Jakarta Terasa Teduh dari Taman, Sehari Bersama Ayo ke Taman Membuka Celah yang Selama Ini Luput

Minggu pagi di Taman Cattleya, Jakarta Barat, menghadirkan wajah Jakarta yang berbeda. Suara klakson mereda, digantikan percikan air mancur, tawa anak-anak, dan aktivitas warga yang memadati ruang hijau sejak sebelum pukul delapan pagi.

Di satu sisi, taman ini tampak menjadi tempat jeda dari ritme kota yang padat. Di sisi lain, pemetaan yang dilakukan komunitas Ayo ke Taman menunjukkan bahwa kenyamanan ruang terbuka hijau di Jakarta masih dibayangi persoalan akses, fasilitas, dan informasi dasar bagi pengunjung.

Kegiatan park mapping itu mengajak peserta membaca taman bukan hanya sebagai tempat rekreasi. Kondisi aksesibilitas, kelengkapan fasilitas, serta vegetasi diamati untuk melihat seberapa jauh taman benar-benar berfungsi sebagai ruang publik yang inklusif.

Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni Akses, Fasilitas, serta Vegetasi dan Infrastruktur Hijau. Dari pengamatan lapangan, Taman Cattleya dinilai nyaman dan strategis, tetapi belum sepenuhnya ramah untuk semua pengguna.

Taman yang ramai, fasilitas yang tertinggal

Keramaian taman terlihat dari beragam aktivitas warga. Ada lansia yang berjalan santai, kelompok senam pagi, hingga keluarga yang menggelar tikar untuk sarapan di bawah pepohonan.

Namun lonjakan pengunjung akhir pekan memperlihatkan keterbatasan fasilitas. Antrean panjang terlihat di depan dua bilik toilet, terutama saat orang tua menunggu anak-anak yang selesai bermain air.

Catatan lain juga muncul dari area danau. Sejumlah peserta menilai area itu belum dilengkapi pagar pengaman, sementara papan informasi mengenai tata tertib pengunjung masih sangat minim.

Kondisi ini memperlihatkan jarak antara daya tarik taman dan kesiapan fasilitas pendukungnya. Ruang hijau memang hadir dan digunakan, tetapi belum seluruhnya ditopang sarana yang memadai untuk keamanan dan kenyamanan bersama.

Akses masuk yang terasa eksklusif

Dari sisi akses, masalah muncul sejak pintu masuk utama. Tampilan gerbang dinilai lebih menyerupai pintu masuk kompleks perumahan elite ketimbang ruang publik yang terbuka bagi semua kalangan.

Seorang peserta bahkan menilai orang yang hanya melintas bisa saja tidak sadar bahwa lokasi itu merupakan taman umum. Kesan eksklusif tersebut menjadi catatan penting karena ruang publik idealnya mudah dikenali dan terasa mengundang.

Masalah berlanjut di jalur pedestrian. Di beberapa titik, conblock terlihat bergelombang dan tidak rata, sehingga dinilai berisiko bagi pengunjung yang berjalan kaki.

Jalur landai untuk pengguna kursi roda juga disebut sempit. Selain itu, peserta mencatat tidak adanya guiding block untuk penyandang tunanetra, sehingga aksesibilitas taman dinilai belum memadai.

Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, orientasi di dalam kawasan juga menjadi tantangan. Taman seluas tiga hektare itu belum memiliki peta kawasan di pintu masuk utama, padahal penunjuk arah dapat membantu pengunjung memahami area yang mereka masuki.

Potensi edukasi yang belum tergarap

Di balik persoalan fasilitas dan akses, Taman Cattleya menyimpan kekayaan hayati yang cukup menonjol. Kelompok Vegetasi dan Infrastruktur Hijau menemukan beragam jenis tanaman dan satwa yang jarang disadari pengunjung.

Pohon kamboja, janda merana, dan bintaro tumbuh di berbagai sudut taman. Kupu-kupu terlihat beterbangan di antara semak, katak muncul di area basah, dan kawanan soang berkeliaran di dekat danau.

Meski demikian, kekayaan itu belum banyak dijelaskan kepada publik. Peserta menilai plang informasi mengenai jenis pohon dan elemen hayati lain seharusnya tersedia agar taman juga berfungsi sebagai ruang belajar di tengah kota.

Catatan serupa muncul dari aspek identitas taman. Nama Cattleya yang diambil dari bunga anggrek justru tidak tercermin dari temuan peserta yang tidak melihat anggrek di sepanjang area taman.

Temuan-temuan itu memperlihatkan bahwa ruang hijau tidak hanya penting sebagai tempat beristirahat. Taman juga berpotensi menjadi medium edukasi lingkungan jika informasi dasar disediakan dengan baik.

Membaca kota lewat perjalanan antarruang publik

Setelah sesi pemetaan di Taman Cattleya berakhir menjelang pukul 11.00 WIB, kegiatan berlanjut ke Taman Ismail Marzuki di Cikini. Lokasi itu menjadi salah satu penyelenggaraan Jakarta Future Festival.

Perjalanan ditempuh dengan transportasi umum, mulai dari TransJakarta hingga kereta komuter, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawasan TIM. Rangkaian perjalanan ini memperlihatkan bahwa kualitas taman tidak bisa dilepaskan dari koneksi dengan trotoar, halte, stasiun, dan pusat kegiatan warga.

Di sepanjang perjalanan, diskusi soal Taman Cattleya terus berkembang. Catatan tentang toilet, jalur pedestrian, papan informasi, hingga potensi edukasi berubah menjadi percakapan tentang seperti apa kota yang lebih ramah warga seharusnya dibangun.

Setibanya di TIM, peserta Ayo ke Taman membagikan hasil pengamatan mereka. Pertemuan itu juga menjadi ruang bertukar gagasan tentang masa depan ruang terbuka hijau Jakarta.

Sebagian peserta diketahui baru pertama kali mengikuti kegiatan tersebut. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, termasuk dari Bogor dan Tangerang Selatan, tetapi dipertemukan oleh minat yang sama terhadap ruang publik dan lingkungan.

Kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa taman kota tidak hanya dibaca dari jumlah pohon atau luas lahannya. Taman juga dibaca dari siapa yang bisa mengaksesnya, bagaimana fasilitasnya bekerja, dan sejauh mana warga dapat merasa aman, diterima, serta belajar di dalamnya.

Melalui pemetaan sederhana selama sehari, ruang hijau muncul sebagai cermin kota itu sendiri. Dari sana terlihat bahwa taman bukan sekadar hamparan rumput dan pepohonan, melainkan ruang bersama yang kualitasnya ikut menentukan apakah Jakarta terasa lebih inklusif dan nyaman untuk ditinggali.

Source: www.suara.com

Terkait