Harga Pangan Jelang Ramadhan di Bandung Naik, Warga Jenuh Hadapi Masalah Berkepanjangan

Sejumlah komoditas pangan penting menunjukkan tren kenaikan harga di pasar tradisional Kota Bandung menjelang Ramadhan. Harga telur, cabai rawit, dan bawang merah dilaporkan naik signifikan, memicu keluhan dari pedagang dan konsumen yang sudah jenuh dengan masalah ini yang kerap berulang.

Pantauan di Pasar Kosambi, salah satu pasar termasyhur di Bandung, harga telur melonjak dari Rp 28.000 menjadi Rp 29.000 per kilogram. Sementara itu, bawang merah naik dari Rp 40.000 menjadi Rp 45.000 per kilogram. Kenaikan paling drastis terjadi pada cabai rawit yang dua kali lipat naik dari Rp 40.000 menjadi Rp 80.000 per kilogram.

Komoditas beras juga mengalami kenaikan harga meskipun tidak terlalu besar, yaitu berkisar antara Rp 100 hingga Rp 300 per kilogram. Harga beras non-Bulog berada di rentang Rp 14.000 hingga Rp 18.000 per kilogram. Kenaikan dengan magnitudo seperti ini memberi tekanan tambahan bagi daya beli masyarakat.

Seorang pedagang cabai rawit di Pasar Kosambi, Eli Anita (60), mengatakan kenaikan harga bahan pangan jelang perayaan agama selalu sangat mencolok dan membebani konsumen. Ia menilai pasokan yang terbatas sebagai faktor utama naiknya harga cabai rawit hingga 50 persen penurunan pembelian oleh konsumen.

Seorang pedagang telur bernama Eeng (52) menyampaikan bahwa kenaikan harga telur biasanya bertahap dan disebabkan oleh stok yang terbatas serta permintaan tinggi. Ia memperkirakan harga telur dapat tembus Rp 33.000 per kilogram dalam beberapa hari ke depan sebelum Ramadhan.

Keluhan serupa datang dari konsumen seperti Elma (30), ibu rumah tangga yang sering berbelanja di pasar tradisional. Dia menyebut isu kenaikan harga sembako merupakan masalah klasik yang belum juga terselesaikan. Kesabaran warga mulai terkikis, mengingat ini terjadi setiap menjelang hari raya keagamaan.

Pemantauan dan Upaya Pemerintah Kota Bandung

Pemerintah Kota Bandung memastikan harga kebutuhan pokok masih terkendali dan stabil meskipun terdapat beberapa fluktuasi. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa Dinas Perdagangan dan Perindustrian secara intensif memantau harga di pasar tradisional utama.

Farhan menambahkan bahwa kenaikan terutama terjadi pada beberapa komoditas sayuran seperti cabai akibat perubahan cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi. Namun, hal tersebut masih tergolong wajar dan belum menyebabkan lonjakan harga yang mengancam daya beli masyarakat.

Sebagai antisipasi sekaligus dukungan terhadap masyarakat, Pemkot Bandung akan menggelar bazar murah di 30 kecamatan. Bazar ini bertujuan untuk menjaga keterjangkauan harga sembako serta menekan potensi inflasi selama Ramadhan hingga Lebaran.

Menurut Farhan, bazar murah bukan sekadar kegiatan simbolis tapi merupakan upaya nyata untuk menjaga stabilitas harga konsumen. Dengan demikian, warga diharapkan dapat membeli kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.

Berbagai dinamika harga pangan di Kota Bandung menegaskan pentingnya peran pemerintah dan kerjasama semua pemangku kepentingan untuk mengatasi tantangan ini. Masalah yang berulang tersebut mengharuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran agar dampak beban kenaikan harga tidak semakin menekan masyarakat luas.

Baca selengkapnya di: www.kompas.id

Terkait