Kepercayaan diri anak tidak tumbuh dari nasihat semata. Ia terbentuk lewat kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus di rumah, terutama saat orang tua memberi ruang bagi anak untuk belajar, mencoba, dan merasa dihargai.
Banyak orang tua ingin membantu anak secepat mungkin. Namun, dukungan yang paling efektif justru sering hadir dalam bentuk sederhana, seperti membiarkan anak menyelesaikan tugas sesuai usianya dan memberi respons yang hangat saat ia berbicara.
Beri ruang untuk anak mencoba sendiri
Membiarkan anak memakai baju sendiri, merapikan mainan, atau menyelesaikan tugas sederhana dapat melatih rasa mampu. Saat berhasil melakukan sesuatu tanpa bantuan penuh, anak belajar bahwa dirinya bisa mengandalkan kemampuannya sendiri.
Dr. Tovah Klein, penulis How Toddlers Thrive, menyebut kesempatan untuk mencoba sendiri membantu membangun rasa kompeten dan kemandirian. Dua hal itu menjadi dasar penting bagi kepercayaan diri anak.
Pujian yang fokus pada usaha
Anak juga lebih kuat secara mental ketika apresiasi tidak hanya diberikan saat hasilnya bagus. Pujian atas ketekunan saat belajar atau berlatih membantu anak memahami bahwa proses sama pentingnya dengan hasil akhir.
Pendekatan ini membuat anak lebih berani mencoba tanpa terlalu takut gagal. Dr. Carol Dweck, profesor psikologi di Stanford University, menjelaskan bahwa pujian terhadap usaha dapat membentuk growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan bisa berkembang lewat latihan dan kerja keras.
Dengarkan pendapat anak
Kebiasaan mendengarkan pendapat anak juga berperan besar dalam membangun rasa percaya diri. Saat diajak bicara soal pilihan pakaian, menu makan malam, atau kegiatan akhir pekan, anak belajar bahwa pikirannya punya nilai.
Cara ini membantu anak lebih berani mengungkapkan pendapat. American Academy of Pediatrics atau AAP menilai komunikasi yang hangat dan responsif antara orang tua dan anak penting bagi perkembangan sosial dan emosional anak.
Hindari perbandingan yang merugikan
Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain dapat membuatnya merasa kurang mampu. Jika hal ini dilakukan terus-menerus, harga diri anak bisa turun dan kepercayaan dirinya ikut terhambat.
Fokus yang lebih sehat adalah melihat perkembangan anak dibandingkan dengan dirinya sendiri di masa lalu. Dengan begitu, anak belajar bahwa setiap orang punya kemampuan dan waktu berkembang yang berbeda.
Ajarkan cara menghadapi kegagalan
Kegagalan juga perlu diperlakukan sebagai bagian dari proses belajar. Saat anak gagal, orang tua sebaiknya tidak langsung menyalahkan atau mengambil alih masalah, tetapi membantu anak memahami pelajaran dari pengalaman itu.
Pendekatan ini membuat anak melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk tumbuh, bukan alasan untuk berhenti mencoba. American Psychological Association atau APA menyebut kemampuan bangkit dari kegagalan, atau resilience, dapat membantu anak menghadapi tantangan hidup dengan lebih percaya diri dan optimis.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut bekerja paling kuat jika dilakukan secara konsisten. Dari memberi kesempatan anak mandiri hingga mendengarkan suaranya, langkah kecil di rumah bisa menjadi fondasi penting bagi rasa percaya diri yang lebih sehat sejak dini.
Source: www.beautynesia.id






