Saat Hidup Terasa Buntu, Good Duck Tawarkan Ruang Refleksi Tanpa Nasihat yang Terasa Ringan

Author: Qoo Media

Di tengah tekanan transisi karier, perubahan prioritas, dan pertanyaan tentang masa depan, kebutuhan untuk berhenti sejenak dan menata pikiran sering kali belum mendapat ruang yang memadai. Good Duck mencoba mengisi celah itu lewat “Ducks After Dark”, sebuah ruang refleksi yang dirancang aman, ringan, dan tetap menyenangkan.

Alih-alih menawarkan kelas motivasi atau sesi dengan jawaban siap pakai, Good Duck justru mendorong peserta menemukan jawabannya sendiri. Pendekatan ini menjadi daya tarik utama karena refleksi dilakukan secara personal, tanpa nasihat dan tanpa instruksi yang mengarahkan kesimpulan.

Founder Good Duck, Dyah Oetari, menyebut gagasan ini lahir dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki pemikiran yang unik. Karena itu, ruang yang dibangun bukan untuk menggurui, melainkan memberi kesempatan bagi individu untuk hadir penuh dan melihat ke dalam dirinya sendiri.

Dalam media experience yang digelar di SUBO FAMILY Cipete, para jurnalis diajak merasakan langsung cara kerja ruang reflektif tersebut. Pengalaman yang ditawarkan tidak berbentuk materi satu arah, tetapi serangkaian prompt yang memancing peserta untuk menelaah pertanyaan yang belum terjawab dalam hidup mereka.

Refleksi lewat tangan, bukan ceramah

Good Duck memakai metode LEGO® SERIOUS PLAY®, yang dikembangkan di IMD Business School Swiss bersama The LEGO Group. Metode ini lazim digunakan dalam konteks korporat, tetapi oleh Good Duck diadaptasi untuk kebutuhan refleksi personal.

Peserta tidak diminta menuliskan jawaban panjang atau mengutarakan pendapat secara abstrak. Mereka justru diajak “berpikir dengan tangan” dengan menggunakan bricks sebagai medium untuk membentuk model yang mewakili pikiran, perasaan, atau situasi yang sedang dihadapi.

Pendekatan ini membuat proses refleksi terasa lebih ringan. Saat tangan sibuk membangun, ekspresi pikiran yang sulit diungkapkan dengan kata-kata justru bisa muncul dalam bentuk yang konkret dan dapat dilihat secara fisik.

Dyah Oetari menegaskan bahwa Good Duck bukan workshop. Tidak ada kesimpulan yang sudah disiapkan dan tidak ada jawaban yang ditentukan sejak awal, karena inti prosesnya adalah membantu peserta sampai pada kejernihan yang lahir dari dirinya sendiri.

Fasilitator tidak mengarahkan jawaban

Salah satu pembeda utama Good Duck dengan ruang refleksi lain terletak pada peran fasilitator. Fasilitator tidak bertugas memberi saran atau mengarahkan peserta pada satu keputusan tertentu, melainkan memancing narasi dari model yang telah dibuat.

Peserta hanya menerima prompt reflektif, lalu menanggapinya dengan menyusun bricks. Dari model itu, proses percakapan berkembang untuk membantu peserta memahami makna di balik bentuk yang mereka bangun sendiri.

Menurut Dyah, pengalaman lebih dari lima tahun memfasilitasi peserta dari beragam latar belakang menunjukkan pola yang serupa. Kesadaran tentang kehidupan yang dijalani saat ini dan kemungkinan pilihan yang bisa diambil kerap muncul dari proses tersebut.

Narasi yang diangkat Good Duck pun dekat dengan kehidupan sehari-hari. Fokusnya berada pada persimpangan pilihan hidup yang sering muncul dalam berbagai fase, baik saat seseorang masih muda maupun ketika memasuki tahap kehidupan yang berbeda.

Untuk menjaga kualitas proses, fasilitator Good Duck telah mengantongi sertifikasi resmi dari The Association of Master Trainers in LEGO® SERIOUS PLAY® Method di Billund, Denmark. Hal ini menjadi bagian penting karena metode yang digunakan menuntut kemampuan memandu refleksi tanpa mendominasi hasilnya.

Dua format sesi dengan pengalaman berbeda

Saat ini Good Duck hadir dalam dua format. “Ducks After Dark” merupakan sesi offline bulanan dengan slot terbatas yang menggabungkan refleksi komunal, musik pengiring, dan makan malam bersama.

Format ini dirancang untuk menghadirkan suasana yang lebih hangat dan intim. Unsur komunal memberi kesempatan bagi peserta untuk berbagi ruang dengan orang lain yang sama-sama sedang mencari kejernihan, tanpa menghilangkan sifat personal dari proses refleksinya.

Selain format luring, Good Duck juga memiliki “The Afternoon Room” yang digelar secara online setiap Sabtu melalui Google Meet. Sesi ini dibatasi maksimal 12 peserta agar pengalaman refleksi tetap terjaga dan interaksi bisa berlangsung lebih fokus.

Sebelum sesi online dimulai, peserta akan menerima brick kit dan kartu refleksi yang dikirim langsung ke rumah. Dengan begitu, pengalaman membangun model tetap menjadi bagian utama, meski dilakukan dari lokasi yang berbeda.

Biaya pendaftaran “Ducks After Dark” dipatok Rp980 ribu per orang. Sementara “The Afternoon Room” dibanderol Rp680 ribu, dengan pendaftaran melalui situs goodduck.id minimal seminggu sebelum acara.

Di tengah semakin banyaknya ruang pengembangan diri yang cenderung penuh arahan, pendekatan Good Duck menonjol karena memberi tempat bagi peserta untuk menyusun makna sendiri. Bagi mereka yang sedang berada di persimpangan hidup, format refleksi seperti ini menawarkan cara yang lebih tenang untuk memahami apa yang ingin dilakukan berikutnya.

Source: www.suara.com
Terbaru