersebut membuat produk yang ringkas, nyaman, dan serbaguna semakin dicari. Laka masuk ke ruang itu dengan menawarkan formula yang tidak hanya memberi warna, tetapi juga fungsi perawatan.
Pengalaman peluncuran yang dibuat lebih dekat dengan konsumen
Debut Laka di Indonesia dirayakan lewat acara bertajuk Grand Launching Laka: Every Shade, Every Story. Acara ini digelar di Central Park Mall, Jakarta, dan dirancang sebagai pengalaman yang imersif bagi pengunjung.
Berbagai aktivitas disiapkan untuk menciptakan interaksi langsung dengan merek. Pengunjung bisa menikmati Gacha Machine, Photo Booth, hingga Makeup Class bersama beauty influencer.
Konsep itu menunjukkan bahwa Laka ingin hadir sebagai pengalaman, bukan sekadar transaksi. Acara tersebut dibuka mulai 29 April hingga 3 Mei 2026.
Keberagaman sebagai arah inovasi
Laka menempatkan diversity sebagai inti inovasi produknya, terutama di kategori lip. Setiap warna dirancang agar bisa menyesuaikan karakter unik setiap individu.
Yeojin Son menyampaikan bahwa tidak ada warna yang sama di setiap orang karena setiap orang punya personal color yang berbeda. Karena itu, produk harus bisa menyesuaikan kebutuhan personal tersebut.
Dari sisi formulasi, produk Laka juga dibuat multifungsi. Fruity Glam Tint, misalnya, dirancang untuk melembapkan, memperbaiki tekstur bibir, dan memberikan ketahanan warna hingga 4–8 jam.
Kehadiran Laka menambah warna baru di pasar kecantikan Indonesia yang terus bergerak ke arah personalisasi. Di tengah tren beauty yang makin ekspresif, merek ini membawa pesan bahwa setiap warna punya cerita dan setiap orang berhak menuliskannya dengan caranya sendiri.
Source: www.idntimes.com






