Jelang IPO RANS, Produk Makanannya Disorot Sepi Pembeli dan Stok Malah Sering Kosong

Rencana PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk melantai di Bursa Efek Indonesia memicu sorotan baru ke lini bisnis konsumennya. Di tengah persiapan IPO, produk Rans Food justru ramai dibahas karena dinilai kurang dikenal, penjualannya belum menonjol, dan stok di marketplace kerap kosong.

Perhatian itu muncul di media sosial Threads setelah publik mencermati portofolio bisnis RANS. Salah satu yang paling banyak disebut adalah Rans Food, unit usaha makanan dan minuman yang berada di bawah PT Rans Nikmat Sejahtera.

PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk dijadwalkan resmi listing pada 10 Juli 2026. Masa penawaran umum berlangsung pada 2-8 Juli 2026 dengan harga saham Rp170 per lembar.

Dalam aksi korporasi ini, perusahaan melepas 2,525 miliar saham baru. Jumlah itu setara sekitar 20,02% dari total modal yang ditempatkan dan disetor, dengan target dana segar Rp429,25 miliar.

Dana hasil penawaran saham itu disebut akan digunakan untuk berbagai ekspansi bisnis. Namun, di saat minat investor mulai dibangun, sebagian perhatian publik justru tertuju pada performa produk yang sudah lebih dulu beredar di pasar.

Sorotan ke produk Rans Food

Rans Food diperkenalkan ke publik pada pertengahan 2024 melalui akun Instagram resminya, @ransfood.official. Unit ini bergerak di bidang food and beverage dengan fokus pada produk makanan kemasan.

Produk yang paling menonjol adalah camilan rumput laut bermerek Rumut. Di marketplace, merek ini hadir dalam empat varian, yakni Rumut Panggang, Rumut Goreng, Rumut Tabur, dan Rumut Roll.

Rumut juga dipasarkan dalam beberapa rasa seperti original, barbeque, ayam, hingga sapi. Untuk satu box berisi 12 sachet, produk ini dijual dengan harga Rp29.000.

Pemantauan di Shopee menunjukkan produk Rumut memang memiliki pembeli. Namun, tingkat penjualannya masih berada di kisaran ratusan pcs, sehingga belum bisa disebut sangat tinggi.

Di sisi lain, pilihan produk yang tersedia juga tidak lengkap. Untuk snack Rumut, varian yang masih tersedia tercatat tinggal goreng dan panggang.

Sorotan lain datang dari produk Naisss, camilan manis dalam bentuk stik renyah berbahan dasar tepung atau pati. Produk ini ditawarkan dalam dua rasa, yakni keju dan cokelat.

Naisss dijual seharga Rp25.000 untuk satu box isi 10. Saat dipantau di Shopee, produk tersebut berstatus habis terjual atau stok kosong, meski angka penjualannya masih berada di level puluhan.

Kondisi itu memunculkan respons beragam dari warganet. Ada yang menilai stok kosong tidak sejalan dengan angka penjualan yang masih terbatas, sementara yang lain mempertanyakan seberapa luas produk itu dikenal publik.

Antara minat pasar dan ketersediaan barang

Pantauan di marketplace memperlihatkan dua hal yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, produk Rans Food sudah berhasil masuk ke kanal penjualan digital dan membukukan transaksi, tetapi di sisi lain capaian itu belum menunjukkan lonjakan besar.

Situasi stok juga ikut memperkuat sorotan. Ketika beberapa produk tercatat kosong, publik tidak hanya melihatnya sebagai tanda permintaan, tetapi juga mengaitkannya dengan distribusi, pengelolaan inventori, atau skala penjualan yang belum luas.

Perbincangan di media sosial kemudian berkembang dari sekadar komentar produk menjadi pembahasan tentang kesiapan bisnis konsumen di bawah grup RANS. Hal itu wajar karena IPO biasanya membuat publik melihat lebih dekat fondasi usaha yang dimiliki emiten.

Rans Food sendiri bukan satu-satunya bisnis di bawah ekosistem RANS, tetapi menjadi salah satu yang paling mudah dinilai publik karena produknya langsung dijual ke konsumen. Karena itu, performa di marketplace menjadi indikator yang cepat memancing penilaian pasar.

Di tengah tingginya perhatian terhadap jadwal IPO, detail seperti ketersediaan stok, variasi produk, dan angka penjualan di e-commerce ikut menjadi bahan pembicaraan. Bagi perusahaan yang tengah menuju bursa, respons pasar terhadap produk konsumen seperti ini bisa ikut membentuk persepsi publik terhadap kekuatan bisnis yang sedang dibawa ke lantai bursa.

Source: www.suara.com
Terkait