Revenge bedtime procrastination makin sering dibicarakan karena banyak orang merasa akrab dengan kebiasaan menunda tidur demi “mencuri” waktu untuk diri sendiri. Fenomena ini muncul saat tubuh sudah lelah, tetapi otak masih ingin scrolling media sosial, menonton series, atau sekadar menikmati malam lebih lama.
Istilah ini merujuk pada kebiasaan menunda tidur secara sengaja meski sadar waktu istirahat akan berkurang. Menurut Sleep Foundation, orang biasanya tetap terjaga untuk scrolling media sosial, menonton film, bermain game, atau menikmati waktu sendirian di malam hari.
Mengapa disebut “revenge”
Kata “revenge” dipakai karena banyak orang merasa ingin “mengambil kembali” waktu pribadi yang hilang akibat pekerjaan, tugas, atau aktivitas sepanjang hari. Verywell Mind menyebut fenomena ini banyak dialami oleh orang-orang dengan jadwal padat yang merasa tidak punya cukup waktu untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai di siang hari.
Pada situasi seperti ini, malam hari terasa menjadi satu-satunya ruang yang benar-benar bebas dari tuntutan. Akibatnya, waktu tidur sering dikorbankan untuk mendapatkan rasa kendali atas waktu pribadi.
Peran media sosial dan layar
Penggunaan media sosial di malam hari ikut membuat kebiasaan ini semakin umum. Banyak orang terus scrolling TikTok, Instagram, atau menonton video hingga larut tanpa sadar waktu berjalan lebih jauh dari rencana awal.
Paparan gadget sebelum tidur juga dapat membuat otak lebih sulit rileks. Kondisi itu akhirnya mendorong seseorang menunda tidur lebih lama dari yang semestinya.
Dampak ke tubuh dan pikiran
Meski terasa menyenangkan sesaat, tidur terlalu larut tetap memberi dampak pada kesehatan fisik dan mental. Kurang tidur dapat membuat tubuh terasa lebih lelah, sulit fokus, lebih mudah emosional, dan memengaruhi suasana hati sehari-hari.
Sleep Foundation juga menekankan bahwa kurang tidur dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan fisik dan kualitas hidup secara keseluruhan. Karena itu, kebiasaan yang tampak seperti “me time” ini bisa berubah menjadi masalah bila berlangsung terus-menerus.
Self-reward yang berujung kelelahan
Sebagian orang memandang begadang sebagai bentuk self-reward setelah menjalani hari yang panjang dan melelahkan. Waktu malam dianggap sebagai satu-satunya kesempatan untuk menikmati hiburan tanpa tuntutan pekerjaan atau aktivitas lain.
Masalahnya, jika pola ini terus berulang, tubuh justru semakin kelelahan dan waktu istirahat makin berkurang. Pada titik itu, keinginan untuk memulihkan diri justru berbalik menjadi kebiasaan yang menguras energi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan waktu pribadi memang nyata, terutama bagi orang dengan jadwal padat. Namun, menjaga keseimbangan antara istirahat dan me time tetap penting agar kebutuhan untuk merasa bebas tidak mengorbankan kesehatan.
Source: www.beautynesia.id






