Perempuan Muda Indonesia Tak Lagi Mengejar Jabatan, AI Mengubah Cara Mereka Melihat Karier

Perempuan muda Indonesia sedang menghadapi titik perubahan besar di dunia kerja. Di satu sisi, mereka ingin karier yang memberi ruang hidup yang lebih manusiawi, tetapi di sisi lain mereka harus berhadapan dengan AI, biaya pendidikan, dan ketidakpastian ekonomi yang ikut mengubah arah pilihan mereka.

Temuan dalam Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027 menunjukkan bahwa kesuksesan kini tidak lagi semata diukur dari jabatan. Fleksibilitas menjadi nilai yang makin penting, terutama ketika keputusan karier perempuan sangat dipengaruhi kondisi hidup dan prioritas yang terus bergeser.

Karier tak lagi sekadar soal naik jabatan

Perempuan muda Indonesia memandang pekerjaan dengan cara yang lebih cair. Mereka tidak selalu mengejar posisi tinggi jika harus mengorbankan waktu untuk diri sendiri, keluarga, atau kebutuhan hidup lain yang dianggap lebih mendesak.

Situasi itu membuat perusahaan perlu membaca ulang cara mereka mempertahankan talenta perempuan. Organisasi yang tidak mampu menyediakan fleksibilitas berisiko kehilangan pekerja perempuan terbaiknya.

Tekanan itu juga terlihat dari pilihan hidup yang lebih personal. Ada perempuan yang memilih resign bukan karena gaji kecil, melainkan karena merasa waktunya habis untuk pekerjaan dan tidak lagi tersisa untuk diri sendiri.

Ada pula yang rela melepas karier demi mendampingi anak secara full time. Pilihan-pilihan seperti ini menunjukkan bahwa keputusan kerja perempuan muda sering berada di persimpangan antara aspirasi profesional dan tanggung jawab domestik.

Pendidikan masih dilihat sebagai jalan aman

Di tengah perubahan itu, pendidikan tetap dianggap investasi penting. Bagi banyak keluarga kelas menengah, biaya sekolah dan kuliah harus sebanding dengan peluang penghasilan di masa depan.

Beasiswa pun menjadi faktor yang semakin krusial. Data dari BPS menunjukkan mayoritas pelajar berasal dari kelompok aspiring middle class yang masih berada di garis rentan miskin, sehingga kondisi finansial menjadi pertimbangan utama.

Data Susenas pada Maret 2024 juga mencatat stagnansi atau penurunan jumlah siswa di sekolah negeri. Pada saat yang sama, jumlah siswa di sekolah swasta justru tumbuh konsisten.

Pola itu mengisyaratkan bahwa semakin banyak keluarga memilih sekolah swasta karena pertimbangan keamanan dan kualitas lingkungan belajar. Bagi perempuan muda yang sedang menyiapkan masa depan kerja, pendidikan tetap menjadi modal awal yang tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi ekonomi keluarga.

AI tumbuh cepat, tetapi perempuan belum ikut merata

Gelombang kecerdasan buatan memperkuat tantangan baru. Penggunaan AI di Indonesia tumbuh pesat, tetapi partisipasi perempuan dalam bidang ini masih menunjukkan kesenjangan yang nyata.

Data Coursera menunjukkan ada 49 persen dari total pelajar di Indonesia, dengan 30 persen di antaranya merupakan peserta yang mempelajari AI. Sementara itu, laporan PwC mencatat 69 persen pekerja di Indonesia menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir.

Meski penggunaan AI meluas, hanya sedikit perempuan yang memiliki minat belajar tinggi di bidang ini. Kesenjangan tersebut tidak hanya soal motivasi, tetapi juga akses yang terbatas dan representasi perempuan yang masih rendah.

Ada juga soal biaya yang mahal dan perbedaan tingkat keterlibatan. Dari 69 persen pekerja yang menggunakan AI, hanya 16 persen yang menggunakannya setiap hari.

Kesenjangan baru bisa melebar jika tak diantisipasi

Masalahnya bukan hanya soal keterampilan teknis. Dalam konteks ini, banyak perempuan tertinggal dalam kesejahteraan ekonomi, sehingga sulit mencapai level pemanfaatan AI yang intensif.

Perempuan juga semakin sering menjadi pusat pengambilan keputusan ekonomi dalam keluarga. Namun model karier mereka cenderung fleksibel dan tidak linear, sehingga mereka membutuhkan jalur belajar dan kerja yang lebih adaptif.

Jika perempuan tidak lebih proaktif masuk ke ruang AI, kesenjangan di bidang ini berisiko makin lebar. Di saat yang sama, tekanan untuk bertahan hidup, menjaga keluarga, dan tetap relevan di pasar kerja membuat generasi perempuan muda Indonesia harus mengambil keputusan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar memilih pekerjaan.

Source: www.idntimes.com

Terkait