PT Kereta Api Indonesia (KAI) meningkatkan layanan kereta api untuk menunjang mobilitas masyarakat di kawasan aglomerasi Jawa Tengah. Langkah ini bertujuan memperkuat konektivitas antarkota, mendukung aktivitas ekonomi, serta memastikan kemudahan perjalanan harian bagi penumpang.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan bahwa mobilitas cenderung meningkat terutama pada akhir pekan dan masa libur di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tren ini tercermin dari pertumbuhan layanan kereta api perkotaan, lokal, serta kereta bandara yang terus mengalami peningkatan sepanjang Januari.
Peningkatan Mobilitas Berdasarkan Data BPS
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun lalu mencatat bahwa Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi dengan intensitas perjalanan komuter tinggi, terutama di koridor Semarang–Solo–Yogyakarta–Purwokerto. Aktivitas ekonomi, pendidikan, pariwisata, serta pelayanan publik yang terhubung menuntut perjalanan yang terjadwal, nyaman, dan mudah diakses.
KAI merespons kebutuhan ini dengan memperkuat layanan angkutan perkotaan sebagai bagian dari ekosistem mobilitas kawasan aglomerasi Jawa Tengah dan DIY. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah pelanggan yang semakin memilih kereta api sebagai moda transportasi utama.
Pertumbuhan Layanan Antarkota dan Bandara
KA Joglosemarkerto, layanan kereta dengan kelas eksekutif dan ekonomi New Generation, mencatatkan peningkatan pelanggan yang signifikan. Pada Januari, jumlah penumpang mencapai 110.409 orang, naik dari 97.929 pada periode sama tahun sebelumnya. Jalur lingkar Yogyakarta–Solo–Semarang–Purwokerto menjadi rute favorit untuk perjalanan keluarga dan wisata.
Kereta Api Bandara Adi Soemarmo (KA BIAS) juga memperlihatkan pertumbuhan positif dengan 74.102 pelanggan di bulan yang sama, naik dari 63.730 tahun sebelumnya. Layanan ini menghubungkan pusat Kota Solo ke wilayah Caruban dan Madiun, sekaligus mendukung kelancaran akses transportasi udara.
Sementara itu, Kereta Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) tetap stabil melayani 239.331 pelanggan, meningkat dari 229.716 pada Januari setahun sebelumnya. Layanan reguler dan Xpress memberikan pilihan sesuai kebutuhan perjalanan wisatawan maupun warga lokal.
Dominasi KRL dan Kereta Lokal di Mobilitas Harian
KRL Area VI Yogyakarta (Commuter Line Yogyakarta–Palur) menjadi tulang punggung mobilitas harian kawasan dengan frekuensi perjalanan antara 27-31 kali per hari. Pada Januari, layanan KRL ini melayani 758.375 pelanggan atau naik dari 712.152 pelanggan tahun sebelumnya. KRL menghubungkan 11 stasiun utama pada rute antara Yogyakarta, Klaten, hingga Solo Raya.
Kereta lokal seperti KA Prameks yang melayani rute Yogyakarta–Kutoarjo juga mengalami kenaikan jumlah penumpang, dari 86.973 menjadi 94.567 pengguna. Layanan ini kerap digunakan karena tarifnya yang terjangkau. KA Batara Kresna rute Purwosari–Wonogiri (PP) juga tumbuh dari 12.497 menjadi 16.294 pelanggan seiring peningkatan frekuensi perjalanan.
Anne Purba menegaskan bahwa peningkatan penggunaan kereta api mencerminkan posisi strategis angkutan rel dalam mengatasi kebutuhan mobilitas yang semakin dinamis di Jawa Tengah. "Kereta api menawarkan perjalanan yang lebih tertata, nyaman, dan mudah dijangkau. Dengan layanan saling terhubung, kereta tetap menjadi solusi utama bagi mobilitas masyarakat," ujarnya.
Secara keseluruhan, upaya KAI menghadirkan layanan kereta api yang variatif dan terpadu telah memperkuat mobilitas antarkota dan antar wilayah di Jawa Tengah serta DIY. Ini mendukung pertumbuhan ekonomi regional, sekaligus memudahkan aktivitas masyarakat mulai dari perjalanan sehari-hari hingga rekreasi dan perjalanan udara.
Baca selengkapnya di: jogja.antaranews.com




