Anting Iran Berusia 3.000 Tahun di Telinga Zendaya Memicu Tuduhan Dominasi Budaya

Penampilan Zendaya dengan gaun putih Jacquemus di acara promosi The Odyssey di London memantik perdebatan yang jauh melampaui dunia mode. Sorotan utama justru tertuju pada anting emas kuno asal Iran yang diperkirakan telah berusia sekitar 3.000 tahun.

Bagi sejumlah sejarawan dan arkeolog, artefak tersebut tidak semestinya diperlakukan sebagai aksesori karpet merah. Pemakaiannya dinilai membuka kembali perdebatan tentang kepemilikan, pelestarian, serta relasi Barat dengan warisan budaya dari negara lain.

Artefak dari harta karun Ziwiye

Anting yang dikenakan Zendaya menggunakan medali emas kuno yang dikaitkan dengan harta karun Ziwiye. Menurut Britannica, koleksi tersebut termasuk karya seni periode Median dari abad ke-7 Sebelum Masehi.

Piringan emas itu kemudian didesain ulang menjadi perhiasan modern oleh perancang asal London, Glenn Spiro, pada 2018. Mengutip informasi yang dimuat lifestyle.kompas.com, artefak tersebut dirangkai dengan berlian dan emas kuning 18 karat.

AspekDetail
Asal artefakIran, bagian dari harta karun Ziwiye
PeriodeAbad ke-7 Sebelum Masehi
Material utamaMedali emas kuno, berlian, dan emas kuning 18 karat
Desain ulangGlenn Spiro pada 2018

Karya tersebut kemudian diakuisisi oleh Barron London pada 2020 untuk koleksi pribadi galerinya. Galeri di Mayfair itu dikenal mengoleksi perhiasan yang memadukan artefak bersejarah dengan rancangan kontemporer.

Spiro pernah menggambarkan daya tarik pendekatan itu dalam wawancara dengan majalah Galeria pada 2025. “Kamu bisa memakai sesuatu di lehermu yang berasal dari ribuan tahun lalu, tetapi tetap terlihat kontemporer dan keren,” ujarnya.

Kritik soal kuasa dan warisan budaya

Kritik paling tajam datang dari Zirrar Ali, penulis berbasis di London yang menekuni sejarah, seni, dan arsitektur Islam. Ia menilai keputusan memakai artefak tersebut tidak peka terhadap persoalan etika dan sejarah yang berkaitan dengan Global Selatan.

Dalam pernyataannya kepada The New Arab, Ali mengaitkan tindakan itu dengan cara pandang orientalis. Ia menilai tokoh publik Barat kerap mengabaikan konteks budaya ketika menggunakan warisan dari wilayah lain sebagai bagian dari penampilan.

“Menghiasi diri dengan artefak, baik dari museum maupun koleksi pribadi, sering kali dipandang tidak berbahaya, tetapi pada kenyataannya bisa merupakan bentuk unjuk kekuasaan dan dominasi,” kata Ali. Menurutnya, tindakan itu dapat memberi kesan bahwa satu budaya menegaskan kepemilikan atas warisan budaya lain.

Ali juga menyoroti kecenderungan untuk menjadikan peninggalan kerajaan besar masa lalu sebagai aksesori mode selebritas. Baginya, praktik tersebut dapat menyiratkan sikap arogan terhadap asal-usul benda dan masyarakat yang memiliki kedekatan sejarah dengannya.

Perdebatan ini semakin sensitif karena sejarah kuno Timur Tengah sering dipisahkan dari realitas negara modern di kawasan tersebut. Sejumlah tanggapan di media sosial pun menyebut perhiasan itu sebagai simbol kolonialisme dan mendesak agar benda bersejarah dikembalikan ke tanah asalnya.

Penjelasan dari Barron London

Barron London menanggapi kritik yang muncul dengan menegaskan bahwa sepasang anting tersebut tidak dijual. Galeri itu juga menyatakan medali emas dipasang menggunakan metode penjepit sederhana yang tidak invasif.

Menurut pihak galeri, metode tersebut dipilih agar artefak tidak diubah ataupun dirusak. Dengan demikian, piringan emas kuno itu diklaim tetap mempertahankan keasliannya meski digunakan sebagai bagian dari perhiasan modern.

Dalam pernyataan tertulis yang dikutip CNN, perwakilan Barron London mengatakan bahwa warisan budaya seharusnya mendorong diskusi yang penting. Mereka menyambut dialog yang berlandaskan informasi mengenai asal-usul, pelestarian, dan apresiasi terhadap keahlian pertukangan.

Barron London juga menyatakan berharap anting tersebut dapat mengingatkan publik pada warisan artistik, budaya, dan sejarah Iran yang panjang. Namun, penjelasan itu tidak mengakhiri perdebatan tentang batas antara apresiasi terhadap artefak dan penggunaan warisan budaya sebagai simbol kemewahan.

Terkait