Sakit kepala yang muncul menjelang atau saat menstruasi sering dialami oleh banyak perempuan. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena ada berbagai faktor biologis yang menjadi penyebab utamanya.
Fenomena ini dikenal sebagai menstrual headache atau migraine menstruasi. Data The Journal of Headache and Pain menyebutkan hampir sepertiga perempuan mengalami sakit kepala yang berkaitan langsung dengan siklus haid mereka.
1. Penurunan Hormon Estrogen Secara Drastis
Menjelang menstruasi, kadar hormon estrogen dalam tubuh menurun tajam. Penurunan ini dapat memengaruhi sistem saraf pusat dan memicu migrain, sebagaimana dijelaskan oleh teori "penarikan estrogen" dalam studi The Journal of Headache and Pain.
Hormon estrogen mengatur serotonin yang mempengaruhi suasana hati dan persepsi nyeri. Penurunan estrogen menyebabkan serotonin menurun, lalu melepaskan CGRP, zat yang menimbulkan peradangan dan pelebaran pembuluh darah di otak sehingga terasa sakit kepala berdenyut.
2. Pelepasan Prostaglandin dari Rahim
Pada awal menstruasi, tubuh melepaskan prostaglandin yang bertugas merangsang kontraksi otot rahim agar darah keluar. Namun, kadar prostaglandin yang tinggi juga dapat menyebabkan pembuluh darah di otak berkontraksi dan melebar bergantian.
Efek ini memicu sakit kepala yang sering menyertai nyeri perut dan punggung. Melbourne Headache Centre menjelaskan hubungan erat antara prostaglandin dan sakit kepala menstruasi.
3. Sensitivitas Sistem Saraf dan Trigeminus
Sistem saraf trigeminus yang bertugas menyalurkan sinyal nyeri di kepala dan wajah menjadi lebih sensitif selama haid. Studi dari Berlin Institute of Health menemukan kadar CGRP meningkat pada perempuan yang mengalami migrain haid.
Akibatnya, pemicu ringan seperti cahaya terang dan stres dapat langsung menimbulkan sakit kepala, membuat perempuan lebih rentan mengalami migrain saat menstruasi.
4. Penurunan Hormon Progesteron dan Serotonin
Selain estrogen, kadar progesteron juga menurun sebelum datangnya haid. Progesteron berfungsi menenangkan sistem saraf, dan saat kadarnya turun, efektivitas sistem penghambat nyeri berkurang.
Menurut Melbourne Headache Centre, perubahan hormon ini menurunkan serotonin, dopamin, dan neurotransmitter lain yang berperan dalam kestabilan emosional. Ini sebabnya sakit kepala saat haid sering disertai perubahan suasana hati seperti cemas dan mudah marah.
5. Anemia dan Kekurangan Zat Besi
Menstruasi berat bisa menyebabkan kehilangan darah signifikan dan menurunkan kadar zat besi. Kondisi ini memicu anemia defisiensi besi yang ditandai dengan pusing, kelelahan, dan sakit kepala.
Verywell Health menyebut anemia bisa mengurangi suplai oksigen ke otak, memperparah gejala sakit kepala atau meningkatkan frekuensi migrain selama haid.
6. Faktor Eksternal yang Memperparah Gejala
Faktor gaya hidup seperti kurang tidur, stres tinggi, konsumsi kafein berlebihan, dehidrasi, dan perubahan pola makan dapat memperkuat sakit kepala saat haid.
Allure Health Report mencatat perempuan dengan gaya hidup tidak teratur lebih rentan terhadap migrain haid karena tubuh kesulitan menyesuaikan fluktuasi hormon.
Cara Mengatasi Sakit Kepala Saat Haid
Langkah pencegahan dapat membantu mengurangi frekuensi dan intensitas sakit kepala saat menstruasi, antara lain:
- Catat pola sakit kepala agar mudah memprediksi kemunculannya.
- Hindari alkohol dan kafein menjelang haid.
- Jaga pola tidur, konsumsi makanan teratur, dan cukup minum air.
- Gunakan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen atas rekomendasi dokter.
- Konsultasikan ke dokter bila sakit kepala berat atau disertai gangguan penglihatan.
Sakit kepala saat menstruasi merupakan respons kompleks tubuh terhadap perubahan hormon dan sensitivitas sistem saraf. Pemahaman yang tepat tentang penyebabnya dapat membantu perempuan mengambil langkah yang efektif untuk mengelola kondisi ini sehingga siklus haid terasa lebih nyaman dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.





