Profil Fatimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI 2026 yang Menantang Prioritas Program MBG

Nama Fatimah Azzahra belakangan menjadi perhatian publik setelah tampil dalam diskusi soal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong. Wakil Ketua BEM UI periode 2026 itu ramai dibicarakan karena menyampaikan kritik tajam tentang prioritas pembangunan nasional.

Perdebatan itu cepat meluas di media sosial. Banyak orang kemudian mencari tahu sosok Fatimah, terutama setelah argumennya dianggap menyoroti persoalan mendasar yang dihadapi anak-anak di daerah.

Dalam forum tersebut, Bahtra Banong menjelaskan MBG tidak semata ditujukan untuk mengatasi stunting atau kekurangan gizi anak. Ia menyebut program itu juga memberi dampak ekonomi yang luas karena melibatkan petani, peternak, nelayan, serta pelaku UMKM dalam rantai pasok kebutuhan pangan.

Bahtra juga menyinggung kondisi anak-anak di wilayah kepulauan yang masih berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar. Menurutnya, pemenuhan gizi lewat MBG bisa membantu mereka belajar dengan lebih baik.

Adu argumen soal prioritas

Fatimah Azzahra menyampaikan pandangan berbeda dalam diskusi tersebut. Ia menilai pemerintah perlu lebih dulu membereskan persoalan akses pendidikan dan infrastruktur dasar sebelum menjalankan program tambahan seperti MBG.

Ia mencontohkan masih ada anak-anak yang kesulitan pergi ke sekolah karena jalan rusak, jarak tempuh yang jauh, dan keterbatasan fasilitas pendidikan. Menurutnya, hambatan seperti itu merupakan masalah yang lebih genting untuk segera diselesaikan.

Dalam forum itu, Fatimah menyatakan bahwa ada persoalan yang lebih mendesak daripada sekadar mengisi perut lapar, yakni ketika akses anak-anak ke sekolah masih terhambat. Ia juga menegaskan bahwa kebutuhan dasar dan standar pelayanan publik seharusnya dipenuhi lebih dulu agar program tambahan dapat berjalan efektif.

Pernyataan tersebut kemudian viral dan memicu perdebatan luas. Sebagian warganet mengapresiasi keberaniannya menyampaikan kritik secara terbuka, sementara perdebatan berkembang pada soal hubungan antara pemenuhan gizi anak dan akses pendidikan di daerah tertinggal.

Siapa Fatimah Azzahra

Fatimah Azzahra adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia menempuh pendidikan program Sarjana Kedokteran UI sejak Juli 2023 hingga 2027.

Sebelum menjadi Wakil Ketua BEM UI 2026, Fatimah sudah aktif dalam sejumlah organisasi kemahasiswaan di tingkat fakultas dan universitas. Rekam jejak ini ikut menjelaskan mengapa namanya cepat dikenal di lingkungan kampus.

Pada 2025, ia menjabat sebagai Kepala Komisi II di Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Indonesia. Dalam posisi itu, ia terlibat dalam penyusunan mekanisme fit and proper test, pembentukan panitia khusus, dan penguatan praktik demokrasi yang sehat di kalangan mahasiswa.

Ia juga pernah tampil sebagai orator dalam kegiatan yang diselenggarakan Dewan Guru Besar FKUI bersama BEM FKUI pada 2025. Dalam kesempatan itu, Fatimah menyampaikan orasi budaya yang merefleksikan dinamika profesi medis dan kebijakan kesehatan nasional dari sudut pandang mahasiswa kedokteran.

Pengalaman organisasinya juga terlihat saat dipercaya menjadi Ketua Community of Neuroscience and Psychiatry (CORE) FKUI pada 2024. Di organisasi itu, ia terlibat dalam pengembangan kurikulum internal, sistem kaderisasi, dan proses seleksi anggota.

Pada tahun yang sama, ia menjabat sebagai Project Officer kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan FSI FKUI. Ia memimpin koordinasi program pelayanan masyarakat, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga distribusi bantuan sosial.

Prestasi dan sorotan lain

Di luar aktivitas organisasi, Fatimah juga memiliki catatan prestasi akademik. Pada Mei 2025, ia bersama tim risetnya meraih Juara 1 dalam kompetisi penelitian nasional The 17th Liver Update.

Sorotan terhadap Fatimah tidak hanya datang dari forum diskusi publik. Setelah terpilih sebagai Wakil Ketua BEM UI 2026 bersama Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan, keduanya sempat mengalami teror dan ancaman.

Teror itu mulai terjadi pada 14 Januari 2026. Bentuk intimidasi yang diterima antara lain pengiriman paket COD berupa topeng senilai Rp1,8 juta, gunting rumput, dan kursi roda.

Ancaman juga disebut tidak hanya menyasar keduanya. Sejumlah mahasiswa yang mendukung pasangan pimpinan BEM UI itu dilaporkan ikut menerima paket misterius berisi benda mencurigakan, termasuk kain kafan.

Peristiwa tersebut sempat menjadi perhatian karena dinilai sebagai bentuk intimidasi terhadap kebebasan berorganisasi dan aktivitas demokrasi di kampus. Meski begitu, Fatimah tetap aktif menjalankan perannya di BEM UI.

Kini, nama Fatimah Azzahra kembali mencuat setelah adu argumen soal MBG menjadi viral. Sorotan terhadap dirinya bukan hanya karena kritik yang ia sampaikan, tetapi juga karena latar belakangnya sebagai mahasiswa kedokteran dengan pengalaman organisasi yang panjang di Universitas Indonesia.

Source: www.suara.com

Terkait