Banyak orang mengira hidup sengsara selalu datang dari masalah besar. Padahal, menurut psikologi, kebiasaan kecil yang terus diulang justru sering membuat suasana hati makin berat dan hidup terasa lebih buruk.
Yang membuat kondisi ini berbahaya, rasa tidak bahagia juga bisa menular. Penelitian Terman Study dari Stanford menyebut sering berada di dekat orang yang tidak bahagia dapat memperburuk kesehatan dan memperpendek umur, sehingga kebiasaan negatif perlu dikenali sejak awal.
Terlalu menunggu masa depan untuk bahagia
Salah satu kebiasaan yang paling sering menjebak adalah pola pikir “aku akan bahagia ketika…”. Kalimat ini biasanya digantungkan pada promosi, gaji lebih tinggi, atau hubungan baru, padahal kebahagiaan jadi terlalu bergantung pada kondisi luar.
Masalahnya, kondisi hidup yang membaik tidak selalu otomatis membuat seseorang lebih bahagia. Psikologi justru menekankan pentingnya menikmati momen saat ini karena kebiasaan itu bisa membuat hidup terasa lebih positif, sementara masa depan tetap tidak bisa dijamin.
Terus mengurung diri saat suasana hati buruk
Kebiasaan lain yang bikin hidup sengsara adalah menghindari orang lain dan memilih tetap di rumah ketika sedang sedih. American Psychological Association menyebut bersosialisasi saat suasana hati sedang buruk tetap bermanfaat untuk membantu memperbaiki mood.
Sebaliknya, terlalu lama diam sendiri tanpa interaksi bisa merusak suasana hati. Karena itu, keluar rumah dan berbaur dengan orang lain sering menjadi langkah sederhana untuk memutus siklus emosi negatif.
Merasa diri hanya sebagai korban
Banyak orang yang hidupnya terasa berat mulai percaya bahwa hidupnya tidak bisa dikendalikan. Dari sana muncul kebiasaan melihat diri sendiri sebagai korban, seolah semua hal buruk datang tanpa ada ruang untuk bertindak.
Pola pikir ini menumbuhkan rasa tidak berdaya. Akibatnya, motivasi untuk memperbaiki keadaan ikut turun dan seseorang cenderung pasrah pada hidupnya.
Psikologi menilai bersedih memang manusiawi. Namun, kesedihan tidak harus berubah menjadi sikap menyerah, karena masa depan tetap bisa dipengaruhi oleh tindakan yang diambil hari ini.
Terlalu sering mengeluh
Kebiasaan mengeluh juga masuk daftar perilaku yang membuat hidup terasa sengsara. Dalam studi dari Stanford, terlalu banyak mengeluh bahkan disebut dapat membuat seseorang menjadi lebih bodoh.
Saat keluhan diulang terus-menerus, keyakinan negatif ikut menguat. Tanpa disadari, kata-kata negatif itu berubah menjadi semacam afirmasi yang menahan seseorang tetap berada dalam rasa tidak bahagia.
Dampaknya tidak berhenti pada diri sendiri. Orang di sekitar juga bisa merasa tidak nyaman dan menjadi malas berada dekat dengan sosok yang terus mengeluh.
Empat kebiasaan ini menunjukkan bahwa sumber hidup sengsara tidak selalu datang dari keadaan luar semata. Dalam banyak kasus, pola pikir dan respons harian justru memperkuat rasa tidak bahagia dari waktu ke waktu.
Source: www.beautynesia.id






