
Pemantauan hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa sore tidak menemukan keberadaan hilal. Aktivitas rukyatul hilal yang dilakukan di Planetarium Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo tersebut menggunakan empat teleskop, namun hasilnya tetap nihil.
Observasi dilakukan dengan metode bergantian, melibatkan tamu undangan dan petugas rukyat yang saling memastikan pengamatan hilal melalui alat teleskop. Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI, Slamet Hambali, menjelaskan secara astronomi hilal belum dapat terlihat karena ijtimak atau konjungsi bulan dan matahari belum terjadi saat pemantauan berlangsung.
Slamet menjelaskan bahwa pada sore tanggal 29 Syaban, posisi bulan masih berada di bawah ufuk hingga konjungsi terjadi pada pukul 19.01.08 WIB. Kondisi ini menyebabkan bulan terbenam lebih dahulu dari matahari, sehingga hilal tidak mungkin tampak di langit Semarang maupun wilayah Indonesia lainnya. Berdasarkan perhitungan tersebut, awal Ramadan 1447 Hijriah di Indonesia berpotensi jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026.
Penentuan awal Ramadan melalui pengamatan hilal tersebut diperkirakan akan sejalan dengan penetapan dari Arab Saudi. Namun, terdapat perbedaan dengan versi Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadan jatuh lebih awal pada Rabu, 18 Februari 2026. Perbedaan ini terjadi karena Muhammadiyah menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Berikut ringkasan faktor penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah:
1. Hilal tidak terlihat pada saat rukyatul hilal di Semarang dengan alasan ijtimak terjadi setelah matahari terbenam.
2. Perhitungan astronomi menunjukkan posisi bulan belum memungkinkan untuk terlihat di ufuk barat.
3. Penetapan awal Ramadan kemungkinan besar mengikuti kalender hisab dan rukyat Kementerian Agama dengan tanggal 19 Februari.
4. Versi Muhammadiyah memutuskan awal Ramadan lebih cepat dengan metode KHGT pada tanggal 18 Februari.
Pemantauan di Planetarium UIN Walisongo memperkuat fakta bahwa penetapan awal Ramadan memerlukan sinkronisasi antara metode hisab rukyat dan hasil pengamatan langsung. Kondisi langit dan waktu konjungsi menjadi faktor utama dalam menentukan jatuhnya bulan Ramadan.
Meski belum terlihat di Semarang, aspek ilmiah pengamatan hilal tetap menjadi landasan penting untuk penetapan kalender ibadah umat Islam. Pemerintah dan ormas Islam di Indonesia menggunakan berbagai metode, sehingga terkadang muncul perbedaan dalam penanggalan keagamaan.
Observasi hilal merupakan praktik rutin dalam kalender Islam untuk menjaga ketepatan awal bulan. Data dan penghitungan astronomi terkini terus mendukung keakuratan penentuan hari-hari spesial keagamaan seperti Ramadan.
Masyarakat diharapkan dapat mengikuti pengumuman resmi dari Kementerian Agama atau ormas Islam yang diyakini keabsahannya terkait penetapan awal Ramadan. Keputusan tersebut merujuk pada perpaduan antara hisab, rukyat, dan kesepakatan lembaga agama yang dijadikan rujukan nasional.
Dengan kondisi saat ini, warga di Kota Semarang dan daerah Indonesia lainnya dapat mempersiapkan ibadah puasa Ramadan secara menyesuaikan jadwal resmi. Hasil rukyatul hilal yang belum sukses mempertegas bahwa tanggal 19 Februari kemungkinan besar menjadi awal Ramadan 1447 Hijriah di Indonesia.
Baca selengkapnya di: jateng.jpnn.com




