Pizza memang mudah membuat orang makan lebih dari satu potong dalam sekali duduk. Namun, kombinasi keju, daging olahan, dan porsi besar dapat membuat asupan lemak jenuh serta kalori meningkat tanpa banyak disadari.
Risiko tersebut terutama perlu diperhatikan oleh orang yang rutin mengonsumsi pizza dengan topping pepperoni, sosis, bacon, atau keju ekstra. Pola makan tinggi lemak jenuh berkaitan dengan kenaikan kolesterol LDL, yang kerap disebut sebagai kolesterol “jahat”.
Dua Potong Pizza Bisa Mendekati Batas Harian
Satu potong pizza keju dapat mengandung sekitar 5 gram lemak jenuh. Angka ini bisa naik ketika pizza diberi tambahan daging olahan atau keju dalam jumlah lebih banyak.
American Heart Association merekomendasikan pembatasan lemak jenuh sekitar 6% dari total kalori harian. Pada pola makan 2.000 kalori, jumlah tersebut setara kira-kira 12 gram lemak jenuh per hari.
Artinya, dua potong pizza keju saja sudah dapat mendekati batas asupan lemak jenuh yang dianjurkan dalam sehari. Bila menu itu disertai topping tinggi lemak jenuh, total asupannya dapat menjadi lebih besar.
3 Alasan Pizza Perlu Dikonsumsi dengan Porsi Terkendali
1. Lemak Jenuh Dapat Memengaruhi Kolesterol LDL
Pola makan tinggi lemak jenuh dapat menghambat kemampuan tubuh membersihkan kolesterol LDL dari aliran darah. Kondisi ini juga dapat meningkatkan produksi kolesterol oleh tubuh sehingga kadarnya berpotensi naik.
Ahli gizi Morgan Walker, M.S., RD, LDN, menyebut lemak jenuh dari daging olahan seperti pepperoni dan sosis menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Topping tersebut sering dipilih bersama keju, sehingga kandungan lemak jenuh dalam satu porsi pizza dapat bertambah.
2. Pizza Mudah Dimakan dalam Porsi Besar
Pizza dapat membuat seseorang menyantap beberapa potong sekaligus karena rasanya yang gurih dan mengenyangkan. Kebiasaan makan dalam porsi besar secara rutin dapat meningkatkan akumulasi kalori dan lemak jenuh dari waktu ke waktu.
Walker menjelaskan bahwa konsumsi pizza dalam jumlah besar secara rutin, khususnya yang kaya daging olahan dan keju, dapat memengaruhi kadar kolesterol serta risiko kardiovaskular secara keseluruhan. Karena itu, ukuran porsi menjadi faktor penting, bukan hanya jenis pizza yang dipilih.
3. Adonan Umumnya Berasal dari Biji-bijian Olahan
Adonan pizza umumnya dibuat dari tepung terigu putih yang diperkaya nutrisi, tetapi tidak mengandung banyak serat. Jika makanan berbahan biji-bijian olahan terlalu sering dikonsumsi, asupan biji-bijian utuh dapat tidak memenuhi jumlah yang dianjurkan.
Serat dalam pola makan berperan dalam menjaga kesehatan pencernaan dan membantu mengurangi kadar kolesterol tinggi. Pola makan kaya serat juga dikaitkan dengan penurunan risiko kanker usus besar.
Kandungan Kolesterol dan Lemak dalam Beberapa Jenis Pizza
Data U.S. Department of Agriculture yang dikutip oleh Medical News Today menunjukkan kandungan kolesterol dan lemak total pizza dapat berbeda menurut jenis kerak serta toppingnya. Berikut gambaran kandungan per 100 gram pada beberapa pilihan pizza.
| Jenis Pizza | Kolesterol | Lemak Total |
|---|---|---|
| Keju, thin crust | 29,7 mg | 12,8 gram |
| Keju, regular crust | 17,7 mg | 10,4 gram |
| Keju, thick crust | 18,6 mg | 11,3 gram |
| Pepperoni, regular crust | 25,8 mg | 12,6 gram |
| Pepperoni, thick crust | 23,5 mg | 13,1 gram |
Untuk ukuran per ons, mozzarella diperkirakan mengandung 3,2 gram lemak jenuh dan 18 mg kolesterol. Pepperoni mengandung sekitar 5 gram lemak jenuh serta 27 mg kolesterol, sedangkan daging giling mengandung 1,7 gram lemak jenuh dan 25 mg kolesterol.
Berbeda dengan topping daging dan keju, paprika, jamur, bawang bombay, serta tomat tidak mengandung kolesterol. Alternatif daging nabati juga disebut tidak mengandung kolesterol.
Pizza Tidak Harus Dihindari Sepenuhnya
Ahli gizi Chris Mohr, Ph.D., RD, menilai masalahnya bukan semata-mata pada pizza, melainkan pada konsistensi asupan dan makanan lain yang dikonsumsi sehari-hari. Menyantap pizza keju stuffed crust bersama soda setiap malam tentu berbeda dengan makan satu atau dua potong pizza disertai salad seminggu sekali.
Pola makan sehari-hari yang kaya buah, sayuran, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, ikan berlemak, dan lemak tak jenuh dapat membantu menjaga pola makan tetap seimbang. Dalam konteks itu, menikmati pizza dalam porsi wajar masih dapat menjadi bagian dari pilihan makan tanpa mengabaikan perhatian terhadap kolesterol LDL dan lemak jenuh.
