Meisya Siregar memaknai insiden putra bungsunya, Muhammad Bambang Arr Ray Bach, yang nyaris tenggelam setelah terseret ombak besar di Bali sebagai teguran dari Allah. Peristiwa itu membuatnya menilai ada hal yang perlu dibenahi dalam dirinya bersama sang suami, Bebi Romeo.
Alih-alih hanya melihat kejadian tersebut sebagai musibah saat liburan, Meisya mengambil pelajaran tentang kewaspadaan orang tua. Ia merasa pengalaman itu mengingatkan keluarga agar tidak merasa sudah cukup maksimal dalam menjaga anak.
Menurut Meisya, suasana liburan bisa membuat rutinitas yang biasa dijalankan menjadi terlewat. Ia juga menyebut kemungkinan adanya kelalaian selama berada di Bali yang kemudian ia renungkan sebagai bahan evaluasi pribadi.
“Mungkin selama liburan di sana aku banyak lalai. Namanya lagi di Bali, liburan, mungkin amalan yang biasanya dikerjain jadi kelewat, atau ada syubhat-syubhat yang dikerjain,” ujar Meisya.
Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut dianggapnya sebagai teguran yang ditujukan kepada dirinya dan Bebi Romeo. Bagi Meisya, peristiwa itu bukan alasan untuk menyalahkan anak, melainkan kesempatan untuk memperbaiki peran sebagai orang tua.
Pengingat untuk Tidak Lengah
Meisya mengatakan orang tua kadang merasa telah memberikan segalanya untuk anak-anak mereka. Namun, kejadian yang dialami Bambang membuat perempuan berusia 47 tahun itu menyadari bahwa upaya tersebut tetap memiliki kekurangan.
“Kadang kita merasa udah jor-joran buat anak, ngerasa udah maksimal. Tapi dengan kejadian ini, aku merasa apa yang kita lakukan itu masih banyak kurangnya, masih banyak nggak sempurnanya,” tuturnya.
Ia pun memilih menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran untuk berbenah. Meisya menilai kesempatan yang diberikan setelah insiden tersebut perlu dimaknai dengan lebih hati-hati, terutama dalam pengawasan anak ketika berada di area laut.
Pernyataan itu disampaikan Meisya saat menjadi bintang tamu dalam program Pagi-pagi Ambyar di Trans TV, Studio Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, pada Senin (20/7/2026). Keterangan Meisya mengenai insiden tersebut juga dimuat hot.detik.com.
Sempat Khawatir Bambang Trauma
Setelah putranya terseret ombak, kekhawatiran Meisya tidak berhenti pada kondisi fisik Bambang. Ia sempat memikirkan kemungkinan anaknya mengalami trauma terhadap pantai dan aktivitas laut.
Kekhawatiran itu muncul karena Bambang dikenal sangat menyukai pantai serta olahraga air. Meisya bahkan sempat membayangkan putranya tidak lagi ingin menginjak pantai setelah kejadian tersebut.
Namun, kondisi Bambang disebut cepat membaik pada keesokan harinya. Meisya mengatakan putranya sudah kembali tenang dan justru mengajak bermain ke pantai lagi.
Respons itu membuat Meisya semakin merasa bahwa pesan utama dari peristiwa tersebut ditujukan kepada dirinya dan Bebi Romeo. Ia menilai Bambang tidak menunjukkan dampak trauma, sementara orang tuanya mendapat pengingat agar tidak lengah saat melepas anak beraktivitas.
“Memang kayaknya yang mau ditegur sama Allah itu orang tuanya, bukan anaknya,” kata Meisya. Ia menekankan bahwa insiden itu menjadi pengingat penting untuk tidak bersikap sombong atau terlalu merasa aman ketika membiarkan anak berada di laut.
