Sepasang sepatu yang penuh tanah pernah membuat Arie Untung merasa malu di hadapan banyak orang. Kini, kenangan itu justru menjadi gambaran paling kuat tentang kebanggaan besar ayahnya terhadap perjalanan karier sang presenter.
Ayah Arie, Untung bin Syamsuddin, telah meninggal dunia dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Di tengah kehilangan tersebut, Arie mengenang dukungan ayahnya yang tulus sejak masa awal ia meniti karier di dunia hiburan.
Momen yang terus melekat terjadi ketika sang ayah mendatangi sebuah pusat perbelanjaan saat berlangsung pemilihan VJ baru. Jarak rumah mereka yang jauh dari pusat kota membuat sepatu sang ayah kotor dan berlumur tanah saat tiba di lokasi.
Namun, kondisi itu tidak mengurangi keberaniannya untuk berkeliling mal dan memberitahu orang-orang bahwa pria yang berdiri di atas panggung adalah putranya. Tindakan sederhana itu dilakukan sebagai ungkapan bangga, tanpa memedulikan penilaian orang di sekitarnya.
Arie mengaku sempat menegur ayahnya karena merasa tidak enak dengan keadaan sepatu tersebut. “Wah bapak jangan bikin malu dong di sini, bersihin dulu sepatunya,” kenang Arie saat mengenang responsnya kala itu.
Setelah dewasa, makna peristiwa itu berubah bagi Arie Untung. Ia melihat keberanian ayahnya naik ke panggung hanya untuk menyebut putranya sebagai bentuk cinta dan kebanggaan yang sangat besar.
Nama panggung sebagai penghormatan
Nama Untung yang melekat pada Arie selama puluhan tahun ternyata bukan nama aslinya. Nama itu merupakan nama sang ayah dan dipilih Arie sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang selalu mendukungnya.
Arie berharap setiap kebaikan yang dilakukan dengan nama tersebut dapat menjadi pahala jariah bagi orang tuanya. “Karena nama Arie Untung sebenarnya nama dia, sebenarnya bukan nama asli saya,” tuturnya.
Menurut penuturan Arie kepada hot.detik.com di TPU Kampung Kandang, Jakarta Selatan, ayahnya berusaha tampil rapi dan tidak memperlihatkan kesulitan hidup di depan anak-anak. Sikap itu membuat keluarga melihat sosok ayah yang necis dan tenang, meski perjuangannya di luar rumah tidak selalu terlihat.
Sang ayah disebut masih menggunakan sepeda motor untuk bekerja hingga usia 52 tahun. Tujuan utamanya adalah memastikan anak-anaknya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Bagi Arie, perjuangan itu memperlihatkan sisi lain dari seorang ayah yang kerap menyimpan beban hidup sendiri. Di depan keluarga, ia tetap menjaga penampilan dan berusaha tidak menunjukkan masalah yang sedang dihadapi.
Dukungan tanpa pamrih itu kemudian menjadi salah satu sumber inspirasi Arie dalam berkarya. Kenangan tentang sepatu kotor di pusat perbelanjaan kini tidak lagi dipandang sebagai kejadian yang memalukan, melainkan bukti kasih seorang ayah kepada anaknya.
Arie juga meminta doa dari orang-orang yang pernah mengenal ayahnya, yang akrab disapa Kukung. Ia menyampaikan bahwa keluarga terbuka untuk menyelesaikan persoalan apabila masih ada urusan yang belum tuntas dengan almarhum.
Source: hot.detik.com






