Kebiasaan oversharing di media sosial ternyata bukan sekadar soal suka bercerita. Perilaku ini juga kerap dikaitkan dengan ciri kepribadian tertentu yang bisa terlihat dari cara seseorang membagikan hidupnya di linimasa.
Di tengah penggunaan Facebook, TikTok, hingga Instagram yang makin lekat dalam keseharian, batas antara berbagi dan terlalu terbuka semakin tipis. Saat seseorang membagikan hampir semua detail hidupnya, ada kemungkinan sifat ekstrovert, ceroboh, suka mencari validasi, hingga perfeksionis ikut tampak di sana.
Ekstrovert cenderung lebih aktif berbagi
Orang ekstrovert umumnya menyukai interaksi dan aktivitas yang terasa menyenangkan. Karena itu, mengunggah banyak hal di media sosial sering menjadi bagian dari cara mereka mengekspresikan diri.
Mereka memandang hidup sebagai petualangan yang seru. Bagi sebagian ekstrovert, membagikan momen di media sosial adalah cara untuk menunjukkan sisi kehidupan yang menarik.
Kebiasaan ini juga bisa terkait dengan kecerobohan
Di sisi lain, oversharing dapat berhubungan dengan sifat ceroboh. Saat terlalu asyik bermain media sosial, seseorang bisa tanpa sadar membagikan hal-hal privat yang semestinya disimpan.
Contohnya termasuk membagikan lokasi secara real-time, masalah keuangan, atau perseteruan dengan orang lain. Kebiasaan memposting tanpa jeda membuat orang sering tidak sempat memikirkan risiko dari informasi yang dibagikan.
Istirahat sejenak dari ponsel dinilai penting untuk mencegah kecerobohan itu. Psikoterapis Rachel Goldsmith Turow menyebut pembatasan penggunaan media sosial hingga 15 menit sehari dapat mengurangi risiko kecemasan, depresi, dan FOMO.
Dorongan validasi juga sering muncul
Oversharing di medsos juga sering dikaitkan dengan kebutuhan akan validasi. Mereka biasanya sangat bergantung pada jumlah like dan komentar yang diterima.
Bagi sebagian orang, angka itu menjadi ukuran perhatian dari orang lain. Psikolog Susan Krauss Whitbourne menjelaskan bahwa orang yang terus-menerus membutuhkan persetujuan cenderung menekan perasaan dan pikiran mereka yang sebenarnya demi menyenangkan orang lain.
Perfeksionis ingin tampil tanpa celah
Ciri lain yang kerap muncul adalah perfeksionisme. Orang seperti ini tidak hanya memakai media sosial untuk menunjukkan kehidupan nyata, tetapi juga untuk menampilkan bagian terbaik dari hidupnya.
Mereka cenderung memposting momen-momen terbaik dan menghindari sisi terburuk. Dorongan untuk mempertahankan citra yang sempurna membuat media sosial terasa seperti panggung yang harus selalu terlihat rapi.
Namun, pola itu tidak selalu sehat. Penelitian dari Journal of Social of Clinical Psychology menyebut perfeksionis di media sosial justru sering berkaitan dengan depresi, keterasingan sosial, dan kurangnya rasa memiliki di kehidupan nyata.
Pada akhirnya, oversharing di media sosial bisa menjadi cerminan cara seseorang memandang diri sendiri dan penilaian orang lain. Dari ekstrovert yang gemar berbagi, pengguna yang ceroboh, pencari validasi, hingga perfeksionis, perilaku itu memperlihatkan bahwa linimasa sering kali menyimpan lebih banyak petunjuk kepribadian daripada yang tampak sekilas.
