Studi Semaglutide pada Skizofrenia, Berat Badan Turun Tanpa Gejala Memburuk

Perawatan skizofrenia tidak cukup hanya mengejar gejala kejiwaan yang stabil. Risiko obesitas, prediabetes, diabetes melitus tipe 2, dan penyakit jantung juga perlu ditangani karena dapat memengaruhi kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.

Sebuah uji klinis menemukan perbaikan metabolik dapat dicapai tanpa memperburuk kondisi psikiatri pasien yang diteliti. Hasil ini memberi perhatian baru pada pentingnya perawatan terpadu antara kesehatan mental dan kesehatan fisik.

Temuan tersebut berasal dari The HISTORI Randomized Clinical Trial yang dipublikasikan dalam JAMA Psychiatry. Studi itu menguji penggunaan semaglutide pada pasien yang menjalani terapi antipsikotik generasi kedua.

Menurut laporan CNN Indonesia, penelitian melibatkan 154 pasien berusia 18 hingga 60 tahun dengan diagnosis skizofrenia atau gangguan terkait. Seluruh peserta mengalami prediabetes serta obesitas atau kelebihan berat badan.

Antipsikotik generasi kedua dapat membantu mengendalikan gejala kejiwaan, tetapi sebagian pasien juga menghadapi risiko perubahan metabolisme dan kenaikan berat badan. Faktor pola hidup ikut dapat memperbesar kerentanan terhadap gangguan gula darah dan penyakit kardiovaskular.

Hasil metabolik yang menonjol

Selama 30 minggu, peserta dibagi secara acak untuk menerima semaglutide dosis 1 miligram atau plasebo. Terapi antipsikotik mereka tetap dilanjutkan sepanjang masa penelitian.

KelompokIntervensiHasil yang dilaporkan
SemaglutideSemaglutide 1 miligram selama 30 mingguBerat badan turun rata-rata 9,21 kg; HbA1c turun 0,46%; 81% mencapai HbA1c normal
PlaseboPlasebo selama 30 minggu19% peserta mencapai HbA1c normal di bawah 5,7%

Pada kelompok semaglutide, rata-rata berat badan turun hingga 9,21 kilogram. Kadar HbA1c, indikator pengendalian gula darah, juga berkurang sebesar 0,46 persen.

Sebanyak 81 persen peserta yang mendapat semaglutide mencapai HbA1c normal, yakni di bawah 5,7 persen. Pada kelompok plasebo, proporsi peserta yang mencapai angka tersebut hanya 19 persen.

Studi ini juga mencatat peningkatan kolesterol baik atau HDL serta penurunan trigliserida pada kelompok yang mendapat semaglutide. Perubahan itu disertai perbaikan kualitas hidup dari sisi kesehatan fisik.

Gejala kejiwaan tidak memburuk

Kekhawatiran utama dalam penanganan metabolik pada pasien skizofrenia adalah kemungkinan terganggunya kestabilan psikiatri. Namun, selama penelitian tidak ditemukan perburukan gejala skizofrenia maupun penurunan kualitas hidup terkait kesehatan mental.

Hasil tersebut menunjukkan gangguan metabolik dapat ditangani bersamaan dengan terapi utama skizofrenia pada kelompok pasien dalam studi ini. Semaglutide dalam penelitian ini bukan obat untuk skizofrenia, melainkan digunakan untuk memperbaiki kondisi metabolik pasien yang memakai antipsikotik.

Pendekatan terpadu dapat melibatkan psikiater, dokter penyakit dalam atau endokrinolog, ahli gizi, psikolog, dan perawat sesuai kebutuhan setiap pasien. Kolaborasi ini penting karena masalah fisik dan mental dapat muncul beriringan dalam perjalanan pengobatan.

Pemantauan berat badan, gula darah, tekanan darah, dan profil lipid secara rutin dapat membantu mendeteksi risiko penyakit kronis lebih awal. Langkah tersebut memungkinkan penanganan yang lebih optimal sebelum gangguan metabolik berkembang lebih jauh.

Di Indonesia, isu ini relevan di tengah peningkatan kasus obesitas dan diabetes serta berkembangnya layanan kesehatan jiwa yang lebih menyeluruh. Perhatian terhadap kesehatan metabolik dapat menjadi bagian penting dari upaya menjaga kualitas hidup pasien.

Semaglutide di Indonesia dipasarkan Novo Nordisk melalui Ozempic untuk diabetes melitus tipe 2 dan Wegovy untuk manajemen berat badan sesuai indikasi yang disetujui. Kedua produk tersebut merupakan obat resep yang penggunaannya memerlukan penilaian dokter.

Penelitian ini memiliki keterbatasan karena berlangsung selama 30 minggu dan hanya melibatkan kelompok pasien tertentu. Meski begitu, hasilnya menegaskan bahwa keberhasilan perawatan skizofrenia juga berkaitan dengan pengelolaan kesehatan metabolik secara teratur dan terpadu.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait