Harga Daging Ayam Ras Tinggi Dorong Inflasi Jawa Tengah Januari 2026 Mencapai 2,83%

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat inflasi tahunan pada Januari sebesar 2,83 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,60. Kenaikan harga daging ayam ras menjadi salah satu faktor utama yang memicu tekanan inflasi di wilayah ini.

Harga daging ayam ras di pasar tradisional, seperti Pasar Peterongan Semarang, mengalami lonjakan signifikan. Data BPS menunjukkan harga daging ayam ras naik cukup drastis, sehingga turut berkontribusi terhadap peningkatan biaya hidup masyarakat.

Dampak Kenaikan Harga Daging Ayam Ras

Daging ayam ras merupakan salah satu bahan pangan pokok yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Jawa Tengah. Kenaikan harganya berdampak langsung pada daya beli konsumen. Para pedagang di pasar mengaku kesulitan menstabilkan harga karena pasokan ayam terbatas dan biaya produksi meningkat.

Selain daging ayam ras, komoditas pangan lain seperti minyak goreng dan beras juga mengalami kenaikan harga. Kenaikan harga ini terjadi hampir merata di seluruh kabupaten di Jawa Tengah dan berkontribusi pada inflasi umum. Hal tersebut membuat inflasi yang tercatat melebihi angka inflasi rata-rata nasional.

Faktor Penyebab Kenaikan Harga

Menurut pengamatan BPS, beberapa faktor yang menyebabkan harga daging ayam ras meningkat antara lain adalah gangguan distribusi dan kenaikan biaya pakan ternak. Harga jagung sebagai bahan pakan utama ayam juga melonjak, sehingga memicu kenaikan harga jual ayam di pasar konsumen.

Faktor cuaca dan kondisi peternakan yang belum stabil turut memperparah ketidakpastian pasokan ayam. Meski demikian, pemerintah daerah terus mengupayakan langkah-langkah pengendalian administrasi untuk menekan lonjakan harga.

Langkah-Langkah Pengendalian Harga

Berikut ini langkah yang disiapkan untuk mengendalikan inflasi bahan pangan, khususnya harga daging ayam ras:

  1. Memperkuat rantai distribusi ayam agar pasokan tidak terganggu.
  2. Meningkatkan ketersediaan pakan ternak dengan stabilisasi harga bahan baku.
  3. Melakukan pengawasan ketat terhadap pedagang agar tidak terjadi spekulasi harga.
  4. Menyediakan stok cadangan pangan di pasar tradisional dan modern.
  5. Mendorong kerja sama antara peternak dan pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi unggas.

Kondisi Pasar dan Respon Konsumen

Di Pasar Peterongan dan beberapa pasar tradisional lainnya, para pedagang merasa kenaikan harga daging ayam ras cukup membebani. Namun demikian, konsumen masih tetap memburu daging ayam sebagai kebutuhan utama, meskipun harus menyesuaikan pengeluaran harian.

Masyarakat di sejumlah daerah di Jawa Tengah mulai beralih ke sumber protein alternatif untuk mengantisipasi biaya pangan yang semakin tinggi. Konsumsi daging sapi dan ikan naik sedikit sebagai substitusi, meski belum dapat menggantikan secara penuh kebutuhan protein dari ayam ras.

Kenaikan harga daging ayam ras menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk memperbaiki sistem produksi dan distribusi. Stabilitas harga komoditas ini perlu dijaga agar inflasi tidak terus meningkat dan memberatkan masyarakat luas di Jawa Tengah.

Baca selengkapnya di: www.tempo.co
Terkait