NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah melakukan asesmen langsung di Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, untuk memetakan kebutuhan korban bencana tanah bergerak. Tim ini fokus pada korban di lingkungan Pondok Pesantren Al Adalah yang terdampak parah.
Tim asesmen terdiri dari Direktur NU Care-LAZISNU Jateng R Wibowo, Wakil Ketua LPBI PWNU Jateng Mukhlisin, Sekretaris LPBI PWNU Jateng Cucun Supredi, dan Wakil Sekretaris LP Ma’arif PWNU Jateng Fikri Sholakhuddin. Asesmen ini bertujuan mengetahui kondisi lapangan dan kebutuhan mendesak.
Kondisi Pondok Pesantren Al Adalah
Di Al Adalah 2, Desa Capar, hanya dua bangunan utama masih berfungsi yaitu rumah pengasuh dan gedung asrama putra-putri. Lantai dua asrama dihuni 234 santri putra dengan alas seadanya. Lantai satu difungsikan untuk ibadah sekaligus menjadi tempat asrama 292 santri putri. Sebagian santri putri juga menempati rumah pengasuh pesantren.
Pos Kesehatan dan Pos Dapur Umum telah dibuka untuk memenuhi kebutuhan makan 526 santri tiap hari. Lahan kosong di sekitar lokasi akan digunakan untuk pembangunan pesantren karena semua aktivitas dari Al Adalah 1 dipindahkan ke sini.
Di Al Adalah 1 Dusun Tigasari, Desa Padasari, situasinya sangat memprihatinkan. Dari 22 bangunan hanya tiga yang tersisa, namun tidak dapat difungsikan karena akses jalan terputus dan bangunan di sekitarnya roboh. Sebelumnya, kompleks ini memiliki enam bangunan SMA, sembilan bangunan SMP, dan satu PAUD.
Akses jalan menuju Al Adalah 1 rusak parah dan hanya bisa dilewati sampai Pos Pengungsian PCNU Kabupaten Tegal. Rute selanjutnya harus dilalui dengan sepeda motor karena jalan patah dan longsor. Kondisi ini sangat berbahaya dan memerlukan kewaspadaan ekstra.
Kebutuhan Mendesak Pendidikan
Akibat kerusakan total, proses belajar mengajar dipusatkan di Al Adalah 2 dengan kapasitas terbatas sehingga belum optimal. Pondok pesantren membutuhkan lahan seluas sekitar tiga hektare untuk pembangunan sarana baru. Dari kebutuhan tersebut, dua hektare masih belum ada kesepakatan harga dan sedang dicari donatur.
Selain lahan, dibutuhkan 15 ruang kelas belajar yang terdiri dari sembilan ruang SMP dan enam ruang SMA. Setiap ruang kelas dirancang berukuran 7 x 8 meter. Rencana pembangunan akan memanfaatkan material sisa seperti galvalum, baja ringan, pintu, dan jendela yang masih layak digunakan.
Banyak buku pelajaran, kitab, dan sarana belajar lainnya rusak atau tertimbun reruntuhan. Meja dan kursi sebagian besar juga tidak bisa digunakan lagi sehingga perlu segera diperbaiki atau diganti.
Langkah NU Peduli Kemanusiaan ini menunjukkan komitmen membantu korban bencana tanah bergerak dengan pendekatan data lapangan yang akurat dan kebutuhan nyata, terutama di sektor pendidikan yang terdampak parah. Pemulihan sarana dan prasarana pendidikan menjadi prioritas penting demi kelangsungan belajar para santri di lingkungan Pondok Pesantren Al Adalah.
Baca selengkapnya di: www.nu.or.id






