Film Indonesia Masuk Jalur Baru, Blockchain dan AI Dibawa untuk Tembus Pasar Global

Author: Qoo Media

Industri film Indonesia mulai memasuki fase baru ketika teknologi blockchain dan kecerdasan buatan dipakai bukan hanya sebagai alat pendukung, tetapi sebagai fondasi ekosistem bisnis. Langkah ini muncul saat akses pendanaan dan distribusi masih menjadi hambatan utama bagi banyak karya lokal untuk meluas ke pasar internasional.

Peluncuran ekosistem berbasis blockchain dan AI di Jakarta pada 26 Juni 2026 menandai upaya baru untuk mengubah cara film didanai, diproduksi, dan didistribusikan. Inisiatif ini juga menempatkan penonton dan pemegang token sebagai bagian dari interaksi yang lebih dekat dengan proses kreatif.

SHOW Token memperkenalkan ekosistem tersebut dengan tema “Bridging Crypto and Entertainment: Invest Beyond the Screen”. Sasaran utamanya adalah generasi muda yang akrab dengan aset digital dan teknologi, sekaligus pelaku industri kreatif yang membutuhkan model bisnis lebih terbuka.

Fokus pada masalah lama industri

Selama ini, industri film Indonesia dinilai memiliki kekayaan cerita dan talenta, tetapi belum sepenuhnya didukung infrastruktur global yang memadai. Hambatan itu terlihat pada sulitnya pendanaan dan terbatasnya jalur distribusi yang membuat banyak karya berhenti di pasar domestik.

CEO SHOW Token Akshay Melwani menilai Indonesia memiliki narasi yang kuat, namun akses menuju pasar internasional masih tertahan oleh keterbatasan sistem. Karena itu, perusahaan membangun ekosistem digital agar karya lokal dapat diakses, dimiliki, dan diapresiasi lebih luas tanpa terlalu bergantung pada perantara.

Model yang ditawarkan tidak berhenti pada penggalangan dana. Platform ini dirancang untuk mencakup pendanaan, produksi, distribusi, hingga keterlibatan audiens dalam industri film dan hiburan.

Empat pilar ekosistem

Ekosistem SHOW Token dibangun di atas empat pilar utama. Pilar pertama adalah SHOW Movie dengan konsep watch and earn, lalu SHOW AI & Marketplace yang memanfaatkan AI untuk produksi konten kreatif.

Pilar berikutnya adalah SHOW Kids yang berfokus pada pengembangan animasi berbasis budaya lokal. Satu pilar lain adalah token digital yang digunakan sebagai alat transaksi dan interaksi di dalam platform.

Keberadaan AI dalam ekosistem ini diarahkan untuk mendukung proses produksi konten kreatif. Sementara blockchain dipakai untuk membangun mekanisme transaksi dan keterlibatan yang lebih terdesentralisasi dalam ekosistem film.

Bagi pemegang token, platform ini membuka sejumlah bentuk partisipasi baru. Di antaranya adalah kesempatan ikut membiayai film melalui skema decentralized executive producing, akses eksklusif ke proses produksi, serta hak memberikan suara pada keputusan kreatif tertentu.

Platform ini juga menawarkan berbagai bentuk apresiasi berbasis kekayaan intelektual atau IP. Skema tersebut menunjukkan bahwa relasi antara pembuat karya, investor, dan penonton mulai digeser ke model yang lebih interaktif.

Target investasi dan daftar proyek

SHOW Token menargetkan investasi hingga US$100 juta di Asia Tenggara untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif digital. Indonesia diposisikan bukan sekadar sebagai pasar, tetapi sebagai pusat talenta kreatif yang dinilai membutuhkan akses pendanaan dan sistem distribusi yang lebih efisien.

COO SHOW Token Joshua Khubani menyatakan perusahaan ingin membantu menjembatani kesenjangan itu. Fokusnya adalah memperluas peluang bagi kreator lokal agar bisa terhubung dengan sistem pembiayaan dan distribusi yang lebih modern.

Langkah awal perusahaan terlihat dari keterlibatan sebagai Executive Producer dalam film horor Cerita Lila hasil kolaborasi dengan MVP Pictures. Film itu disebut telah menarik sekitar 500 ribu penonton pada pekan pertama penayangannya.

Kolaborasi berikutnya akan berlanjut melalui film Sihir Tanah Kubur yang dijadwalkan tayang pada Juli 2026. Sepanjang tahun ini, perusahaan menargetkan ikut mendanai lebih dari 30 film horor dan drama bersama sejumlah rumah produksi.

MVP Pictures dan A&Z Production termasuk di antara mitra yang disebut dalam rencana pendanaan tersebut. Beberapa judul yang masuk dalam daftar antara lain Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Taboo, Siti Vampire, dan Sebelum Tiga Puluh.

Peluang baru bagi kreator lokal

Pendekatan ini memperlihatkan perubahan penting dalam industri film, terutama pada cara pembiayaan dan distribusi dibuka ke partisipasi yang lebih luas. Penulis, sutradara, animator, dan kreator lokal berpotensi memperoleh ruang baru untuk mengembangkan karya tanpa bergantung sepenuhnya pada pola konvensional.

Di saat yang sama, pengembangan ekosistem ini juga diarahkan untuk memperluas kolaborasi. Harapannya, pemerintah, rumah produksi, komunitas teknologi, dan pelaku industri kreatif dapat bergerak dalam satu jaringan yang lebih terhubung.

Bila model ini berkembang sesuai target, blockchain dan AI tidak hanya hadir sebagai tren teknologi. Keduanya bisa menjadi instrumen yang mendorong industri film Indonesia menuju sistem yang lebih berkelanjutan dan lebih siap menembus pasar internasional.

Source: www.suara.com
Terbaru