Misi Dagang dan Investasi antara Provinsi Jawa Timur dan DKI Jakarta mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan nilai transaksi final mencapai Rp 5,7 triliun. Acara yang berlangsung di Ballroom Menara Peninsula Hotel Jakarta ini membukukan komitmen transaksi sebesar Rp 5.744.955.800.000 pada Senin, 2 Maret 2026.
Nilai transaksi tersebut mengalami lonjakan signifikan dibandingkan misi dagang serupa tahun 2021 yang hanya mencapai Rp 750,44 miliar. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa angka ini merupakan pencapaian tertinggi di antara 50 perjalanan misi dagang yang pernah dilakukan.
Khofifah menjelaskan, dari total transaksi, penjualan produk Jawa Timur ke DKI Jakarta mencapai Rp 5,61 triliun. Sementara pembelian dari Jakarta ke Jawa Timur tercatat sebesar Rp 129,6 miliar.
Komoditas unggulan Jawa Timur berhasil mendominasi perdagangan ini. Produk-produk tersebut meliputi daging unggas, anak ayam, ternak sapi, biji kopi, fillet ikan dori, aneka olahan seafood dan daging, susu, telur ayam, gula kristal putih, produk fashion, serta bumbu dapur.
Menurut Khofifah, angka transaksi luar biasa ini menjadi bukti sinergi kuat antara dua provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Kerja sama perdagangan dan investasi ini diharapkan dapat memperkuat konektivitas ekonomi nasional.
Adapun rincian pencapaian transaksi misi dagang Jatim-DKI Jakarta sebagai berikut:
1. Penjualan Jawa Timur ke DKI Jakarta: Rp 5,61 triliun
2. Pembelian dari DKI Jakarta ke Jawa Timur: Rp 129,6 miliar
3. Komoditas unggulan: daging unggas, ternak sapi, kopi, seafood, produk fashion, dan bumbu dapur
Misi dagang ini menunjukkan peluang besar bagi pelaku usaha regional untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan aktivitas ekonomi. Keberhasilan ini juga dapat dijadikan modal strategis dalam merancang program pengembangan ekonomi kedua provinsi ke depan.
Dengan pencapaian transaksi mencapai Rp 5,7 triliun, Misi Dagang dan Investasi Jatim-DKI Jakarta membuktikan efektivitas program kolaborasi lintas daerah dalam memperkuat perekonomian nasional. Penguatan sektor riil dan pengembangan pasar komoditas unggulan menjadi faktor utama mendorong keberhasilan tersebut.
