Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di Jawa Tengah kini wajib menyerap telur dan daging ayam dari peternak lokal untuk mendukung program makan bergizi gratis. Kebijakan ini menempatkan rantai pasok pangan dari daerah sendiri sebagai bagian penting dari pelaksanaan menu MBG di Jateng.
Kesepakatan itu dituangkan dalam komitmen bersama yang ditandatangani Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Badan Gizi Nasional, asosiasi peternak, dan koperasi peternak. Penandatanganan dilakukan dalam rapat koordinasi lanjutan di Kompleks Kantor Gubernur Jateng, Semarang, Jumat.
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen menegaskan bahwa SPPG di wilayahnya harus menaati kesepakatan tersebut. Ia menyebut pengaturan ini bukan hanya soal pasokan, tetapi juga soal penataan program MBG agar lebih terarah.
Menu dua kali sepekan
Dalam komitmen bersama itu, menu MBG di Jawa Tengah akan menggunakan telur dan daging ayam masing-masing dua kali dalam satu minggu. Pengaturan menu ini menjadi salah satu poin utama yang disepakati bersama para pihak terkait.
Asosiasi dan koperasi peternak ayam petelur maupun pedaging juga diminta menyiapkan pasokan sesuai standar kualitas yang telah disepakati. Mereka juga akan mengirimkan langsung bahan pangan ke lokasi dapur mitra SPPG.
Pembelian bahan pangan dilakukan langsung kepada asosiasi atau koperasi peternak rakyat di Jateng. Harga yang disepakati adalah telur Rp26.000 per kilogram dan daging ayam karkas Rp35.000 per kg atau setara Rp20.000 per kg berat hidup.
Gus Yasin menyebut pengaturan harga menjadi bagian penting agar tidak muncul disparitas harga di lapangan. Pemerintah juga akan memastikan transaksi berjalan sesuai harga acuan yang telah ditetapkan.
Dorong pasokan dari dalam daerah
Taj Yasin menegaskan bahwa SPPG di Jawa Tengah harus membeli pasokan makanan dari Jawa Tengah. Menurutnya, skema itu berlaku untuk pasokan yang dikelola koperasi maupun asosiasi peternak.
Ia juga menekankan bahwa kebijakan ini melindungi harga telur dan ayam di Jateng. Dengan pola pembelian langsung melalui koperasi atau asosiasi, pemerintah berharap peternak lokal mendapat kepastian pasar.
Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat BGN Tengku Syahdana mengatakan komitmen itu menjadi momentum untuk menyeragamkan pelaksanaan menu MBG di seluruh SPPG. Hasil kesepakatan akan disampaikan kepada Satgas percepatan MBG di kabupaten/kota serta seluruh SPPG di Jateng.
Pengawasan juga akan dilakukan agar kesepakatan benar-benar diterapkan. Tengku menyampaikan bahwa seluruh SPPG dan yayasan mitra minimal menggunakan telur dan daging ayam dua kali dalam menu mingguan.
Dampak bagi peternak lokal
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Jateng, Suwardi, menilai kesepakatan ini menjadi titik temu antara pemerintah dan peternak. Ia memperkirakan jika seluruh dapur di Jawa Tengah menggunakan telur dua kali dalam seminggu, maka serapan bisa mencapai sekitar 1.050 ton per minggu.
Angka itu menunjukkan besarnya kebutuhan pasokan jika kebijakan ini dijalankan secara konsisten di seluruh dapur SPPG. Bagi peternak lokal, kepastian serapan dari program MBG memberi ruang lebih besar untuk menyalurkan produksi ke pasar daerah sendiri.
Source: jateng.antaranews.com






