6 Kebiasaan Sederhana agar Anak Tetap Berempati saat Dunia Terasa Mengkhawatirkan

Author: Qoo Media

Dunia digital, berita tentang konflik, kekerasan, dan bencana dapat membuat anak merasa bingung terhadap keadaan di sekitarnya. Di tengah situasi itu, empati dan welas asih menjadi bekal penting agar anak mampu memahami orang lain tanpa kehilangan rasa aman.

Mengajarkan kepedulian tidak harus dimulai lewat tindakan besar atau pembicaraan yang berat. Kebiasaan kecil di rumah dapat membantu anak belajar mengenali perasaan, bersyukur, serta tergerak membantu sesama.

Psikolog anak di Sunset Terrace Family Health Center NYU Langone, Joseph Laino, menilai empati, kasih sayang, dan kemurahan hati tidak berlawanan dengan kemampuan akademis. Menurutnya, keterampilan tersebut justru dapat saling memperkuat dalam perkembangan anak.

Anak yang lebih kooperatif dengan guru dan teman sebaya berpeluang memperoleh pengalaman belajar yang lebih memuaskan. Perhatian terhadap orang lain juga dapat membuat anak merasa lebih tenang, mampu, dan memiliki tujuan.

Ringkasan kebiasaan yang bisa dibangun di rumah

No. Kebiasaan Fokus yang dibangun
1 Menunjukkan kebaikan sejak dini Isyarat emosional dan cara memperlakukan orang lain
2 Membacakan cerita sesuai usia Kemampuan melihat sudut pandang orang lain
3 Membahas masalah dunia dengan tenang Rasa aman dan pemahaman sesuai usia
4 Mengenali keistimewaan yang dimiliki Rasa syukur terhadap kehidupan yang damai dan aman
5 Membuka ruang percakapan rutin Keberanian bertanya dan rasa aman dalam keluarga
6 Mendorong tindakan baik Keterhubungan, percaya diri, dan tujuan hidup

1. Tunjukkan kebaikan sejak dini

Welas asih dapat mulai dikenalkan bahkan sebelum anak mampu berbicara. Bayi sudah menyerap isyarat emosional dari kelembutan suara, ekspresi wajah, dan respons orang tua ketika menghadapi orang lain yang sedang kesal.

Pengamatan awal itu menjadi semacam cetak biru internal tentang cara manusia memperlakukan satu sama lain. Karena itu, sikap sabar dan hangat yang terlihat dalam keseharian punya arti penting bagi anak.

2. Beri anak cerita yang sesuai usia

Cerita dapat menjadi jalan aman bagi anak untuk membayangkan kehidupan dari sudut pandang orang lain. Buku bergambar mengenai pengungsian, migrasi, atau konflik bisa memperkenalkan ketahanan, keluarga, dan kelangsungan hidup tanpa membuat mereka patah semangat.

Setelah membaca, orang tua dapat mengajak anak membicarakan perasaan mereka terhadap cerita tersebut. Pertanyaan sederhana tentang tokoh atau kejadian dalam buku dapat membuka ruang untuk memahami emosi orang lain.

3. Ceritakan masalah dunia tanpa membuat anak takut

Anak dapat menangkap informasi tentang krisis dari teman sekolah, televisi, atau percakapan orang dewasa. Orang tua perlu membantu menjelaskan keadaan itu agar anak tidak mengisi kekosongan informasi dengan rasa takut.

Tim komunikasi UNHCR Andrea Mucino-Sanchez menyarankan penjelasan yang singkat dan sesuai usia, dengan fokus pada keselamatan, keadilan, serta orang-orang yang memberi bantuan. Ia mencontohkan penjelasan bahwa beberapa keluarga terpaksa meninggalkan rumah karena tidak aman, tetapi banyak orang di dunia berusaha menolong mereka.

4. Akui keistimewaan yang dimiliki anak

Anak perlu memahami bahwa tidak semua anak tumbuh dalam kondisi damai dan aman. Kesadaran ini bukan untuk membuat mereka merasa bersalah, melainkan agar mereka dapat mengenali hal-hal baik yang dimiliki.

Rasa syukur dapat tumbuh ketika anak memahami bahwa keamanan dan kedamaian bukan pengalaman yang sama bagi semua orang. Menurut Mucino-Sanchez, orang tua dapat mendorong anak untuk bersyukur atas kondisi tersebut.

5. Ciptakan ruang percakapan yang rutin

Empati tumbuh dalam ritme sederhana keluarga, termasuk saat makan bersama atau menghabiskan waktu di rumah. Percakapan rutin memberi anak kesempatan untuk mengajukan pertanyaan besar maupun kekhawatiran kecil tentang hal yang mereka lihat.

Anak mungkin bertanya mengapa seseorang dalam berita menangis atau mengapa sebuah keluarga harus pergi dari rumahnya. Ketika pembicaraan seperti ini dilakukan secara teratur, anak dapat melihat orang tua sebagai penuntun yang aman saat dunia terasa membingungkan.

6. Dorong anak untuk bertindak baik

Kepedulian akan terasa lebih nyata ketika anak diberi kesempatan melakukan tindakan sederhana untuk orang lain. Membuat kartu ucapan bagi tetangga yang sedang kesulitan atau memilih mainan, buku, dan pakaian untuk disumbangkan dapat menjadi langkah awal.

Laino menyatakan bahwa memberi, berbuat baik, dan peduli pada orang lain dapat meningkatkan rasa percaya diri serta memberi anak rasa tujuan hidup. Kebiasaan kecil itu membantu anak memahami bahwa mereka tetap bisa membawa kebaikan, bahkan ketika dunia di sekelilingnya terasa rapuh.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru